Tepung Poso

Aboeprijadi Santoso

Menyelesaikan kasus Poso pasti rumit. Menurut Ketua Muhammadyah Din 
Syamsuddin, sambil mengutip Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, solusi 
itu ibarat "menarik sehelai rambut dari dalam tepung tanpa membuat 
tatanan tepung itu porak poranda". 

Menjelang bertolak ke Eropa, Din Jumat 26 Jan. diundang SBY ke 
Istana. "Kasus Poso," ujar ketua ormas Muslim kedua terbesar di 
Indonesia itu mengungkap pertemuannya dengan SBY kepada Radio 
Nederland Wereldomroep, "harus diselesaikan dengan menegakkan hukum", 
namun aparat harus melaksanakannya secara cermat. Artinya, "jangan 
menyerang lambang-lambang agama dan institusi seperti masjid dan 
pesantren." (Ini terjadi dalam serbuan di Poso 22 Jan. yl.)

Selain itu, jangan pula "gebrah uyah", menggebrak sembarangan, tapi 
harus menyaring dengan baik unsur-unsur yang harus ditindak hukum. 
SBY, masih menurut Din, sependapat dan menunjuk perlunya langkah-
langkah yang memiliki presisi dalam menetapkan sasaran. Karena itu, 
dalam metafora SBY, solusi itu seperti "menarik rambut dari tepung".

Kasus Poso kompleks dan sarat risiko. Konflik antar komuniti agama 
pecah sejak 1998 sampai Kesepakatan Malino I pada 2001. Mirip konflik 
Ambon di masa lalu, awalnya adalah pertikaian antar elite lokal 
seputar sumberdaya-sumberdaya lokal, yang meledakkan sentimen-
sentimen religius-komunal dan mengundang campur tangan luar. Tapi di 
Poso, konflik berkepanjangan, dan terpusat pada pada sejumlah tokoh 
kunci kedua ummat, termasuk para penandatangan Malino I. 

Sejumlah insiden keji, termasuk pemenggalan kepala dua gadis Kristen 
Okt. yl, pembunuhan pendeta, kepala desa, jaksa, dan isu eksekusi 
Tibo dkk. membuat bara Poso tahun silam tetap panas. Polisi gagal 
meringkus 16 tokoh yang disebut Tibo sebagai dalang, tapi memusatkan 
perhatian pada 29 buron DPO (Daftar Pencarian Orang), yang 
bertanggungjawab atas rangkaian kekerasan tsb. Ini pun tak banyak 
hasilnya. Akhirnya, 8 bulan operasi bujuk (persuasif) dan 3 bulan 
persiapan operasi hajar (represif) bermuara pada pertumpahan darah di 
kawasan Tanah Runtuh, Gebang Rejo, Poso.
 
Gebrakan 11 dan 22 Januari itu mengungkap kenyataan bumi dan struktur 
sosial seperti apa sesungguhnya ajang Poso. Mustahil melakukan apa 
yang disebut 'metode babi hutan', yang menyeruduk dan keluar melalui 
jalan yang sama, tetapi, 'metode serbuan kucing gesit' pun, menurut 
dugaan Komnas HAM, menghasilkan pelangggaran HAM berat.

Baku tembak di Tanah Runtuh yang menewaskan 14 korban itu mengungkap 
dua hal penting. Pertama, kelompok bersenjata Muslim itu telah 
menyatu dan mendapat dukungan sebagian – cukup banyak - masyarakat 
lokal. Kedua, mereka memiliki senjata rakitan mau pun senpi lengkap 
dengan amunisi. Jumlah ribuan itu mengejutkan publik mau pun pihak 
berwajib. Bagaimana mungkin senjata berlimpah itu lolos, dan amunisi 
dapat dipasok masuk kabupaten yang dijaga ketat selama bertahun-
tahun? Seolah mengantisipasi operasi satuan anti-teror Detsus 
(detasemen-khusus) 88 dan Brimob Polda Sulteng?

Walhasil, kedua insiden itu telah mirip perang saudara dan 
menciptakan antagonisme lokal yang semakin tajam. Kekerasan, via 
dendam, berternak kekerasan. Peristiwa 22 Januari bisa menjadi cause 
celebre baru yang mengalihkan konflik horisontal menjadi vertikal. 
Abu Bakar Ba'asyir, sesepuh dan pendiri J.I. (Jemaah Islamiyah), 
kontan mengungkap ancaman-nya. "Jangan tunggu itu akan terjadi di 
mana-mana!" peringatnya, yang segera disusul demo demo di Sala yang 
menuntut penarikan Detsus 88. Laskar Jihad, yang katanya sudah bubar, 
kembali di sisi tentara dan memperingatkan anak buah Ba'asyir, lalu 
segera menuju Poso. 

Tak kurang Wapres Jusuf Kalla berkomentar, "kalau semua tersangka 
ditangkap, penjara bisa penuh". Ketika dua pentolan kelompok 
bersenjata Poso, Basri dan Ardin, ditangkap, Mabes Polri mengakui, 
itu dilakukan "tanpa bantuan masyarakat". 

Jadi, Poso bukan lagi sepanci tepung yang cuma terganggu oleh sehelai 
rambut.

Pak Presiden dan Pak Din, Anda pantas menyikapi kasus Poso dengan 
berhati-hati, tapi laporan-laporan pers menunjuk pada ajang yang jauh 
lebih gawat ketimbang yang tergambar dalam metafora Anda - ajang yang 
kini memasuki tahun kesembilan, yang dibiarkan membara selagi sekam 
itu berakar bagaikan rambut ruwet bersangkar di dalam tepung yang 
mustahil dibersihkan tanpa mengusik tepung itu.

Ajang Poso adalah semacam Ambon dalam skala kecil. Dengan civil 
society yang lemah (dibanding di Aceh dan kota kota di Jawa), di situ 
elite berkemelut dan tentara terlibat. Tetapi Poso juga berkembang 
menjadi pusat latihan kemiliteran bagi kelompok Muslim radikal yang 
terkait perang di Afghanistan dan Mindanao, Filipina Selatan. 
Kerusuhan Ambon dapat diselesaikan melalui  gebrakan Yon Gab 
(batalyon gabungan) dari macam-macam satuan dari luar Maluku yang tak 
terkait sentimen-sentimen primordial lokal. Masih ingat serangan ke 
asrama Brimob di kota Ambon dengan roket-roket yang hanya dimiliki 
oleh satuan tertentu – Kopassus atau Kostrad - yang kemudian memacu 
mobilisasi Yon Gab? Inilah yang belum atau tidak terjadi di Poso.

Di Den Haag, dalam tabliq akbar dengan Muhammadiyah Cabang Belanda 
pekan silam (28 Jan. yl.), Din Syamsuddin mengingatkan bahwa 
organisasi Jemaah Islamiyah itu "tidak ada." Yang ada adalah "anjuran 
Nabi (Muhammad s.a.w.) agar (ummatnya) membentuk al Jemaah al 
Islamiyah" (ummah).Jadi, simpul Din, "biarkan dia (George Bush, "si 
pemain kuda lumping" itu) berbicara tentang `war on terror', kita 
cuek dan santai santai saja". 

Tak peduli akan kampanye Bush itu mutlak sah-sah saja, tapi Din tidak 
menyebut bahwa Jema'ah Islamiyah yang malang melintang di Asia telah 
membajak konsep "ummah" tsb. Jadi, apa mungkin orang menatap Poso 
dengan "cuek dan santai-santai saja"?


Digubah dari Kolom Ahad Aboeprijadi Santoso 4 Feb. 2007: 
http://www.ranesi.nl/tema/temahukdanham/Tepung_Poso070202

http://www.ranesi.nl

Kasus Poso, Terbaru: 

Senator AS Obama Undang Pendeta Damanik Untuk Jelaskan Kasus Poso:
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/tokoh_kristen_ke_
as070202

Menko Polkam Widodo AS: "Polisi Tidak Langgar HAM di Poso"
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/Polisi_poso070131

Anda Berbicara: Kelompok Sipil Bersenjata, Perlu Ditumpas?
http://www.ranesi.nl/tema/anda_bicara_061206/kekekerasan_bersenjata_po
so

Pembentukan Tim Penasihat Keislaman Inggris-Indonesia
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/membereskan_poso0
70129

George Aditjondro: Mencari Akar Poso Berdarah
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/mencari_akar_poso
070124

Sidney Jones: "Jemaah Islamiyah Juga Aktif di Poso"
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/JI_di_poso070123

Anto Sangaji: "Represi Militer Ancam Status Poso Jadi Wilayah Darurat"
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/represi_militer_d
i_poso070122

Liputan: Konflik dan Perdamaian di Poso
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/Konflik_Poso_0612
21



Kirim email ke