Diantara Mekah dan Madinah
   
  Oleh : Christoph Heinzle dari Berlin
   
   
  Arab Saudi bertindak sebagai penengah dalam konflik Timur Tengah. Sebagai 
sesama kaum Muslim, Hamas dan Fatah diimbau menghentikan perseteruan.
   
  Raja Abdulah yang senang disebut sebagai 'Pelindung Dua Kota Suci' 
menggunakan senjata ampuhnya. Ia mengingatkan kaum Muslim akan akarnya, yang 
terletak di padang pasir di kerajaannya, di Mekkah dan Madinah. Di sinilah 
terletak perbedaan tawaran perundingannya kepada pihak yang bertikai di 
Palestina, dibandingkan dengan sejumlah pertemuan sebelumnya di Palestina dan 
Mesir. Kali ini kelompok Fatah dan Hamas diharapkan berdamai sebagai sesama 
kaum Muslim, karena seperti yang dikutip Raja Abdulah dalam suratnya akhir 
pekan lalu, "barang siapa yang membunuh saudara seiman, maka ia akan masuk 
neraka.“ 
   
  Selama ini keterlibatan Arab Saudi tidak pernah segencar Yordania atau Mesir. 
Tetapi saran-sarannya lebih tahan lama. Contohnya rencana perdamaian Arab Saudi 
yang dipaparkan oleh Raja Abdulah, yang dulu masih sebagai putra mahkota, dalam 
pertemuan Liga Arab tahun 2002. Inisiatif ini merupakan satu-satunya rencana 
perdamaian yang dapat dianggap serius dalam 10 tahun terakhir. Rencana ini 
menjanjikan pengakuan eksistensi Israel jika Negara Yahudi ini mundur ke 
perbatasan tahun 1967 dan memberikan kesempatan untuk didirikannya sebuah 
Negara Palestina. 
   
  Tawaran yang sangat murah hati juga diberikan oleh Arab Saudi baru-baru ini 
dalam konfrensi donor di Paris, yaitu bantuan satu milyar Dolar untuk 
pembangunan kembali Libanon. Kerajaan Arab Saudi yang mejalankan aliran Sunni 
yang ketat, menikmati reputasi yang tinggi diantara kaum Muslim di 
negara-negara Arab, yaitu sebagai pemegang ideologi dan donor keuangan. 
   
  Hal ini juga mendapat kualitas baru sejak dimulainya pengaruh Syiah di 
wilayah itu akibat perubahan kekuasaan di Irak. Dinasti kerajaan Arab Saudi 
mengamati hal ini dengan rasa iri. Raja Abdulah kepada sebuah koran di Kuwait 
mengatakan, bahwa setiap percobaan syiar keagamaan kelompok Syiah harus 
digagalkan. 
   
  Lebih lanjut dikatakannya, "Kaum Sunni akan selalu memegang mayoritas di 
dunia Islam."
   
  Meskipun demikian, Raja Abdullah juga berharap adanya rujuk sejarak antara 
Sunni dan Syiah.
   
  Akibat ketegangan aliran agama di Irak dan percobaan penggulingan kekuasaan 
dari pihak Hizbullah yang beraliran Syiah di Libanon, benteng kaum Sunni mulai 
goyah, dan hal ini mendorong 'Pelindung Dua Kota Suci' untuk membuat rencana. 
Ketika ulama Arab Saudi mengumpat kaum Syiah sebagai orang bid’ah, Raja Abdulah 
mengirim juru runding terbaiknya ke Taheran. Dan minggu ini menteri luar negeri 
Arab Saudi mengumumkan, bersama-sama dengan Iran, akan ditemukan sebuah 
pemecahan untuk masalah Irak dan Libanon. Sebuah isyarat berani kepada 
sekutunya, Amerika Serikat, yang mencap Iran sebagai musuh bebuyutan.
   
  Raja Abdulah mengatakan akan dapat menemukan pemecahan masalah di Palestina 
'tanpa campur tangan pihak luar'. Ditambahkannya, walaupun Iran memberikan uang 
kepada kelompok Hamas, Arab Saudi tetap merupakan orang tua angkat Palestina. 
Jika pertemuan di Mekkah dapat membentuk pemerintahan kesatuan nasional di 
Palestina, maka Arab Saudi telah mengambil alih peran perantara Timur Tengah 
yang paling menonjol.

 
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people 
who know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke