Mana seorang jendral - yg tidak pernah menghadapi perang dan yg mendapat 
kedudukan melalui teman seangkatan - dapat memeberikan management yg teratur 
didalam kota metropol seperti Jakarta yg sulit ini.  Dia hanya duduk dikursi 
dan mengambil uang pelicin dari mereka yg perlu membuka business dikota 
Jakarta. Posisi ini seperti posisi presiden tetapi tanpa pertangungan jawab yg 
berat.tetapi dimana air anggur mengalir dgn mewah. 
  Jikalau ada kebanjiran semacem sekarang yg salah adalah anak buah dia dan 
bukan dia - sebab kekuasan sudah didelegasikan dan diberikan kepada kepala 
departemen2.
  Mana dia mengerti mengenai water management atau traffic management atau 
development. Semua akan diberikan izin jikalau bahan pelicin cukup besar. Saya 
tahu bbp orang atau perusahan yg diharuskan menggali canal pengairan diJakarta. 
Seharusnya dalamnya 2 meter minimum - dia hanya menggali satu meter dan hanya 
pd tempat2 tertentu dia gali dalam. Kalau diperiksa oleh kota  selain 
inspektornya diberikan uang pelicin dia hanya dibawa ketempat yg sudah digali 
dalam. Semua jadi menurut project dosier - Contractor untung si Inspector 
senang - rakyat atau penduduk yg rugi dan konyol.
  Canal pengairan seperti didaerah tropic setiap tahun harus dibersihkan kalau 
tidak akan cepat sekali mampet oleh karena waterhyacint atau kotoran2 lain yg 
dilempar kedalam kali tsb. Tanpa maintenance  kali semacem ini dalam thn ke dua 
sudah menjadi sama tingginya dgn tanah lain. Disini siapa yg salah. Kalau 
terjadi dinegara yg teratur pemimpin semacem ini sudah dipecat dan mungkin 
dimasukkan penjara dan pemerinth Jakarta harus memberikan ganti kerugian.  - 
tetapi diJakarta dgn politik sobat seangkatan bersenjata mereka saling membantu 
dan kesalahan disapu dikolong meja - tahun depan dia masih duduk didalam 
kursinya dan tahun depan banjir akan kembali. Excuse akan keluar lagi dan 
rakyat kembali menderita.  Rakyat tidak bisa dan percuma protest = pemimpin2 
semua tuli dan buta keadaan.
  Ini keadaan sama dgn diJawa Sidoarjo - mana rakyat dapat bantuan, Mungkin 
bantuan diberikan tetapi sebelum sampai kerakyat sudah dipanen ditengah jalan. 
Inilah mentalitet yg diwarisi oleh Suharto cs. Mentalitet egoisme dan bukan 
cinta rakyat. 
  Presiden Sukarno yg dicoup oleh Suharto memang berpikir sosialis dan berani 
melawan USA -  tetapi ini berdasarkan cinta rakyat - dia ingin rakyat maju, 
Sebagai presiden dia tidak mengambil uang pelicin sebab sebagai presiden seumur 
hidup dia tidak perlu apa2 lagi - tetapi kita kan tahu betapa kesulitan yg 
dihadapi oleh keluarga dia setelah dia jatuh. Semua anak2nya bukan 
multimillionair seperti keluatga Suharto. :
  Harap SBY cukup pintar untuk memperbaiki keadaan ini dan memecat Gubernur 
Jakarta ini dgn anakbuajh dia. Ini adalh bukti bahwa dia betul2 ingin 
memperbaiki negara.
  Andreas
   
  

Roelus Hartawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          They love me like I was a brother. They protect me. Listen to me. 
They dug me my very own garden. Gave me sunshine. Made me happy… 
[nice dream... nice dream... nice dream...]

Saya selalu teringat Indonesia, tiap kali menyimak lagu 'nice dream' dari 
radiohead. Negara yang didirikan dengan tujuan melindungi segenap tumpah darah 
Indonesia dan menurut saya gagal melindungi warganya. Kita senantiasa berharap 
negara, yang dalam hal ini dikelola oleh pemerintah RI, dapat melindungi kita 
sebagai warga negara Indonesia yang menurut seorang penyair adalah pemilik sah 
republik ini. Tapi tampaknya semua itu hanyalah mimpi yang indah.
Saat gempa tsunami terjadi di Aceh dan beberapa daerah lainnya di wilayah 
Indonesia, apakah warga Indonesia memperoleh perlindungan yang layak? Sampai 
saat ini pun mega proyek rekonstruksi Aceh masih amburadul.
Kita menyimak kisah pedih banyak orang yang menjadi tahanan G30SPKI yang 
disiksa, dipenjara tanpa pengadilan dan kemudian dinistakan hidupnya. Apakah 
negara mampu melindungi warganya yang memiliki pandangan politik yang berbeda 
dengan penguasa? 
Ketika mahasiswa dan kelompok pro demokrasi lainnya meneriakkan "cabut 
dwifungsi ABRI" dan mempercayai sosialisme demokrat sebagai alternatif dari 
politik otoritarian, apakah negara mampu melindungi mereka dari penghilangan 
secara paksa dan impunitas yang dilakukan penguasa? 
Bahkan ketika kita bepergian ke berbagai tempat menggunakan sarana transportasi 
massal, baik darat, laut maupun udara, apakah negara mampu melindungi kita dari 
kecelakaan fatal yang disebabkan keteledoran, sistem audit tidak tidak 
bertanggung jawab dan sikap yang korup?
Sekarang ini, banjir melanda Jakarta dan banyak kota di seantero nusantara. 
Juga bencana longsor yang memakan korban jiwa. Apakah negara bisa melindungi 
kita? 
Operasi penyelamatan secara resmi baru dilaksanakan pada hari ketiga bencana 
(sebagaimana kecelakaan pesawat Adam AIr, operasi SAR baru dimulai secara resmi 
pada hari ketiga). Kalaupun ada upaya-upaya yang dilakukan menyangkut evakuasi 
korban, pendirian posko bencana dan dapur umum, serta penyaluran bantuan, 
hampir bisa dipastikan sebagian besar dimulai dengan swadaya warga dan 
inisiatif dari lembaga maupun individu yang secara formal sebenarnya bukan 
merupakan tugas resmi mereka. Ratusan perahu karet yang digunakan untuk 
mengevakuasi korban banyak diperoleh dari kelompok penggemar olah raga air. 
Bahkan ada orang yang menyelamatkan sesama warga menggunakan jetski yang dia 
miliki untuk mengevakuasi ke tempat yang lebih aman. Di tempat lainnya, warga 
melakukan sendiri proses evakuasi menggunakan fasilitas seadanya, bahkan rakit 
dan gedebong pisang pun dipakai. Di malam yang dingin karena Jakarta diguyur 
hujan seharian, dan gelap karena listrik padam, ribuan warga Jakarta
harus tinggal di pinggir-pinggir jalan, di emperan toko, di jembatan tol, tanpa 
alas dan selimut yang memadai. Bagi mereka, banjir yang melanda Jakarta dan 
memusnahkan harta benda mereka merupakan tonggak yang menandakan mereka kembali 
lagi ke nol kilometer.
Dan para pembesar DKI kini sibuk tampil di TV melakukan pembelaan diri dengan 
menyalahkan cuaca, keterbatasan jumlah perahu karet, dan Banjir Kanal Timur 
yang belum jadi. Sutiyoso sebagai orang nomor 1 DKI lebih memikirkan apakah 
dampak musibah ini terhadap kampanye pencalonan dirinya menjadi presiden RI, 
sedangkan Fauzi Bowo memikirkan bagaimana bencana ini tidak mempengaruhi 
perolehan suaranya dalam Pilkada DKI mendatang.
Jadi, jika masih berpikir bahwa negara dan pemerintah akan memberikan 
perlindungan kepada kita, bahkan di jalan raya sekalipun, saya hanya bisa 
berucap,"mimpi yang indah!"

---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

[Non-text portions of this message have been removed]



         


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke