Indonesia Sepakati Produksi Vaksin Flu Burung
   
  Oleh: Peter Phillipp dari Dresden
   
  Pemerintah Indonesia menunjuk perusahaan Amerika sebagai mitra eksklusif 
pengembangan vaksin flu burung strain Indonesia, padahal sebelumnya WHO 
sesalkan Indonesia yang menghentikan pengiriman sampel virus.
   
  
Pemerintah Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan farmasi 
Amerika Serikat, Baxter Healthcare SA, untuk memproduksi vaksin flu burung. 
Dalam Memorandum of Understanding (MOU) yang ditandatangi hari Rabu (07/02) 
ini, disebutkan, Departemen Kesehatan akan menyediakan specimen klinis virus 
H5N1. Sementara Baxter menyediakan alih teknologi, mulai formulasi, pengisian, 
hingga penyelesaian produksi vaksin itu. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari 
menyebut, pemilihan Baxter didasarkan pada prospek alih teknologi untuk bangsa 
Indonesia. 
   
  "Tujuan kerja sama semacam ini harus diarahkan bukan cuma pada riset atau 
produksi. Tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan bangsa. Saya mengharapkan 
Indonesia nantinya bisa menguasai teknologi untuk mengembangkan vaksin sendiri. 
Karena itu saya menghargai kesediaan Baxter dalam alih teknologi pemrosesan 
vaksin itu di Indonesia."
  Kesepakatan ini terjadi ketika Badan kesehatan dunia WHO menyampaikan 
keprihatinan atas keputusan Indonesia menghentikan pengiriman sampel virus 
kepada WHO. Langkah itu diambil, sebagai protes Indonesia atas apa yang dinilai 
sebagai komersialisasi vaksin dari spesimen virus yang dikirim Indonesia. Yang 
dimaksud adalah langkah perusahaan Australia CSL, yang dua pekan lalu 
mendaftarkan hak cipta vaksin flu burung. Kembali Menteri kesehatan Siti 
Fadilah Supari:
   
  "Selama ini sample yang kita kirimkan ke luar hanya untuk diagnostik bukan 
untuk yang lain. contohnya Australia telah siap dengan vaksin strain indonesia, 
saya kaget, saya gak pernah memberi ijin untuk dibuat vaksin di negara itu. Ini 
tidak fair, mulai sekarang setiap virus itu dikeluarkan akan disertai MTA 
Material Transfer Agreement."
   
  Perundingan Indonesia dengan Baxter sudah dilakukan sejak tahun 2005, ketika 
program vaksinasi dirasa sebagai kebutuhan mendesak. Kini, perusahaan farmasi 
Amerika itu merupakan pemilik izin tunggal untuk memproduksi vaksin flu burung 
strain Indonesia. Nantinya, Indonesia akan diberi hak untuk memproduksi sendiri 
vaksin itu, melalui perusahaan Biofarma dan menjualnya, di dalam maupun di luar 
negeri. Untuk tahap awal, Indonesia memerlukan sedikitnya 2 juta dosis vaksin 
untuk keperluan vaksinasi massal. 
   
  Namun kesepakatan ini tak luput dari tudingan. Lo Wing-lok, seorang ahli 
virus Hong Kong, menyebut, jika Indonesia hanya memberikan sample virus kepada 
satu perusahaan dan membiarkan perusahaan itu memonopoli vaksin, yang jadi 
korban adalah seluruh dunia. Sementara yang menarik keuntungan terbesar 
bukanlah Indonesia, melainkan perusahaan farmasi Amerika itu. 

 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke