tulisan bisai ini patut dibaca, tentang sobron dari sudut pandangan asahan.
salam, heri latief
amsterdam, 11/02/2007
BISAI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: "AKSARA SASTRA" <[EMAIL PROTECTED]>,
"SASTRA PEMBEBASAN" <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
From: "BISAI" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 11 Feb 2007 16:36:44 +0100
Subject: #sastra-pembebasan# SOBRON AIDIT IN MEMORIAM (2)
asahan aidit:
SOBRON AIDIT IN MEMORIAM (2)
Di masa belianya, Sobron sangat suka membaca termasuk bacaan terjemahan dari
bahasa asing tentang hasil-hasil karya sastra dunia. Saya masih ingat, (sekitar
tahun lima puluhan),Sobron permah menempelkan gambar besar yang dilukisnya
sendiri di dinding dalam rumah kami di Belitung. Pada gambar itu dia tulis:
JOHN STEINBECK - (1902-...) SEORANG PUJANGGA DUNIA. John Steinbeck seorang
novelist Amerika, meninggal pada tahun 1968. Saya tidak tahu apakah Sobron
membaca karya-karya John Steinbeck melalui terjemahan bahasa Indonesia atau
dari bahasa aslinya (Inggris). Tapi satu hal pada masa itu Sobron sangat banyak
membaca karya-karya sastra klasik luar negeri maupun pengarang kontemporer
Indonesia ketika itu. Sobron memulai karya tulisnya dengan kekaguman. Ia cepat
menemukan sesuatu yang bisa cepat dikaguminya yang ditemukannya dalam bacaan
maupu dalam pergaulan sehari-hari . Kekaguman membuat dan bahkan turut mengasah
bakat dan semangat menulisnya. Suatu hari dia pernah
menceritakan bagaimana ia mengagumi seorang teman penulisnya Riyono Pratikto.
RP, kata Sobron, mempunyai keistimewaan luar biasa, dia bisa membuat cerita
sambil mengetik sambil turut aktif ngobrol dengan teman-teman sekitarnya dan
dalam beberapa jam saja selesailah sebuah cerita pendek yang bagus dan enak
dibaca. Cerita ini untuk selanjutnya selalu diulang-ulanginya sebagai rasa
kagum yang tak habis-habisnya. Lalu ketika Firman Muntaco, raja cerita-cerita
yang menggunakan dialek Jakarta merajai koran-koran Jakarta yang memuatnya,
Sobron juga sangat kagum padanya, terutama pada keproduktifan pengarang ini:
setiap minggu selalu muncul cerita yang menarik dan banyak digemari pembaca.
Ketika Mundingsari menterjemahkan karya-karya penyair klasik Tiongkok ke dalam
bahasa Indonesia, Sobron mulai berkenalan dengan sajak-sajak Li Tai Po dan
banyak penyair terkenal lainnya. Sobron tergila-gila dengan sajak-sajak Li Tai
Po yang kemudian berpengaruh sangat besar pada perkembangan
persajakannya selanjutnya. Dia bilang Li Tai Po bikin sajak seperti ngobrol
tapi indahnya setengah mati. Bagi Sobron setiap kekaguman adalah juga sebagai
mabuk sambil merasakan keindahan dan keluarbiasaan yang menimbulkan inspirasi
besar baginya. Suatu hari lagi ( juga di tahun tahun lima puluhan) setelah
membaca sebuah buku "Bagaimana caranya agar banyak kawan" karangan Dr. Carnegi,
ia lalu menceritakan kekagumannnya di depan sang abang sulung yang kebetulan
saya juga ada. Sang abang sulung cuma menggelengkan kepala: "Ah, kau Bron, ilmu
menipu cara kapitalis itu tak usahlah kau tiru-tiru". Tapi Sobron adalah
Sobron, sekali dia merasa kagum, itu adalah kekuatan baginya, inspirasi dan
juga inter aktif. Sobron sangat mudah memuji orang, suka menyenangkan orang,
suka bergaul dengan manusia, suka tertawa dan tersenyum. Apakah ilmu itu bukan
didapatkannya dari buku yang sangat dikaguminya. Lalu ia pernah membaca
karya-karya Anton Pavlovich Chekhov, pengarang Rusia yang
keterkenalannya mendunia itu. Cerpen-cerpen Chekhov yang terkenal super
pendek, sederhana tapi menarik luar biasa telah juga memancing kekaguman Sobron
dan seolah otomatis merasuk kedalam otaknya gaya Chekhov yang sangat
dikaguminya itu. Lalu kemudian karya-karya Guy de Maupassant yang dibacanya
melaui terjemahan yang dimuat di berbagai majalah sastra pada masa itu (tahun
lima puluhan dan awal tahun enam puluhan). Pertama-tama Sobron adalah manusia
pengagum. Ia mengagumi semua karya-karya seni yang bisa dikaguminya dan lalu
dijadikannya tenaga penggerak, inspirasi dan gaya menulisnya. Sayang tradisi
membaca yang telah dimulainya sejak masa belianya itu tidak terus berkembang
selanjutnya malah ada kecenderungan menurun. Dan memang Sobron bukan manusia
tekun membaca sepanjang hari dan malam tapi ia lalu menjadi manusia yang tekun
menulis sepanjang hari dan malam. Ia berangsur mengambil jarak dengan pergaulan
leteratur dunia dan cuma membaca yang dia anggap paling penting
untuk dirinya saja yang kita tidak tahu persis lagi apa yang masih dibacanya.
Hidup puluhan tahun di Tiongkok lalu disambung lagi dengan puluhan tahun di
Perancis, kita kurang punya kesan kalau Sobron menggunakan waktu emasnya itu
untuk berkenalan dengan karya-karya literatur setempat ataupun karya literatur
di negeri asing lainnya. Dalam dunia sastra dan kepenulisan kita kenal, membaca
adalah juga cara pengasahan bakat dan ketrampilan disampung meluaskan pandangan
dan pemikiran atau wawasan. Hal ini kurang banyak diperhatikan Sobron. Tapi
menjelang ahir hidupnya, keproduktifannya dalam menulis seolah telah menjadi
konpensasi besar sebagai pengimbang kekurang bacaan yang dilakukannya. Ia
mengasah dirinya dalam menulis meskipun tanpa nilai ekstra sebagai bumbu
penyedap kwalitas tulisannya. Dan ia terus menulis tanpa lihat kiri kanan, muka
belakang seperti traktor yang dikemudikan secara otomatis. Dan Sobron menemukan
pembacanya sendiri, menemukan pengagumnya, menemukan
arena yang dibuatnya sendiri sebagai penulis yang mudah dimengerti
tulisan-tulisannya, ringan, keseharian, humoristis dan terkadang satiris. Tapi
bila orang mengatakan dalam membaca tulisan-tulisan Sobron orang tidak
merasakan atau tidak terdapat dendam dalam diri Sobron, maka orang akan
mengambil kesimpulan yang total keliru. Dendam adalah jiwa tulisan Sobron,
hanya saja bagaimana cara dia menuliskannya, menatanya dan membungkus dirinya
sendiri. Seorang teman pernah sambil bergurau dengan saya, katanya, Sobron itu
jauh lebih berbahaya dari pada saya sendiri yang jika menulis suka blak-blakan
hingga mudah ditolak oleh sementara penerbit atau di "persona non gratata "kan
secara samar: O, si asahan. daaag! .Tapi Sobron bisa masuk ke segala pintu
karena dia dianggap ringan, penghibur dan punya ideologi "pelangi". Terselip
rasa bangga saya akan abang saya ini akan kematangannya di bidang diplomasi
sastra. Dalam sebuah tulisannya yang menyangkut soal keagamaan Sobron pernah
secara jujur mengakui bahwa dirinya belum bisa menjadi penganut Kristen sejati
karena ia belum sanggup memaafkan dosa-dosa algojo bangsanya yang telah
membunuhi berjuta rakyat yang tidak berdosa . Lalu temukanlah kembali sajaknya
yang berjudul "SUMPAH SERAPAH'' yang memaki penuh dendam terhadap musuh
rakyatnya. Tulisan-tulisannya memang mudah dimengerti, ringan, relax,
humoristis dan keseharian. Tapi mengambil makna terdalam yang terkandung dalam
tulisan-tulisannya, orang bisa keliru bila hanya ingin menarik kesimpulan
sederhana dan di permukaan dan di sini pula sayangnya bahwa masih ada di dalam
publik sastra kita orang-orang yang suka yang ringan-ringan, mudah dicerna tapi
tidak pandai mengambil makna terdalam yang sesungguhnya terkandung dalam
serbuah tulisan. Sobron memang sangat terpengaruh akan gaya Chekhov. Chekhov
punya banyak tulisan sederhana dan terasa ringan saja untuk dibaca. Tapi tidak
setiap orang Rusia mengerti apa yang dimaksudkan Chekhov dalam
"kesederhanaan" isi dan bentuk tulisannya. Dan di situ juga terletak gaya
seorang master.
[Non-text portions of this message have been removed]
http://www.geocities.com/herilatief/
[EMAIL PROTECTED]
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
Klik: http://www.progind.net/
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.
[Non-text portions of this message have been removed]