FYI.. lebih tepatnya, salah satu alternatif solusi banjir kali ya, 
karena ada solusi-solusi lain yang akan lebih menyempurnakan, misalnya 
pembangunan  dam di bagian hulu, tentu juga ini akan berkaitan dengan 
konsep megapolitan, agropolitan, tata ruang kota dan sistem. Ditambah pula 
upaya 
pencegahan penggundulan hutan.
   
  SUARA PEMBARUAN DAILY 
  
---------------------------------
    IPB Tawarkan LRB Solusi Atasi Banjir  
   
   [BOGOR] Pembuatan lubang 
resapan biopore (LBR) disarankan untuk dibuat di kawasan yang permukaan 
tanahnya sudah kedap air. Fungsi lubang itu bisa menjadi resapan air, 
sehingga ketika hujan, air tidak langsung menggelontor ke selokan dan kali 
atau sungai, tapi ada yang terserap ke dalam tanah.   Lubang resapan 
biopore itu, menurut Kamir R Brata, pakar dari Institut Penelitian Bogor 
(IPB), sudah bisa diterapkan setelah diuji coba di sejumlah kawasan 
oleh para peneliti IPB. Menurut dia, LBR berteknologi sederhana dan 
biayanya murah.   "Banyaknya lahan dan bangunan yang kedap air, menyebabkan 
air hujan yang turun tidak terserap tanah hingga terjadi penggelontoran 
air dari hulu ke hilir dan berdampak banjir. Untuk itu diperlukan 
solusi dengan teknologi tepat guna, sederhana dan biaya murah serta bisa 
dilakukan oleh siapa saja," ujar Kamir di kediamannya di Desa Cibanteng, 
Kecamatan Dramaga, Bogor, Kamis (8/2).   Bagaimana cara membuat
 teknologi LRB untuk atasi banjir itu? Kamir menjelaskan, dengan cara 
membuat lubang dengan kedalaman 80 centimeter (cm) dan diameter lubang 
sekitar 10 cm. Langkah selanjutnya memasukan sampah lapuk sebanyak 2 
sampai 3 kilogram (bergantung jenis sampah) ke dalam lubang atau sumur 
itu. "Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisme pengurai sehingga 
terbentuk pori-pori," jelas staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya 
Lahan Fakultas Pertanian IPB ini.   Dengan cara demikian, lanjutnya, air 
hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan melainkan meresap ke 
dalam tanah melalui pori-pori. Namun tidak perlu khawatir tanah akan 
menjadi lunak karena air yang terserap justru akan tersimpan menjadi 
cadangan air bawah tanah.   Namun dalam pembuatan teknologi LRB ini 
disarankan agar kedalaman lubang yang dibuat kurang dari satu meter. Sebab 
apabila lebih dari satu meter, cacing-cacing dan organisme pengurai 
lainnya akan mengalami kekurangan oksigen sehingga tidak dapat bekerja
 dengan baik.   Selain mempraktikan proses pembuatan lubang, Kamir 
sempat menunjukkan juga penerapan LRB di lahan percobaan Cikabayan pada 
areal Kampus IPB Dramaga Bogor. Di lokasi itu, saluran pembuangan di lahan 
tertutup semen dilubangi dengan jarak antar lubang yakni satu meter. 
"Teknologi sederhana LRB ini sangat tepat diterapkan pada pemukiman warga 
yang umumnya di areal rumah mereka kedap air karena permukaan tanah 
tertutup semen," ujarnya.   Bencana banjir yang melanda Jabodetabek, baru- 
baru ini, pun membuat IPB turut prihatin terhadap bencana alam banjir 
itu. Sebenarnya, bencana seperti ini tidak perlu terjadi apabila kita 
dapat mengantisipasi sebelumnya.   "Bencana dapat diminimalisasikan 
secara terintegrasi bersama dan berkeseimbangan, hal ini dapat dijadikan 
sebagai bentuk kepedulian kita bersama," kata Kepala Kantor Prohumasi IPB, 
drh. R.P. Agus Lelana, SpMP, M.Si secara terpisah.     Banyak Masalah   
Sementara itu, Staf Pengajar Departemen Silvikultur,
 Fakultas Kehutanan - IPB, Dr Supriyanto, yang juga Ketua Gerakan 
Penghijauan Peduli Banjir Jakarta dan Sekitarnya (GPPBJS), menegaskan, 
permasalahan yang dialami Jabodetabek karena beberapa faktor antara lain, 
wilayah itu menjadi Kota Megapolitan, kepadatan penduduk akibat 
urbanisasi, polusi baik industri dan kendaraan serta banjir tahunan dari Sungai 
Ciliwung dan Sungai Cisadane.   Banjir merupakan salah satu masalah 
yang sering dialami DKI Jakarta. "Penyebab banjir Jakarta di antaranya 
karena curah hujan yang tinggi, adanya lahan kritis dan vegetasi kurang, 
resapan air menurun, waduk, situ dan saluran irigasi tidak berfungsi 
dengan baik," ungkap Supriyanto.   Menurut dia, dari data sebaran curah 
hujan di Jabodetabek, curah hujan tertinggi sekitar 3.000-3.500 milimeter 
per tahun terjadi di Bogor, dan terendah terjadi di DKI Jakarta dengan 
angka 1.700 milimeter per tahun. Untuk Tangerang, Bekasi dan Depok 
sekitar 2000-3000 milimeter per tahun.   Ditambah lagi kegiatan
 pembangunan di DAS Ciliwung yang cenderung mengarah pada penurunan 
daya dukung lingkungan berupa penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan 
air dan peningkatan laju erosi.   Kondisi ini menyebabkan tingginya 
limpasan air permukaan yang berakibat timbulnya banjir tahunan di DKI 
Jakarta. "Oleh karenanya perlu transfer cost (kompensasi) dari daerah hilir 
ke hulu. Kompensasi ini, terangnya, sangat diperlukan dalam penanganan 
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane," ujarnya.   Luas 
lahan kritis sampai dengan tahun 2004 di DAS Ciliwung telah mencapai 
sekitar 5.400 hektar, yang tersebar di Kabupaten Bogor sekitar 4.600 hektar, 
Kota Bogor sekitar 70 hektar dan Kota Depok sekitar 730 hektar. "Lahan 
kritis tersebut perlu dibangun kembali dengan menaman jenis-jenis yang 
produktif dan disukai oleh masyarakat. Dengan demikian, penanganan DAS 
Ciliwung harus terpadu yang melibatkan dua propinsi, Jawa Barat dan DKI 
Jakarta," imbuhnya.   Sementara saat ini enam dari 20 situ yang
 dimiliki DKI Jakarta telah rusak parah. Yaitu, Situ Rawa Dongkal, 
Aneka Elok, Rawa Badung, Ria Rio, Kebon Melati, dan Pluit. Selain tercemar 
sampah dan limbah, pendangkalan terjadi oleh tumbuhan air.   Solusi 
penanggulangan banjir, menurut dia, bukan hanya didasarkan pada civil 
engineering tetapi harus didasarkan pula pada agricultural, fisheries dan 
forestry engineering. "Salah satunya dengan peningkatan resapan air 
melalui rehabilitasi hutan dan lahan (penghijauan)," tandasnya.   GPPJS dan 
IPB telah melakukan berbagai kegiatan seperti berbagai pelatihan, 
pembibitan dan penghijauan sebanyak 284.700 batang ditanam pada lahan 177,75 
hektar, pengembangan sumberdaya manusia untuk Green School total 
peserta 603 orang, pembentukan kelompok tani. Kepedulian sivitas akademika 
juga ditunjukkan Badan Ekskutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) 
IPB, ketika musibah melanda DKI Jakarta, mahasiswa mengumpulkan dana 
sukarela dari masyarakat sekitar kampus. [126]
  http://www.suarapembaruan.com/last/index.html
   




Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah 
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
 prohumasi
 nuraulia

 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke