Yang jadi masalah itu orang republik ini...
Maunya enake dhewek nggak mikir rakyatnya...
Kebanjiran, mringis stress dikatakan masih bisa tertawa...
Beras susah karena dimainin oknum katanya pertanian kita gagal
ujung-ujungnya mintak impor dari vietnam...
Jadi ingat spanduk di putaran tugu kujang Bogor: "So Banjir Ya JaKarta,
sontoloyo wakil rakyat"
Pas khan?
DG


On 2/10/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ngaca dulu sama komentar" ente mus.. :-p
> Freeport ngasih makan Indonesia? Itu namanya MEMBESAR-BESARKAN..
> Infonya aja gak jelas gitu..
>
> Bolivia tuh berhasil menegosiasi ulang kontrak dengan MNC pertambangan..
> Tapi lancar" aja (no problem) tuh. Penguasa Indonesia aja yang (maaf)
> entah
> bodoh,
> mudah dibodohi, membodohi publik, bahwa kalau berani mengubah kontrak
> dengan
>
> pihak asing bakal dikucilkan, dituntut, seperti ucapan Henry Kissinger
> (salah satu elit
> Freeport juga) sejak tahun 2000-an dulu.. Atau para pejabat di jaman
> ORBA..
>
> Yang pasti statement begituan, bakal diiyakan/didukung habis"an oleh
> orang"
> semacam
> si mus (and the gank) ini.. CMIIW..
>
> Wassalam,
>
> Irwan.K
>
> Pajak Ke Negara Nggak Jelas Bos Freeport Dipanggil Paksa
> posted or edited by Hotsaritua Situmorang —
> last modified 11-01-2007 11 <javascript:void(0)>:42
>
> Mangkirnya bos PT Frefoort Indonesia, James R Moffet atas panggilan
> Panitia
> Kerja (Panja) DPR,
> membuat politisi Senayan kebakaran jenggot. Mereka menangkap kesan bos
> Freeport ini ogah
> buka-bukaan soal penerimaan pajak negara, yang diduga'tidak jelas
> juntrungannya.
> UNTUK itu, anggota dewan rencananya akan melakukan pemanggilan paksa
> terhadap orang
> Amerika ini, kalau perlu menggunakan jalur kepolisian.
>
> Menurut Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sonny Keraf, pemanggilan paksa bisa
> dilakukan jika pihak
> Freeport terus mengabaikan pemanggilan dewan. "Pemanggilan ini berkaitan
> dengan dugaan
> ketidakjelasan dalam perhitungan pajak pemerintah dari PT Freeport serta
> adanya kerugian dari
> sektor lingkungan yang nilai-nya cukup besar,' kata anak buah Megawati
> kepada Rakyat Merdeka
> di Jakarta, kemarin.
>
> Sonny mengatakan, ketidakjelasan pajak pemerintah bukan nanya terjadi pada
> PT Freeport
> melainkan juga kontrak karya lain. Seperti ExxonMobil Indonesia (EMOI),
> Blok
> Natuna serta
> yang kontrak karya lain.
> Seperti diketahui, dalam kontrak karya migas atau pertambangan, porsi bagi
> hasil termasuk
> setoran pajak bagi negara, kerap amburadul. Namun, tampaknya pihak negara
> yang diwakili
> Departemen Energi tak berdaya untuk menaikkan posisi tawar pemerintah.
>
> Lebih lanjut Sonny mengatakan, peninjauan ulang terhadap sejumlah kontrak
> perlu dilakukan.
> "Kesepakatan ini diambil sebagai dukungan partai dari sejumlah kalangan
> LSM,
> DPR atau
> yang lainnya perihal tuntuntannya untuk meninja ulang sejumlah kontrak
> yang
> dinilai merugikan
> negara,' ujarnya dalam Rakernas PDIP di Bali, beberapa hari lalu.
>
> Sonny mengungkapkan, ketidakjelasan pajak dari Freeport ini akibat
> lemahnya
> sistem pengawasan
> pemerintah. Untuk itu, persoalan ini harus menjadi perhatian dewan. Kalau
> perlu dibentuk tim
> investigasi untuk meneliti penghasilan Freeport sebenarnya.
> "Semua itu karena lemahnya sistem pengawasan yang dilakukan pemerintah.
> Makanya penerimaan
> pajak jadi tidak jelas dan ini harus menjadi perhatian khusus bagi
> pemerintah, yakni dengan cara
> meninjau ulang isi Kontrak Karya (KK) Freeport," ujar Sonny di Jakarta.
>
> Menurut anak buah Megawati itu, sudah sepatutnya KK Freeport ditinjau
> ulang.
> Selain, banyak
> ketimpangan di dalam isi KK tersebut, reaksi masyarakat yang menentang
> juga
> teramat banyak.
> "Adapun persoalan yang terjadi yaitu, persoalan tanah ulayat yang terjadi
> di
> daerah Timika,
> di mana hak ganti rugi tidak diberikan oleh masyarakat, pemberian jasa
> tambang lebih condong
> ke pihak asing bukan ke lokal, serta ketidaktrasparanan perihal dana dan
> saham dalam memproduksi
> barang tambang," ungkapnya.
>
> Hal senada dikemukakan politisi Partai Demokrat (PD), Bur Maras. Menurut
> dia, polemik penerimaan
> pajak pemerintah dari Freeport sedang dalam proses investigasi oleh panja
> DPR, karena bagaimana
> pun soal ini harus segera dituntaskan, sehingga di situlah akan ketahuan
> berapa hasil pajak yang
> akan diterima pemerintah dari Freeport," kata politisi Partai Demokrat itu
> di Jakarta.
> Bur Maras mengatakan, rencana pemanggilan terhadap bos PT Freeport James R
> Moffet sedang
> di-lakukan pihak panja. "Pemanggilan James R Moffet itu hanya untuk
> dimintai
> keterangan mengenai
> proses pengelolaan hasil tambang," tukasnya.
>
> Sementara ketika dikonfirmasi Corporate Secretary PT Freeport Indonesia,
> Mindo Pangaribuan
> mengatakan, pihaknya sudah melaporkan hasil pajak serta jumlah royalty
> yang
> harus dibayar oleh
> pemerintah. Bahkan, dia menyarankan agar ditanyakan ke departemen keuangan
> sehingga tidak terjadi
> salah persepsi satu sama lain. "Laporan penerimaan pajak serta royalty
> sudah
> dilaporkan ke Depkeu,
> jadi tanyakan saja ke Depkeu,'kilahnya. Terkait mangkirnya James Moffet di
> Gedung DPR, dia enggan
> memberikan keterangan. PIK
>
> Sumber : Rakyat Merdeka, 11 Januari 2007
>
> On 2/10/07, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   > IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Quote:
> > > "..
> > > Lalu kenapa harus heran terjadi kekurangan pangan??? Freeport itu
> > > dikontrakkan kepada perusahaan asing hanyalah salah satu cara untuk
> > > menambal kekurangan pangan, tapi hal inipun dicaci maki oleh mereka
> > > yang beriman terutama umat Islamnya. Kalo memang Freeport itu tidak
> > > boleh dikontrakkan kepada Asing, mau diapakan oleh kita???
> > > .."
> > >
> > > Tentu saja (ente yang benci Bung Karno) akan menolak seruan soal
> > > membiarkan dulu kekayaan alam di Indonesia sampai putra-putri
> > > Indonesia siap mengolahnya. Orang" jenis anda (termasuk elit yang
> > > menguasai Indonesia?) memang gemar
> >
> > Apa alasannya saya harus difitnah benci Bung Karno ??? Sebaiknya
> > berdebatlah yang wajar jangan fitnah2 yang sama sekali tak ada
> > dasarnya. Semua pendapat saya selalu berdasarkan realitas yang ada
> > sama sekali tidak dipengaruhi perasaan benci atau sayang, dan juga
> > sama sekali tidak dipengaruhi kepercayaan.
> >
> > Kalo Sukarno yang jadi penguasa menganggap Freeport tidak perlu
> > dikontrakkan, tentu hal itu merupakan hak dia sebagai penguasa, namun
> > dia juga khan tidak benar karena Freeport itu bukan milik pribadi dan
> > rakyat berhak untuk menikmati hidup tanpa kelaparan. Jadi kalo
> > Sukarno melarang mengkontrakkan Freeport, sama sekali bukan berarti
> > Suharto harus melakukan hal yang sama. Sukarno punya alasan meskipun
> > tak ada dasar yang kuat, sedangkan Suharto punya alasan dengan dasar
> > yang lebih kuat, yaitu negara butuh uang. Sama halnya dengan SBY yang
> > membutuhkan dana untuk memberi nafkah kepada rakyatnya.
> >
> > Freeport itu cuma perusahaan swasta saja di Amerika sama sekali bukan
> > tentara. Jadi urusan Freeport disana memang urusan pejabat2 RI
> > sehingga jangan sembarangan tuduh dan fitnah karena Freeport itu
> > bukanlah penjajah, bukan juga pemerintahan, juga bukan tentara. Urus
> > saja hal itu dengan pemimpin2 anda tanpa harus menyalahkan orang2 dari
> > negara lainnya.
> >
> > Ny. Muslim binti Muskitawati.
> >
> >
> > > menjual murah (atau bahkan DIRAMPOK) pihak asing - at least membiarkan
> > > saja..
> > > sehingga tidak digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan
> > publik/rakyat
> > > Indonesia agar DAPAT HIDUP LAYAK..
> > >
> > > Satu link yang mungkin bisa memberi gambaran isi UUD 1945 (dan hasil
> > > amandemen)
> > >
> > > http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45
> > >
> > > Seperti amanat UUD 1945 (termasuk versi yang diamandemen).. Dalam
> > Pasal 27
> > > ayat 2
> > > "Tiap-tiap WARGA NEGARA BERHAK ATAS PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG
> LAYAK
> > > bagi kemanusiaan"
> > >
> > > Jadi, kalau ada warga negara yang TIDAK HIDUP LAYAK (mis: kelaparan
> atau
> > > makan
> > > nasi aking - yang sebenarnya PAKAN TERNAK), artinya SUDAH ADA
> > PELANGGARAN
> > > terhadap AMANAT UUD RI..
> > >
> > > "..
> > > > Nasi yang dimakan itu berwarna coklat dan berair. Sejak harga
> > beras mahal,
> > > > Imi mengaku
> > > > tak mampu membeli beras. Dia memilih membeli nasi kering yang
> harganya
> > > > lebih murah,
> > > > hanya Rp 600 per liter. "Sebenarnya ini makanan bebek, tapi mau
> > bagaimana
> > > > lagi," ujarnya.
> > > > .."
> > > >
> > >
> > > Mungkin anda (si mus) yang memang 'US minded', hal semacam ini sudah
> > tidak
> > > terpikirkan
> > > lagi.. Bagi anda, apapun yang datangnya dari amrik adalah suci dari
> > > kesalahan dan harus
> > > dipatuhi sepenuh jiwa.. Dan yang menolak hegemoni mereka, adalah
> > teroris..
> > > Persis idiomnya Bush.. :-(
> > >
> > > CMIIW..
> > >
> > > Wassalam,
> > >
> > > Irwan.K
> > >
> > > *Warga Tangerang Juga Makan Nasi Aking*
> > > Kamis, 21 Desember 2006 | 15:13 WIB
> > >
> > > *TEMPO Interaktif*, *Jakarta*:
> > >
> > > Lebih dari 1000 jiwa warga desa Sukadiri, Kecamatan Sukadiri Kabupaten
> > > Tangerang
> > > mengkonsumsi nasi kering ( Aking). Kemarau panjang telah mengagalkan
> > panen
> > > padi,
> > > warga tak mampu membeli beras karena harganya melambung tinggi.
> > >
> > > "Sejak bulan puasa, kami makan nasi kering ini, " kata Imi Bin
> > Tajudin, 60
> > > tahun, warga
> > > Kampung Gang Tali, RT 07, RW 05, Desa Sukadiri, Kecamatan Sukadiri,
> saat
> > > ditemui
> > > Tempo dirumahnya, hari ini. Kampung itu dihuni sekitar 1000 kepala
> > keluarga.
> > >
> > >
> > > Nasi kering itu adalah nasi sisa yang tak habis dimakan, lalu
> > dijemur hingga
> > > kering.
> > > Setelah itu nasi dicuci, lalu dikukus. Campurannya garam dan parutan
> > kelapa.
> > >
> > > "Tidak membuat kenyang malah bikin sakit perut," kata janda tiga
> > anak ini
> > > yang ditemui
> > > Tempo sedang memasak nasi itu sambil menyuapi cucunya.
> > >
> > > Nasi yang dimakan itu berwarna coklat dan berair. Sejak harga beras
> > mahal,
> > > Imi mengaku
> > > tak mampu membeli beras. Dia memilih membeli nasi kering yang
> > harganya lebih
> > > murah,
> > > hanya Rp 600 per liter. "Sebenarnya ini makanan bebek, tapi mau
> > bagaimana
> > > lagi," ujarnya.
> > >
> > > Joniansyah
> > >
> > > On 2/5/07, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >
> > > >
> > > > Kekurangan pangan tetap akan terjadi biarpun sudah seribu tahun
> > > > merdeka. Kemerdekaan seharusnya diisi dengan kebebasan bukan malah
> > > > diikat dengan kewajiban beragama !!!
> > > >
> > > > Beragama Islam seperti yang dianut mayoritas bangsa ini, membawa
> > > > bencana pemerkosaan massal amoy, pembakaran gereja2, pembakaran
> > > > mesjid2 ahmadiah, dlsb seperti kasus Ambon dan Poso. Apakah anda
> > > > pikir kejadian2 ini tidak berpengaruh terhadap masalah kekurangan
> > > > pangan???
> > > >
> > > > Yang jelas, Indonesia sudah overpopulated terutama pulau Jawa.
> > > > Bagaimanapun juga, ketergantungan kepada investasi asing sangatlah
> > > > berpengaruh, baik untuk membuka lapangan pekerjaan dan juga untuk
> alih
> > > > teknologi. Namun akibat masyarakat dan pemerintahnya lebih
> > > > mengutamakan agamanya, maka investor cenderung mencari jalan selamat
> > > > karena investasinya bukanlah bahan untuk diumbar umat untuk mengejar
> > > > pahala melalui teror2 seperti yang saya sebut diatas.
> > > >
> > > > Tidak ada anjuran yang lebih baik daripada lepaskan urusan agama
> dari
> > > > kenegaraan, urusan agama jangan jadi beban negara dan biarkanlah
> > > > urusan agama menjadi beban individu masing2 penganutnya saja tanpa
> > > > harus dicampuri oleh negara. Triliunan rupiah akan bisa dihemat kalo
> > > > semua biaya pelajaran agama disemua sekolah2 publik dihentikan dan
> > > > dilarang. Dari 15 juta jumlah guru di Indonesia, 8 juta adalah guru2
> > > > agama. Ditambah lagi masih ada sekitar 30 juta guru2 lulusan
> sekolah2
> > > > agama yang menuntut pemerintah agar diangkat jadi guru tetap dengan
> > > > gaji tetap tentunya. Lalu mau jadi apa negara ini kalo semuanya cuma
> > > > pandai beragama??? Apalagi, kenyataan2 membuktikan agama terutama
> > > > agama Islam hanyalah menciptakan berbagai malapetaka baik didalam
> > > > negeri maupun diluar negeri. Akibatnya, pencari kerja dari Indonesia
> > > > sering ditolak diluar negeri, mulanya memang mereka cuma basa basi
> > > > bilang bersedia menerimanya, tapi kalo sudah dikirim maka mereka
> > > > semuanya dikirim balik, selain karena tidak becus bekerja juga
> sangat
> > > > aggresive memaksakan kepercayaan mereka kepada lingkungan ditempat
> > > > kerjanya sehingga merusak suasana kerja yang tidak lagi productive.
> > > > Satu2nya jalan hanyalah dipecat, dipulangkan, dikatakan tidak
> memenuhi
> > > > persyaratan dan untuk hal seperti ini mereka tidak ada keinginan
> untuk
> > > > melatihnya.
> > > >
> > > > Lalu kenapa harus heran terjadi kekurangan pangan??? Freeport itu
> > > > dikontrakkan kepada perusahaan asing hanyalah salah satu cara untuk
> > > > menambal kekurangan pangan, tapi hal inipun dicaci maki oleh mereka
> > > > yang beriman terutama umat Islamnya. Kalo memang Freeport itu tidak
> > > > boleh dikontrakkan kepada Asing, mau diapakan oleh kita??? Teknologi
> > > > tak ada, pasaran tak punya, wajar kalo tergantung orang2 asing demi
> > > > sesuap nasi. Mau diberikan kepada pribumi sendiri juga tetap saja
> > > > sang pribumi akan cari partner dari luar negeri sebagai kerja sama
> > > > dengan asing yang lebih merugikan negara ini.
> > > >
> > > > Ny. Muslim binti Muskitawati.
> > > >
> > > > --- In [EMAIL PROTECTED]<CIKEAS%40yahoogroups.com><CIKEAS%40yahoogrou
> > ps.com>, IrwanK
> > > > <irwank2k6@> wrote:
> > > > >
> > > > > Mustinya, berwacana adalah kemampuan para pengamat dan masyarakat
> > > > biasa..
> > > > > Mereka tidak punya akses yang memadai untuk memberi arahan apa
> > yang bisa
> > > > > dilakukan untuk memperbaiki keadaan.. Pengamat dan masyarakat
> > hanya bisa
> > > > > berkiprah sebatas kemampuan mereka yang memang terbatas..
> > > > >
> > > > > Beda dengan penguasa.. yang SEHARUSNYA punya kekuatan untuk
> > menekan tim
> > > > > dan para anak buahnya untuk memperbaiki keadaan.. tidak sekedar
> > mengeluh
> > > > > atau
> > > > > cuma mengadu ke publik.. seperti TIDAK MENDAPAT MANDAT/AMANAH
> > APA-APA
> > > > > dari publik..
> > > > >
> > > > > Kalo (merasa) berat dan tidak mampu membenahi, mengapa dulu
> > berani/maju
> > > > > berkompetisi? Baru tahu kalau 'sulit mengelola negara'? Kemana aja
> > > > selama
> > > > > ini
> > > > > jadi Menteri/Pejabat? Atau majunya dulu karena ada KEWAJIBAN
> > MELINDUNGI
> > > > > (local) BIG BOSS ORBA dari tuntutan hukum dan politik?
> > > > > Kalau benar demikian, memang sulit kalau terbiasa tidak jujur dan
> > > > > berkelit.. :-(
> > > > >
> > > > > CMIIW..
> > > > >
> > > > > Wassalam,
> > > > >
> > > > > Irwan.K
> > > > >
> > > > > On 11/23/06, Haniwar Syarif <syarif@> wrote:
> > > > > >
> > > > > > Menurut sy SBY nggak berhak bertanya kenapa..tapi harusnya
> > > > menjelaskan ,
> > > > > >
> > > > > > kenapa Indonesia begini
> > > > > >
> > > > > > Bayangkan aja.. di jaman Mbah Harto jadi Menteri Pertambangan
> yang
> > > > ikut
> > > > > > tanggung jawab hilangnya kekayaan alam Indonesia tanpa
> ternikmati
> > > > dengan
> > > > > > maksimal bagi rakyat, di Jaman Gus Dur juga jadi menteri.., di
> > > > Jaman Mega
> > > > > > jadi Menko.., sekarang Presiden..
> > > > > >
> > > > > > Kok cuma bisa berwacana... berironi.....prihatin.....
> > > > > >
> > > > > > mestinya sih jelaskan dong...lalu pecahkan masalahnya.... ayo
> > > > tinggal 3
> > > > > > tahun lagi.. krn SBY orang yang pengalamannya begitu banyak dan
> > > > katanya
> > > > > > otaknya encer.... aku kecewa...
> > > > > >
> > > > > > Salam
> > > > > >
> > > > > > Haniwar
> > > > > >
> > > > > > At 14:17 22/11/2006, you wrote:
> > > > > >
> > > > > > >Buat saya kok ya aneh kalau SBY bicara begitu, harusnya dia
> > bertanya
> > > > > > >kenapa bangsa Indonesia masih bisa kekurangan pangan, padahal
> > tanah
> > > > > > >indonesia ini dalam bahasa jawanya dibilang: gemah ripah loh
> > > > jinawi! dan
> > > > > > >saya membenarkan! kalau kita masih tetap saja miskin..itu
> > yang sangat
> > > > > > >aneh,..aneh tapi nyata!!
> > > > > > >Dulu waktu SD kata guru saya, negara Indonesia adalah negara
> > agraris,
> > > > > > tapi
> > > > > > >mana buktinya, tanah-tanah persawahan sudah menjadi mall atau
> > > > perumahan
> > > > > > >atau pertokoan, hasil pertanian dihargai SANGAT MURAH,
> pemerintah
> > > > > > >melegalkan import hasil pertanian. harusnya ya presiden
> > bertanya pada
> > > > > > >dirinya sendiri, mengapa indonesia yang katanya 60 tahun
> > merdeka kok
> > > > > > begini?
> > > > > > >Kalau memang benar, SBY punya hati untuk rakyat, situasi
> > seperti ini
> > > > > > harus
> > > > > > >mulai dibenahi sedikit demi sedikit! pajak yang dibayar oleh
> > > > rakyat harus
> > > > > >
> > > > > > >kembali ke rakyat dong! Fasilitas umum pemerintah yang
> > dibiayai dari
> > > > > > pajak
> > > > > > >juga belum mengena ke rakyat kecil.
> > > > > > >salam prihatin,
> > > > > > >ana
> > > > >
> > > > > Laporan Wartawan Kompas Suhartono
> > > > > http://www.kompas.co.id/ver1/Ekonomi/0611/21/124544.htm
> > > > > ====================
> > > > >
> > > > > BOGOR, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (21/11)
> > > > > siang, menyatakan ironis jika Indonesia yang sudah merdeka 60
> tahun,
> > > > > akan tetapi hingga kini masih terjadi kekurangan pangan yang cukup
> > > > > besar. Lebih ironis lagi jika kekurangan pangan itu masih terjadi
> di
> > > > > kalangan masyarakat kecil seperti para buruh dan petani yang
> justru
> > > > > menanam padi.
> > > > >
> > > > > Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disampaikan saat memberikan
> > > > > pengarahan sebelum menutup Sidang Pleno Konferensi Dewan Ketahanan
> > > > > Pangan (DKP) ke-3 di Ruang Garuda, Istana Bogor, Jawa Barat. Hadir
> > > > > dalam acara itu Menko Perekonomian Boediono, Menteri Pertanian
> Anton
> > > > > Apriyantono dan Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma'ruf serta para
> > > > > gubernur dan bupati.
> > > > >
> > > > > Presiden juga mengingatkan para pimpinan di daerah agar
> berhati-hati
> > > > > dalam mengelola ketahanan pangan di daerah masing-masing.
> Pasalnya,
> > > > > jika terjadi krisis pangan, bisa memancing aneka gejolak.
> > > > >
> > > > > "Jika tidak bisa kelola ketahanan pangan, akan terjadi kerawanan
> > > > > pangan. Jika terjadi kenaikan harga beras dan tidak bisa
> > > > > dikendalikan, maka kemiskinan bisa melonjak. Hati-hati jaga dan
> > > > > jangan terjadi terjadi kekurangan pangan. Jika tidak tersedia
> > pangan,
> > > > > rakyat akan kesulitan dan bisa terjadi aneka gejolak, termasuk
> > > > > gejolak politik," tambah Presiden.
> > > > >
> > > > > Tentang salah satu butir kesepakatan para gubernur dan pimpinan
> > > > > daerah lainnya tentang ketahanan pangan, yang dibacakan Gubernur
> > > > > Provinsi Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10, Presiden
> > > > > Yudhoyono menyambut baik.
> > > > >
> > > > > "Saya senang dan saya harapkan itu bisa dilakukan. Pengurangan
> > > > > tingkat kelaparan dan kemiskinan sebesar 1 persen per tahun, itu
> > > > > tidak mudah. Sebab, adanya lahan yang terbatas di daerah. Apalagi
> > > > > terjadi peralihan fungsi lahan pertanian. Oleh sebab itu,
> > kesepakatan
> > > > > itu bisa terwujud jika ada perluasan lahan pertanian," lanjut
> > > > > Presiden, seraya minta agar para pimpinan daerah menghentikan
> segera
> > > > > konversi lahan pertanian.
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke