Yang jadi masalah itu orang republik ini... Maunya enake dhewek nggak mikir rakyatnya... Kebanjiran, mringis stress dikatakan masih bisa tertawa... Beras susah karena dimainin oknum katanya pertanian kita gagal ujung-ujungnya mintak impor dari vietnam... Jadi ingat spanduk di putaran tugu kujang Bogor: "So Banjir Ya JaKarta, sontoloyo wakil rakyat" Pas khan? DG
On 2/10/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ngaca dulu sama komentar" ente mus.. :-p > Freeport ngasih makan Indonesia? Itu namanya MEMBESAR-BESARKAN.. > Infonya aja gak jelas gitu.. > > Bolivia tuh berhasil menegosiasi ulang kontrak dengan MNC pertambangan.. > Tapi lancar" aja (no problem) tuh. Penguasa Indonesia aja yang (maaf) > entah > bodoh, > mudah dibodohi, membodohi publik, bahwa kalau berani mengubah kontrak > dengan > > pihak asing bakal dikucilkan, dituntut, seperti ucapan Henry Kissinger > (salah satu elit > Freeport juga) sejak tahun 2000-an dulu.. Atau para pejabat di jaman > ORBA.. > > Yang pasti statement begituan, bakal diiyakan/didukung habis"an oleh > orang" > semacam > si mus (and the gank) ini.. CMIIW.. > > Wassalam, > > Irwan.K > > Pajak Ke Negara Nggak Jelas Bos Freeport Dipanggil Paksa > posted or edited by Hotsaritua Situmorang > last modified 11-01-2007 11 <javascript:void(0)>:42 > > Mangkirnya bos PT Frefoort Indonesia, James R Moffet atas panggilan > Panitia > Kerja (Panja) DPR, > membuat politisi Senayan kebakaran jenggot. Mereka menangkap kesan bos > Freeport ini ogah > buka-bukaan soal penerimaan pajak negara, yang diduga'tidak jelas > juntrungannya. > UNTUK itu, anggota dewan rencananya akan melakukan pemanggilan paksa > terhadap orang > Amerika ini, kalau perlu menggunakan jalur kepolisian. > > Menurut Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sonny Keraf, pemanggilan paksa bisa > dilakukan jika pihak > Freeport terus mengabaikan pemanggilan dewan. "Pemanggilan ini berkaitan > dengan dugaan > ketidakjelasan dalam perhitungan pajak pemerintah dari PT Freeport serta > adanya kerugian dari > sektor lingkungan yang nilai-nya cukup besar,' kata anak buah Megawati > kepada Rakyat Merdeka > di Jakarta, kemarin. > > Sonny mengatakan, ketidakjelasan pajak pemerintah bukan nanya terjadi pada > PT Freeport > melainkan juga kontrak karya lain. Seperti ExxonMobil Indonesia (EMOI), > Blok > Natuna serta > yang kontrak karya lain. > Seperti diketahui, dalam kontrak karya migas atau pertambangan, porsi bagi > hasil termasuk > setoran pajak bagi negara, kerap amburadul. Namun, tampaknya pihak negara > yang diwakili > Departemen Energi tak berdaya untuk menaikkan posisi tawar pemerintah. > > Lebih lanjut Sonny mengatakan, peninjauan ulang terhadap sejumlah kontrak > perlu dilakukan. > "Kesepakatan ini diambil sebagai dukungan partai dari sejumlah kalangan > LSM, > DPR atau > yang lainnya perihal tuntuntannya untuk meninja ulang sejumlah kontrak > yang > dinilai merugikan > negara,' ujarnya dalam Rakernas PDIP di Bali, beberapa hari lalu. > > Sonny mengungkapkan, ketidakjelasan pajak dari Freeport ini akibat > lemahnya > sistem pengawasan > pemerintah. Untuk itu, persoalan ini harus menjadi perhatian dewan. Kalau > perlu dibentuk tim > investigasi untuk meneliti penghasilan Freeport sebenarnya. > "Semua itu karena lemahnya sistem pengawasan yang dilakukan pemerintah. > Makanya penerimaan > pajak jadi tidak jelas dan ini harus menjadi perhatian khusus bagi > pemerintah, yakni dengan cara > meninjau ulang isi Kontrak Karya (KK) Freeport," ujar Sonny di Jakarta. > > Menurut anak buah Megawati itu, sudah sepatutnya KK Freeport ditinjau > ulang. > Selain, banyak > ketimpangan di dalam isi KK tersebut, reaksi masyarakat yang menentang > juga > teramat banyak. > "Adapun persoalan yang terjadi yaitu, persoalan tanah ulayat yang terjadi > di > daerah Timika, > di mana hak ganti rugi tidak diberikan oleh masyarakat, pemberian jasa > tambang lebih condong > ke pihak asing bukan ke lokal, serta ketidaktrasparanan perihal dana dan > saham dalam memproduksi > barang tambang," ungkapnya. > > Hal senada dikemukakan politisi Partai Demokrat (PD), Bur Maras. Menurut > dia, polemik penerimaan > pajak pemerintah dari Freeport sedang dalam proses investigasi oleh panja > DPR, karena bagaimana > pun soal ini harus segera dituntaskan, sehingga di situlah akan ketahuan > berapa hasil pajak yang > akan diterima pemerintah dari Freeport," kata politisi Partai Demokrat itu > di Jakarta. > Bur Maras mengatakan, rencana pemanggilan terhadap bos PT Freeport James R > Moffet sedang > di-lakukan pihak panja. "Pemanggilan James R Moffet itu hanya untuk > dimintai > keterangan mengenai > proses pengelolaan hasil tambang," tukasnya. > > Sementara ketika dikonfirmasi Corporate Secretary PT Freeport Indonesia, > Mindo Pangaribuan > mengatakan, pihaknya sudah melaporkan hasil pajak serta jumlah royalty > yang > harus dibayar oleh > pemerintah. Bahkan, dia menyarankan agar ditanyakan ke departemen keuangan > sehingga tidak terjadi > salah persepsi satu sama lain. "Laporan penerimaan pajak serta royalty > sudah > dilaporkan ke Depkeu, > jadi tanyakan saja ke Depkeu,'kilahnya. Terkait mangkirnya James Moffet di > Gedung DPR, dia enggan > memberikan keterangan. PIK > > Sumber : Rakyat Merdeka, 11 Januari 2007 > > On 2/10/07, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Quote: > > > ".. > > > Lalu kenapa harus heran terjadi kekurangan pangan??? Freeport itu > > > dikontrakkan kepada perusahaan asing hanyalah salah satu cara untuk > > > menambal kekurangan pangan, tapi hal inipun dicaci maki oleh mereka > > > yang beriman terutama umat Islamnya. Kalo memang Freeport itu tidak > > > boleh dikontrakkan kepada Asing, mau diapakan oleh kita??? > > > .." > > > > > > Tentu saja (ente yang benci Bung Karno) akan menolak seruan soal > > > membiarkan dulu kekayaan alam di Indonesia sampai putra-putri > > > Indonesia siap mengolahnya. Orang" jenis anda (termasuk elit yang > > > menguasai Indonesia?) memang gemar > > > > Apa alasannya saya harus difitnah benci Bung Karno ??? Sebaiknya > > berdebatlah yang wajar jangan fitnah2 yang sama sekali tak ada > > dasarnya. Semua pendapat saya selalu berdasarkan realitas yang ada > > sama sekali tidak dipengaruhi perasaan benci atau sayang, dan juga > > sama sekali tidak dipengaruhi kepercayaan. > > > > Kalo Sukarno yang jadi penguasa menganggap Freeport tidak perlu > > dikontrakkan, tentu hal itu merupakan hak dia sebagai penguasa, namun > > dia juga khan tidak benar karena Freeport itu bukan milik pribadi dan > > rakyat berhak untuk menikmati hidup tanpa kelaparan. Jadi kalo > > Sukarno melarang mengkontrakkan Freeport, sama sekali bukan berarti > > Suharto harus melakukan hal yang sama. Sukarno punya alasan meskipun > > tak ada dasar yang kuat, sedangkan Suharto punya alasan dengan dasar > > yang lebih kuat, yaitu negara butuh uang. Sama halnya dengan SBY yang > > membutuhkan dana untuk memberi nafkah kepada rakyatnya. > > > > Freeport itu cuma perusahaan swasta saja di Amerika sama sekali bukan > > tentara. Jadi urusan Freeport disana memang urusan pejabat2 RI > > sehingga jangan sembarangan tuduh dan fitnah karena Freeport itu > > bukanlah penjajah, bukan juga pemerintahan, juga bukan tentara. Urus > > saja hal itu dengan pemimpin2 anda tanpa harus menyalahkan orang2 dari > > negara lainnya. > > > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > > > menjual murah (atau bahkan DIRAMPOK) pihak asing - at least membiarkan > > > saja.. > > > sehingga tidak digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan > > publik/rakyat > > > Indonesia agar DAPAT HIDUP LAYAK.. > > > > > > Satu link yang mungkin bisa memberi gambaran isi UUD 1945 (dan hasil > > > amandemen) > > > > > > http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45 > > > > > > Seperti amanat UUD 1945 (termasuk versi yang diamandemen).. Dalam > > Pasal 27 > > > ayat 2 > > > "Tiap-tiap WARGA NEGARA BERHAK ATAS PEKERJAAN DAN PENGHIDUPAN YANG > LAYAK > > > bagi kemanusiaan" > > > > > > Jadi, kalau ada warga negara yang TIDAK HIDUP LAYAK (mis: kelaparan > atau > > > makan > > > nasi aking - yang sebenarnya PAKAN TERNAK), artinya SUDAH ADA > > PELANGGARAN > > > terhadap AMANAT UUD RI.. > > > > > > ".. > > > > Nasi yang dimakan itu berwarna coklat dan berair. Sejak harga > > beras mahal, > > > > Imi mengaku > > > > tak mampu membeli beras. Dia memilih membeli nasi kering yang > harganya > > > > lebih murah, > > > > hanya Rp 600 per liter. "Sebenarnya ini makanan bebek, tapi mau > > bagaimana > > > > lagi," ujarnya. > > > > .." > > > > > > > > > > Mungkin anda (si mus) yang memang 'US minded', hal semacam ini sudah > > tidak > > > terpikirkan > > > lagi.. Bagi anda, apapun yang datangnya dari amrik adalah suci dari > > > kesalahan dan harus > > > dipatuhi sepenuh jiwa.. Dan yang menolak hegemoni mereka, adalah > > teroris.. > > > Persis idiomnya Bush.. :-( > > > > > > CMIIW.. > > > > > > Wassalam, > > > > > > Irwan.K > > > > > > *Warga Tangerang Juga Makan Nasi Aking* > > > Kamis, 21 Desember 2006 | 15:13 WIB > > > > > > *TEMPO Interaktif*, *Jakarta*: > > > > > > Lebih dari 1000 jiwa warga desa Sukadiri, Kecamatan Sukadiri Kabupaten > > > Tangerang > > > mengkonsumsi nasi kering ( Aking). Kemarau panjang telah mengagalkan > > panen > > > padi, > > > warga tak mampu membeli beras karena harganya melambung tinggi. > > > > > > "Sejak bulan puasa, kami makan nasi kering ini, " kata Imi Bin > > Tajudin, 60 > > > tahun, warga > > > Kampung Gang Tali, RT 07, RW 05, Desa Sukadiri, Kecamatan Sukadiri, > saat > > > ditemui > > > Tempo dirumahnya, hari ini. Kampung itu dihuni sekitar 1000 kepala > > keluarga. > > > > > > > > > Nasi kering itu adalah nasi sisa yang tak habis dimakan, lalu > > dijemur hingga > > > kering. > > > Setelah itu nasi dicuci, lalu dikukus. Campurannya garam dan parutan > > kelapa. > > > > > > "Tidak membuat kenyang malah bikin sakit perut," kata janda tiga > > anak ini > > > yang ditemui > > > Tempo sedang memasak nasi itu sambil menyuapi cucunya. > > > > > > Nasi yang dimakan itu berwarna coklat dan berair. Sejak harga beras > > mahal, > > > Imi mengaku > > > tak mampu membeli beras. Dia memilih membeli nasi kering yang > > harganya lebih > > > murah, > > > hanya Rp 600 per liter. "Sebenarnya ini makanan bebek, tapi mau > > bagaimana > > > lagi," ujarnya. > > > > > > Joniansyah > > > > > > On 2/5/07, Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > > > > > > Kekurangan pangan tetap akan terjadi biarpun sudah seribu tahun > > > > merdeka. Kemerdekaan seharusnya diisi dengan kebebasan bukan malah > > > > diikat dengan kewajiban beragama !!! > > > > > > > > Beragama Islam seperti yang dianut mayoritas bangsa ini, membawa > > > > bencana pemerkosaan massal amoy, pembakaran gereja2, pembakaran > > > > mesjid2 ahmadiah, dlsb seperti kasus Ambon dan Poso. Apakah anda > > > > pikir kejadian2 ini tidak berpengaruh terhadap masalah kekurangan > > > > pangan??? > > > > > > > > Yang jelas, Indonesia sudah overpopulated terutama pulau Jawa. > > > > Bagaimanapun juga, ketergantungan kepada investasi asing sangatlah > > > > berpengaruh, baik untuk membuka lapangan pekerjaan dan juga untuk > alih > > > > teknologi. Namun akibat masyarakat dan pemerintahnya lebih > > > > mengutamakan agamanya, maka investor cenderung mencari jalan selamat > > > > karena investasinya bukanlah bahan untuk diumbar umat untuk mengejar > > > > pahala melalui teror2 seperti yang saya sebut diatas. > > > > > > > > Tidak ada anjuran yang lebih baik daripada lepaskan urusan agama > dari > > > > kenegaraan, urusan agama jangan jadi beban negara dan biarkanlah > > > > urusan agama menjadi beban individu masing2 penganutnya saja tanpa > > > > harus dicampuri oleh negara. Triliunan rupiah akan bisa dihemat kalo > > > > semua biaya pelajaran agama disemua sekolah2 publik dihentikan dan > > > > dilarang. Dari 15 juta jumlah guru di Indonesia, 8 juta adalah guru2 > > > > agama. Ditambah lagi masih ada sekitar 30 juta guru2 lulusan > sekolah2 > > > > agama yang menuntut pemerintah agar diangkat jadi guru tetap dengan > > > > gaji tetap tentunya. Lalu mau jadi apa negara ini kalo semuanya cuma > > > > pandai beragama??? Apalagi, kenyataan2 membuktikan agama terutama > > > > agama Islam hanyalah menciptakan berbagai malapetaka baik didalam > > > > negeri maupun diluar negeri. Akibatnya, pencari kerja dari Indonesia > > > > sering ditolak diluar negeri, mulanya memang mereka cuma basa basi > > > > bilang bersedia menerimanya, tapi kalo sudah dikirim maka mereka > > > > semuanya dikirim balik, selain karena tidak becus bekerja juga > sangat > > > > aggresive memaksakan kepercayaan mereka kepada lingkungan ditempat > > > > kerjanya sehingga merusak suasana kerja yang tidak lagi productive. > > > > Satu2nya jalan hanyalah dipecat, dipulangkan, dikatakan tidak > memenuhi > > > > persyaratan dan untuk hal seperti ini mereka tidak ada keinginan > untuk > > > > melatihnya. > > > > > > > > Lalu kenapa harus heran terjadi kekurangan pangan??? Freeport itu > > > > dikontrakkan kepada perusahaan asing hanyalah salah satu cara untuk > > > > menambal kekurangan pangan, tapi hal inipun dicaci maki oleh mereka > > > > yang beriman terutama umat Islamnya. Kalo memang Freeport itu tidak > > > > boleh dikontrakkan kepada Asing, mau diapakan oleh kita??? Teknologi > > > > tak ada, pasaran tak punya, wajar kalo tergantung orang2 asing demi > > > > sesuap nasi. Mau diberikan kepada pribumi sendiri juga tetap saja > > > > sang pribumi akan cari partner dari luar negeri sebagai kerja sama > > > > dengan asing yang lebih merugikan negara ini. > > > > > > > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED]<CIKEAS%40yahoogroups.com><CIKEAS%40yahoogrou > > ps.com>, IrwanK > > > > <irwank2k6@> wrote: > > > > > > > > > > Mustinya, berwacana adalah kemampuan para pengamat dan masyarakat > > > > biasa.. > > > > > Mereka tidak punya akses yang memadai untuk memberi arahan apa > > yang bisa > > > > > dilakukan untuk memperbaiki keadaan.. Pengamat dan masyarakat > > hanya bisa > > > > > berkiprah sebatas kemampuan mereka yang memang terbatas.. > > > > > > > > > > Beda dengan penguasa.. yang SEHARUSNYA punya kekuatan untuk > > menekan tim > > > > > dan para anak buahnya untuk memperbaiki keadaan.. tidak sekedar > > mengeluh > > > > > atau > > > > > cuma mengadu ke publik.. seperti TIDAK MENDAPAT MANDAT/AMANAH > > APA-APA > > > > > dari publik.. > > > > > > > > > > Kalo (merasa) berat dan tidak mampu membenahi, mengapa dulu > > berani/maju > > > > > berkompetisi? Baru tahu kalau 'sulit mengelola negara'? Kemana aja > > > > selama > > > > > ini > > > > > jadi Menteri/Pejabat? Atau majunya dulu karena ada KEWAJIBAN > > MELINDUNGI > > > > > (local) BIG BOSS ORBA dari tuntutan hukum dan politik? > > > > > Kalau benar demikian, memang sulit kalau terbiasa tidak jujur dan > > > > > berkelit.. :-( > > > > > > > > > > CMIIW.. > > > > > > > > > > Wassalam, > > > > > > > > > > Irwan.K > > > > > > > > > > On 11/23/06, Haniwar Syarif <syarif@> wrote: > > > > > > > > > > > > Menurut sy SBY nggak berhak bertanya kenapa..tapi harusnya > > > > menjelaskan , > > > > > > > > > > > > kenapa Indonesia begini > > > > > > > > > > > > Bayangkan aja.. di jaman Mbah Harto jadi Menteri Pertambangan > yang > > > > ikut > > > > > > tanggung jawab hilangnya kekayaan alam Indonesia tanpa > ternikmati > > > > dengan > > > > > > maksimal bagi rakyat, di Jaman Gus Dur juga jadi menteri.., di > > > > Jaman Mega > > > > > > jadi Menko.., sekarang Presiden.. > > > > > > > > > > > > Kok cuma bisa berwacana... berironi.....prihatin..... > > > > > > > > > > > > mestinya sih jelaskan dong...lalu pecahkan masalahnya.... ayo > > > > tinggal 3 > > > > > > tahun lagi.. krn SBY orang yang pengalamannya begitu banyak dan > > > > katanya > > > > > > otaknya encer.... aku kecewa... > > > > > > > > > > > > Salam > > > > > > > > > > > > Haniwar > > > > > > > > > > > > At 14:17 22/11/2006, you wrote: > > > > > > > > > > > > >Buat saya kok ya aneh kalau SBY bicara begitu, harusnya dia > > bertanya > > > > > > >kenapa bangsa Indonesia masih bisa kekurangan pangan, padahal > > tanah > > > > > > >indonesia ini dalam bahasa jawanya dibilang: gemah ripah loh > > > > jinawi! dan > > > > > > >saya membenarkan! kalau kita masih tetap saja miskin..itu > > yang sangat > > > > > > >aneh,..aneh tapi nyata!! > > > > > > >Dulu waktu SD kata guru saya, negara Indonesia adalah negara > > agraris, > > > > > > tapi > > > > > > >mana buktinya, tanah-tanah persawahan sudah menjadi mall atau > > > > perumahan > > > > > > >atau pertokoan, hasil pertanian dihargai SANGAT MURAH, > pemerintah > > > > > > >melegalkan import hasil pertanian. harusnya ya presiden > > bertanya pada > > > > > > >dirinya sendiri, mengapa indonesia yang katanya 60 tahun > > merdeka kok > > > > > > begini? > > > > > > >Kalau memang benar, SBY punya hati untuk rakyat, situasi > > seperti ini > > > > > > harus > > > > > > >mulai dibenahi sedikit demi sedikit! pajak yang dibayar oleh > > > > rakyat harus > > > > > > > > > > > > >kembali ke rakyat dong! Fasilitas umum pemerintah yang > > dibiayai dari > > > > > > pajak > > > > > > >juga belum mengena ke rakyat kecil. > > > > > > >salam prihatin, > > > > > > >ana > > > > > > > > > > Laporan Wartawan Kompas Suhartono > > > > > http://www.kompas.co.id/ver1/Ekonomi/0611/21/124544.htm > > > > > ==================== > > > > > > > > > > BOGOR, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (21/11) > > > > > siang, menyatakan ironis jika Indonesia yang sudah merdeka 60 > tahun, > > > > > akan tetapi hingga kini masih terjadi kekurangan pangan yang cukup > > > > > besar. Lebih ironis lagi jika kekurangan pangan itu masih terjadi > di > > > > > kalangan masyarakat kecil seperti para buruh dan petani yang > justru > > > > > menanam padi. > > > > > > > > > > Pernyataan Presiden Yudhoyono itu disampaikan saat memberikan > > > > > pengarahan sebelum menutup Sidang Pleno Konferensi Dewan Ketahanan > > > > > Pangan (DKP) ke-3 di Ruang Garuda, Istana Bogor, Jawa Barat. Hadir > > > > > dalam acara itu Menko Perekonomian Boediono, Menteri Pertanian > Anton > > > > > Apriyantono dan Menteri Dalam Negeri Mohammad Ma'ruf serta para > > > > > gubernur dan bupati. > > > > > > > > > > Presiden juga mengingatkan para pimpinan di daerah agar > berhati-hati > > > > > dalam mengelola ketahanan pangan di daerah masing-masing. > Pasalnya, > > > > > jika terjadi krisis pangan, bisa memancing aneka gejolak. > > > > > > > > > > "Jika tidak bisa kelola ketahanan pangan, akan terjadi kerawanan > > > > > pangan. Jika terjadi kenaikan harga beras dan tidak bisa > > > > > dikendalikan, maka kemiskinan bisa melonjak. Hati-hati jaga dan > > > > > jangan terjadi terjadi kekurangan pangan. Jika tidak tersedia > > pangan, > > > > > rakyat akan kesulitan dan bisa terjadi aneka gejolak, termasuk > > > > > gejolak politik," tambah Presiden. > > > > > > > > > > Tentang salah satu butir kesepakatan para gubernur dan pimpinan > > > > > daerah lainnya tentang ketahanan pangan, yang dibacakan Gubernur > > > > > Provinsi Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono ke-10, Presiden > > > > > Yudhoyono menyambut baik. > > > > > > > > > > "Saya senang dan saya harapkan itu bisa dilakukan. Pengurangan > > > > > tingkat kelaparan dan kemiskinan sebesar 1 persen per tahun, itu > > > > > tidak mudah. Sebab, adanya lahan yang terbatas di daerah. Apalagi > > > > > terjadi peralihan fungsi lahan pertanian. Oleh sebab itu, > > kesepakatan > > > > > itu bisa terwujud jika ada perluasan lahan pertanian," lanjut > > > > > Presiden, seraya minta agar para pimpinan daerah menghentikan > segera > > > > > konversi lahan pertanian. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Reading only, http://dear.to/ppi > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

