Wartawan dan media massa yang menurunkan tulisan ini gak punya kerjaan apa? :-P Pake \nyela" Kejaksaan Agung.. :-P Mustinya kalau lihat aparat negara tidak berhasil menjalankan tugasnya, mereka memberikan solusi donk, bukan hanya mengkritik.. Apa"an tuh.. publik koq bisanya cuma ngoceh doank.. mana kerja/sumbangsihnya buat negara? :-(
CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 2/13/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/13/Politikhukum/3314561.htm > ======================= > > Tanggal 17 Oktober 2006, Kejaksaan Agung mengumumkan foto wajah dan > ciri- ciri terpidana kasus korupsi yang berstatus buron. Dari 14 nama > koruptor yang akan diumumkan secara bergiliran, Sudjiono Timan > (Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia) mendapat giliran > pertama. > > Berikutnya, Eko Edi Putranto (mantan Komisaris PT Bank Harapan > Sentosa), Lesmana Basuki (Presiden Direktur PT Sejahtera Bank Umum), > Samadikun Hartono (mantan Komisaris Utama PT Bank Modern), Sherly > Kojongian (Direktur Kredit PT BHS), Nader Thaher (Direktur PT Siak > Jamrud Pusako), Tony Suherman (Direktur PT SBU), dan Dharmono K Lawi > (anggota DPR), yang diumumkan foto dan ciri-ciri fisiknya. Foto > mereka ditayangkan sebuah stasiun televisi, yang bekerja sama dengan > Kejagung. > > Program itu tak bebas kritik. Koordinator Badan Pekerja Indonesia > Corruption Watch Teten Masduki menyebut penayangan wajah dan ciri > koruptor hanya upaya simbolis menunjukkan kejaksaan serius menangani > kasus korupsi (Kompas, 15 November 2006). > > Faktanya, pengumuman koruptor buron saat ini terhenti. Entah > kebetulan atau tidak, pascapenangkapan Dharmono K Lawi di Bandung, > Jawa Barat, 19 Desember 2006, tiada lagi pengumuman foto dan ciri > fisik koruptor buron oleh Kejagung. > > Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Salman Maryadi menegaskan, > pengumuman dan penayangan foto wajah dan ciri koruptor buron tetap > diteruskan. "Sesudah koordinasi dengan pihak televisi dan polisi, > kami teruskan lagi," katanya. > > Ia menampik terhentinya penayangan wajah dan ciri koruptor buron > karena kejaksaan sudah puas atas tertangkapnya Dharmono. "Tak ada itu > istilah puas. Program ini tetap diteruskan," bantahnya lagi, pekan > lalu. > > Ketua Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Hasril Hertanto > berharap kejaksaan jangan hanya puas dengan hasil sesaat yang > dicapai. Program yang sudah digodok, tetapi tak dituntaskan, > menunjukkan realitas kejaksaan hanya ingin memberi kesan bekerja > dengan sungguh-sungguh kepada masyarakat. Padahal, itu saja tak > cukup. > > "Seperti publikasi untuk masyarakat, yang penting kejaksaan kerja, > begitu," kata Hasril di Jakarta, Minggu (11/2). > > Bagi masyarakat, ujar dia, sebenarnya pengumuman wajah buronan bukan > tolok ukur penting. Justru tindak lanjut memburu koruptor, dan tentu > saja menangkapnya yang diikuti dengan mengembalikan uang negara, > adalah yang dinanti masyarakat. Tetapi, sekarang kejaksaan sudah tak > mengumumkan koruptor, belum menangkap pula...! (dewi indriastuti) > . > [Non-text portions of this message have been removed]

