They love me like I was a brother. They protect me. Listen to me. 
They dug me my very own garden. Gave me sunshine. Made me happy… 
[nice dream... nice dream... nice dream...]

Saya selalu teringat Indonesia, tiap kali menyimak lagu 'nice dream'
dari radiohead. Negara yang didirikan dengan tujuan melindungi segenap
tumpah darah Indonesia dan menurut saya gagal melindungi warganya.
Kita senantiasa berharap negara, yang dalam hal ini dikelola oleh
pemerintah RI, dapat melindungi kita sebagai warga negara Indonesia
yang menurut seorang penyair adalah pemilik sah republik ini. Tapi
tampaknya semua itu hanyalah mimpi yang indah.
Saat gempa tsunami terjadi di Aceh dan beberapa daerah lainnya di
wilayah Indonesia, apakah warga Indonesia memperoleh perlindungan yang
layak? Sampai saat ini pun mega proyek rekonstruksi Aceh masih amburadul.
Kita menyimak kisah pedih banyak orang yang menjadi tahanan G30SPKI
yang disiksa, dipenjara tanpa pengadilan dan kemudian dinistakan
hidupnya. Apakah negara mampu melindungi warganya yang memiliki
pandangan politik yang berbeda dengan penguasa? 
Ketika mahasiswa dan kelompok pro demokrasi lainnya meneriakkan "cabut
dwifungsi ABRI" dan mempercayai sosialisme demokrat sebagai alternatif
dari politik otoritarian, apakah negara mampu melindungi mereka dari
penghilangan secara paksa dan impunitas yang dilakukan penguasa? 
Bahkan ketika kita bepergian ke berbagai tempat menggunakan sarana
transportasi massal, baik darat, laut maupun udara, apakah negara
mampu melindungi kita dari kecelakaan fatal yang disebabkan
keteledoran, sistem audit tidak tidak bertanggung jawab dan sikap yang
korup?
Sekarang ini, banjir melanda Jakarta dan banyak kota di seantero
nusantara. Juga bencana longsor yang memakan korban jiwa. Apakah
negara bisa melindungi kita? 
Operasi penyelamatan secara resmi baru dilaksanakan pada hari ketiga
bencana (sebagaimana kecelakaan pesawat Adam AIr, operasi SAR baru
dimulai secara resmi pada hari ketiga). Kalaupun ada upaya-upaya yang
dilakukan menyangkut evakuasi korban, pendirian posko bencana dan
dapur umum, serta penyaluran bantuan, hampir bisa dipastikan sebagian
besar dimulai dengan swadaya warga dan inisiatif dari lembaga maupun
individu yang secara formal sebenarnya bukan merupakan tugas resmi
mereka. Ratusan perahu karet yang digunakan untuk mengevakuasi korban
banyak diperoleh dari kelompok penggemar olah raga air.
Bahkan ada orang yang menyelamatkan sesama warga menggunakan jetski
yang dia miliki untuk mengevakuasi ke tempat yang lebih aman. Di
tempat lainnya, warga melakukan sendiri proses evakuasi menggunakan
fasilitas seadanya, bahkan rakit dan gedebong pisang pun dipakai. Di
malam yang dingin karena Jakarta diguyur hujan seharian, dan gelap
karena listrik padam, ribuan warga Jakarta  harus tinggal di
pinggir-pinggir jalan, di emperan toko, di jembatan tol, tanpa alas
dan selimut yang memadai. Bagi mereka, banjir yang melanda Jakarta dan
memusnahkan harta benda mereka merupakan tonggak
yang menandakan mereka kembali lagi ke nol kilometer.
Dan para pembesar DKI kini sibuk tampil di TV melakukan pembelaan diri
dengan menyalahkan cuaca, keterbatasan jumlah perahu karet, dan Banjir
Kanal Timur yang belum jadi. Sutiyoso sebagai orang nomor 1 DKI lebih
memikirkan apakah dampak musibah ini terhadap kampanye pencalonan
dirinya menjadi presiden RI, sedangkan Fauzi Bowo memikirkan bagaimana
bencana ini tidak mempengaruhi perolehan suaranya dalam Pilkada DKI
mendatang.
Jadi, jika masih berpikir bahwa negara dan pemerintah akan memberikan
perlindungan kepada kita, bahkan di jalan raya sekalipun, saya hanya
bisa berucap,"mimpi yang indah!"

Kirim email ke