setuju sama konsep dasar yang di rumuskan
oleh jeng Listy :)
**>
**> jeng Listy:
**> -----------
**> program "memperbanyak orang menjadi kaya raya"
**> akan lebih berhasil, daripada..
**> program "mengentaskan diri dari kemiskinan"
**>
kalo pandangan saya,
pokok-nya sejak jaman-nya rePor-masi ini,
lembaga-2 perwakilan rakyat tiba-2 muncul
menjadi lembaga *-power-carrier-* yang
luar biasa.
kalau betul gaji anggota DPR/DPRD itu minimum
Rp 4 juta < ini sudah DPRD yang daerahnya
termasuk *-memelas-* kali ya :) > sudah
cukup jelas, bahwa cara paling mudah untuk
meningkatkan *-kesejahteraan-* rakyat Indonesia
adalah:
==> dengan cara mengangkat sebanyak-banyaknya
rakyat Indonesia agar menjadi anggota DPRD
memang tentu tidak mungkin sekuruh rakyat indonesia
dewasa yang jumlahnya sekitar 100 - 125 juta an menjadi
anggota DPRD. Jadi yah cukup 10% nya saja.
dasarnya ya teori yang disebut sebagai "multiplier
effects" mungkin ya. Kalau 10% rakyat Indonesia ini
tiba-2 menjadi orang kaya, maka efek ekonominya akan
menjalar, karena tingkat konsumsi juga diharapkan
akan meningkat.
Meningkatnya konsumsi artinya akan meningkatkan
permintaan/demand, artinya akan membuka lapangan kerja.
Contohnya saja, karena tiba-2 banyak rakyat Indonesia
yang - sebagai anggota DPRD - taraf hidupnya meningkat,
maka:
=> kebutuhan mobil baru meningkat : ini efek berikutnya
akan menambah ukuran lapangan kerja yang sudah ada:
-> peluang kerja utk. buruh baru pabrik/industri mobil
-> peluang kerja utk karyawan baru agen/dealer mobil
-> peluang kerja utk. montir baru
-> peluang kerja utk. tukang tambal ban pres
-> peluang kerja utk. sopir pribadi
-> peluang kerja utk. tukang parkir baru
-> peluang kerja utk. tukang puter/pak 'ogah' & preman-2
( + sumbangan keuntungan bagi industri-2 mobil di negara
maju: Toyota, Ford, BMW, Suzuki, dsb. dsb. )
=> kebutuhan handphone meningkat :
-> peluang baru buat perusahaan operator telekomunikasi
utk. memingkatkan kapasitas infrastrukturnya
-> peluang buat 'insinyur telekomunikasi' utk.
(lagi-lagi) direkrut menjadi "kuli", memasang
kan perangkat telekomunikasi produk negara maju
-> peluang kerja menjadi pelayanan toko di toko-2 handy
-> peluang kerja munculnya kios-2 penjual kartu telepon
( + sumbangan keuntungan bagi industri-2 telekomunikasi
di negara maju: Erricson, Nokia, Motorola,
Alcatel, Siemens, etc.)
=> kebutuhan komputer, laptop dan sambungan internet
meningkat
( + sumbangan keuntungan bagi industri-2 komputer/IT
di negara maju: Intel, Dell, Toshiba, Microsoft, etc.)
=> kebutuhan akan supermarket-2 asing meningkat
=> kebutuhan akan "isteri baru" meningkat: dan
"isteri baru" ini juga akan bisa men-generate
tambahnya pola konsumsi baru, dst. dst.
sedemikian rupa, sehingga menurut prinsip-2 ekonomi
Keynesian, sudah jelas efek di angkatnya 10% rakyat
Indonesia menjadi anggota DPRD itu sudah jelas-2
menguntungkan bagi peningkatan konsumsi, dan akhirnya
bagi pertumbuhan ekonomi, bahkan hingga pada level
ekonomi global.
-----( IM )---------------------------
--- In "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> tapi Pak, menurut perasaan saya,
> bisa jadi..
> program "memperbanyak orang menjadi kaya raya"
> akan lebih berhasil, daripada..
> program "mengentaskan diri dari kemiskinan"
>
> masalahnya..
> bagaimana caranya, supaya penduduk negeri ini,
> semuanya, bisa menikmati, program "memperbanyak
> orang menjadi kaya raya"
>
> :)
>
> demikian..
>
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of Mas Bagong
> Sent: Friday, February 16, 2007 9:28 AM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [ppiindia] yg gaji besar perlu bertanya pada diri sendiri
>
>
>
> Baru sadar rupanya si Otodidak Atjeh ini...
> Perasaan saya sudah nulis masalah ini berkali-kali di masa lalu...
> DG
>
> On 2/15/07, Otodidak < hai_otodidak@
<mailto:hai_otodidak%40yahoo.com> yahoo.com> wrote:
> >
> > Aliran dana dan kehadiran komunitas internasional
> > tentu saja berpengaruh terhadap berbagai sisi
> > kehidupan di gampông kita (Aceh). Salah satu dampak
> > tersebut adalah meningkatnya harga jual-beli,
> > sewa-menyewa dan perubahan standar gaji. Kelangkaan
> > membuat hukum ekonomi berlaku mutlak, tak peduli bahwa
> > gampông ini baru saja luluh lantak di sapu tsunami.
> > Apalagi tidak ada intervensi pemerintah sama sekali
> > untuk, misalnya, mengatur harga atau mementukan batas
> > maksimal harga sewa-menyewa demi rasa keadialan
> > rakyat.
> >
> > Bagi yang bergaji besar, mungkin sekali-sekali perlu
> > bertanya pada diri sendiri "Sudah atau belum maksimal,
> > atau paling tidak optimal, kah kerja saya selama ini
> > sehingga saya berhak (tidak berhak) dengan gaji
> > sebesar (atau sesedikit ini)?" Bagi yang merasa orang
> > lain mendapat gaji terlalu besar dengan dana publik
> > sementara kinerjanya sangat minimal, teruslah
> > melakukan protes! Peutreun boh tek-tok sendiri saja
> > asyik, apalagi peutreun boh tek-tok orang lain!
> >
> > Baca lengkapnya di OASE web Aceh Institute Jumat ini >
> > Boh Tek Tok > Oleh Dian Rubianty
> > http://www.acehinst <http://www.acehinstitute.org/> itute.org/
> >