Buat yang sedang bingung,
Kalau baca cerita anda, rasanya gampang untuk memberi saran "biarkan 
saja pacarmu mundur". Tapi, karena anda sedang bingung krn anda sdg 
fall in love, maka hilangkan dulu kebingungan anda baru anda bisa 
berfikir jernih spt orang2 yg tdk mengalami masalah ini.

Kejadian anda mirip dengan kejadian teman saya. Teman saya itu yaa 
sebagai pacar anda. Teman saya juga hanya menunggu kepastian dari 
laki2nya mau ceraikan istri atau tinggalkan dia. 
Menurut teman saya (yang suka curhat ke saya), kalau saja pacarnya 
itu memang memilih istrinya, ya sudah tinggalkan dia dan pasti dia 
bisa juga berusaha untuk memutuskan hubungan ini. Nyatanya, setelah 
7 tahun tidak pernah ada kepastian dari pacarnya itu.

Saya suka bilang ke teman saya,"dah tau pacarmu banci, kok kamu 
masih aja nunggu kepastian dari dia. Udah kamu tinggalin aja! Kamu 
tidak akan pernah bisa bahagia diatas kehancuran orang lain". 
Tapi..teteb aja hubungan itu berlanjut. Susah kan orang kalo 
sudah "mabok".

Jadi, saya pikir anda, sebagai laki-laki harus tegas. Katakan pada 
pacarmu dan keluarganya,"oke lah, kalau kamu mau mundur ya aku 
ikhlas". That is all!. Semoga anda belum sampai "mabok"...:-)

Apalagi urusan yang buat tambah ruwet adalah urusan pake2 dukun/ 
musyrik gitu.  Ngapain berurusan dgn keluarga yang percaya begitu? 
Akan ada kecurigaan terus. Leave that kind life behind...
"Hanya kepada Allah kita meminta..."

wassalam,



--- In [email protected], "sedangbingung" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Saya sudah bekeluarga dengan dua orang anak , sekitar 3 tahun yang 
> lalu saya berkenalan dengan teman seprofesi saya seorang wanita , 
> ternyata kami saling tertarik , namun karena pada saat itu ia 
masih 
> bersuami , kami menghentikan hubungan kami sementara . Setelah ia 
> berpisah ( dengan alas an tidakada kecocokan dan tidak ada 
anak ) , 
> kami melanjutkan hubungan kami , semakin lama semakin indah kami 
> menuliskan cerita cinta kami, usia kami terpaut 4 tahun  . Tidak 
> terasa waktu sudah berjalan 3 tahun , dan saya ingin mengawini-
nya , 
> sebagai istri kedua . Dalam perjalanan kisah kami , sempat 
beberapa 
> kali kami mencoba untuk berpisah karena keadaan kita , namun 
> beberapa bulan berselang kami akrab lagi , dan kembali bersama ( 
> kami satu kantor dan satu profesi ) .
> Kembali ke soal menikah , pada awalnya ia tidak keberatan saya 
> nikahi sebagai istri kedua, namun saat ini , atas desakan orang 
> tuanya ia menolak untuk dijadikan istri kedua ( istri saya sudah 
> merestui bila saya menikah lagi )  . Pernah suatu waktu , saya 
> berdiskusi dengan orang tuanya , dan mereka menuntut saya untuk 
> menceraikan istri pertama saya dulu , baru menikahi anak wanita 
> mereka . Bagi saya itu syarat yang GILA , saya berpendapat apa 
yang 
> saya miliki sekarang adalah suatu rahmat dan karunia dari Allah , 
> termasuk keluarga dan anak anak saya , mana mungkin saya 
meniadakan 
> mereka, mana mungkin saya menyi-nyiakan mereka , khususnya anak 
anak 
> saya . Sempat saya berargumen dengan mereka , bahwa kenapa saya 
> harus memilih jalan yang dibenci oleh Allah walaupun itu halal ( 
> perceraian ) disbanding dengan jalan yang diperbolehkan oleh Allah 
( 
> walaupun dengan syarat syarat tertentu ) , namun mereka 
bersikeras ; 
> bahwa saya harus menceraikan dahulu keluarga saya baru menikah 
> dengan anak mereka .
> Pernah suatu saat , mereka membawa pacara saya itu ke dukun , dan 
si 
> mbah dukun bilang  kalau saya memakai susuk sehingga anak mereka 
> tertarik pada saya , dan sejak itu mulailah segala prosesi anneh 
bin 
> ajaib ( menurut saya ) yang tujuannya meniadakan pengaruh susuk 
saya 
> ke anak mereka , pada Subhanallah , saya seorang professional , 
yang 
> cukup mapan , dan punya kepercayaan diri yang cukup kuat , 
ditambah 
> lagi factor utama adalah bahwa hal itu termasuk Musyrik , sehingga 
> mana mungkin saya memakai susuk, pellet, atau ajian dan doa doa 
yang 
> lain .
> Kini pacar saya mulai berubah , ia bersikeras , tidak akan mau 
> menikah dengan saya TANPA restu dari orang tuanya , sementara kita 
> sudah melangkah dan menuliskan kisah kita cukup lama , dan 
sekarang 
> ia memberi batas waktu ke saya ; kalau sampau akhir tahun 2008 
tidak 
> juga ada tanda tanda kita bisa menikah seperti yang mereka 
inginkan 
> ( keluarga pacar saya ) , maka ia akan mundur .
> Terus terang bila ingat semua perjalanan cerita kita , saya 
sedih , 
> saya sudah memberikan apa yang dia mau bila ia kelak menjadi istri 
> saya , dan ia pun sudah bercerai dengan suaminya , ijin istri 
kedua 
> sudah saya dapatkan , namun ia tetap mau mundur bila tidak ada 
tanpa 
> tanda kita bakal menikah , dengan alasan  ia ingin mempunyai 
anak , 
> dan tidak mau merusak hubungannya dengan orang tuanya . Mungkin 
ada 
> yang bisa membantu saya , apa yang harus saya lakukan , untuk 
> mendapatkannya tanpa harus meninggalkan keluarga , khususnya anak 
> anak saya .
> 
> thanks
>


Kirim email ke