Hipokrisi? Kisah Dua Pengacara

Kolom Aboeprijadi Santoso 23 Feb. 2007

Rambutnya sama peraknya, sama sama pengacara, sama sama kondangnya, 
PeDe-nya sama tegarnya, sama sama suka jadi selebriti pula, dan, last 
but not least, sama sama jadi pembela hukum dari dua tersangka 
penjahat kakap. Bram Moszkowicz mirip Adnan Buyung Nasution. Bram, 
pengacara Belanda itu, membela tersangka kriminal berat Willem 
Holleeder. Buyung pernah membela tersangka kejahatan HAM berat 
Jenderal Wiranto. Bram terjungkal, Buyung tetap berkibar. Jadi? 

Konon, di Belanda tak ada keluarga pengacara semasyhur the 
Moszkowiczs. Tapi Senin 19 Feb. yl. adalah hari hitam bagi 
Abraham "Bram" Moszkowicz. Dia mengumpulkan media, lalu berseru "Ik 
ga stoppen (Saya berhenti) membela Holleeder". 

Seluruh Belanda terkejut. Mengapa seorang pengacara-top tiba tiba 
menghentikan advokasinya padahal sidang belum dimulai? "Ini aib bagi 
profesi pengacara, bagi kehakiman, bagi kita semua!" seru Bram sambil 
menuduh bahwa aparat kehakiman berkonspirasi, dan media massa 
merekayasa citra buruk dirinya. Bram menyatakan tak mampu lagi 
menjalankan profesinya secara kredibel, dan mengaku mengambil 
keputusan tadi demi Holleeder, bukan demi dirinya.

Adnan Buyung Nasution juga membuat kejutan ketika memutuskan membela 
Jenderal Wiranto dalam kasus Tim-Tim berdarah September 1999. Tapi 
banjir kritik hanya datang dari luar negeri dan LSM Indonesia, maka 
Buyung pun melenggang terus. Namaku toh sudah mentereng, kasus Pak 
Wir tak'kan mencoreng, begitu mungkin pikir Buyung.

Sebaliknya, pemberitaan seputar Bram Moszkowicz belakangan gencar. 
Dia dicurigai main mata dengan kelompok bandit yang dipimpin 
Holleeder. Mengingat hubungan Bram dan Holleeder kental selama dua 
dasawarsa, seorang produser televisi terang-terangan menyebut 
Bram "mafia maatje" (sohibnya mafia). Bram marah, menggugat, tapi 
pengadilan menepis. Dia sakit hati. Sekarang, berkat wibawa 
pengadilan tsb, siapa pun sah sah saja menyebut Bram "sohibnya 
mafia". 

Seperti Bram Moszkowicz, Buyung boleh jadi pernah punya hubungan 
kental dengan nasabah-bermasalah. Kalau pernah dekat dengan B.J. 
Habibie, waktu itu presiden, mengapa tak sempat akrab dengan "Pak 
Wir", bukan?
  
Yang menarik, perilaku Bram Moszkowicz amat dramatis dan theatrikal. 
Semula dia mengaku terancam, lalu polisi datang mengamankannya "ke 
luar negeri" kemudian dia muncul di muka pers di sebuah hotel di 
pinggir Amsterdam dengan wajah muram, suara serius dan mimik sarat 
emosi. Esoknya, Bram memberitahukan keputusan tadi kepada Holleeder 
di penjara. Kabarnya ini pun berlangsung emosional bagi Bram mau pun 
Holleeder. 
  
Ada pun Willem Holleeder adalah penjahat Amsterdam tersohor 
sepeninggal bosnya, Cor van Hout. Semasa muda, tahun 1980an, 
Holleeder menculik taipan bir Alfred Heineken dan supirnya, dan 
menuntut tebusan sebesar 35 juta gulden (sekarang 16 juta Euro). 
Dihukum 11 tahun penjara, lepas dari sel, dia lanjutkan "karir"nya. 
Kini dia dituduh terlibat pemerasan dan, mungkin juga, pembunuhan 
sejumlah taipan yang diperas, atau memerasnya. 
Buyung sesungguhnya lebih heibaat dari pada Bram. Bram Moszkowicz 
berurusan dengan kriminalitas kakap, sedang Buyung dengan jenderal 
kakap. Selaku pengacara, Bram harus menjaga hak hak sipil tersangka, 
itu saja. Kalau Bram diduga secara gelap terlibat mafia-nya 
Holleeder, Buyung dipastikan tidak terlibat ulah "Pak Wir" di Tim-
Tim. Bahkan Buyung, sebagai pembela HAM, berbeda dengan Bram, 
berbobot politik. Sepak terjangnya bisa jalan terus, sedangkan Bram 
cepat tersandung.

Soalnya, malang bagi Bram, Amsterdam sudah menggantikan Palermo 
1920an dan Chicago 1930an. Sepanjang dasawarsa terakhir ini, di 
ibukota Belanda itu terjadi belasan likwidasi, alias perang antara 
sejumlah koalisi penjahat dan pengusaha kakap. Meminjam yargon 
sosiologi: inilah perang antar lumpen, antara koalisi borkap 
(borjuasi kakap) dan borcil (borjuasi kecil) melawan koalisi sejenis. 
Di situ penjahat-tersamar dan penjahat-terbuka bisa berkoalisi atau 
bertarung. 

Holleeder, dulu dibela oleh ayah Bram, Max Moszkowicz, kini oleh sang 
anak. Tak heran, tersangka mau pun para pengacaranya jadi tenar 
campur cemar. Holleeder dijuluki "mafioso ulung Belanda", dan the 
Moszkowiczs jadi legendaris.    

Syahdan, kisah Adnan Buyung Nasution amat berbeda. Pernah duduk di 
kursi Golkar di DPR-nya Orde Baru, Buyung lalu hengkang. Tahun 1970an 
dia memelopori LBH, Lembaga Bantuan Hukum, bagi kaum miskin, dan 
belakangan banyak membantu para aktivis pro-demokrasi yang digebuki 
oleh aparat Soeharto. Saya pun termasuk di antara sekian banyak 
pengagumnya. Konon, beberapa aktivis pro-dem, saking kagumnya pada si 
Abang yang satu ini, ketika melamun di atas rel kereta api di sebuah 
kota di Jawa Timur, mendapat ilham: "Nah, dia-lah lokomotif kita!" 
Sejak itu, Adnan Buyung termasyhur sebagai "lokomotif demokrasi". 
Awal 1980an sampai medio 1990an gerakan pro-dem 
kehilangan "lokomotif" tsb, karena si Abang memburu doktornya di 
Universitas Utrecht, Belanda. 

Pada masa itulah isu Tim-Tim, atas nama HAM, menguasai panggung dunia 
dan menyengat reputasi republik dan bangsa. Si Abang, dengan 
semangatnya, bagaikan lokomotif beneran tak peduli kiri dan kanan, 
melaju menggaet PhDnya. Pernah Radio Nederland minta wawancara soal 
Tim-Tim, dia berkelit. Jawabnya: "Aach Tossi, sudahlah, lupakan saja 
Tim-Tim itu!" Terkejut saya, sang "lokomotif demokrasi" itu tak 
peduli akan hak-hak ratusan ribu warga yang dilibas oleh lokomotif 
Orde Baru. Barangkali, seperti kebanyakan orang waktu itu, si Abang, 
dengan semangat nasionalistis yang kelewat dosis, menganggap Tim-Tim 
cuma "kerikil" yang mencuwil, dan Xanana cuma jagoan negeri Banana. 
Mungkin juga, si Abang melihat saya seolah warga Timor Leste, padahal 
saya asal Jawa Leste. 

Lima tahun kemudian, selepas bumi hangus Tim-Tim, September 1999, 
giliran publik dan teman teman pro-dem terkejut berat mendengar si 
Abang-"lokomotif" itu menjadi pembela Jenderal Wiranto, sosok yang 
menurut KPP-HAM (komisinya Komnas-HAM, notabene bekas anak anak didik 
Buyung) merupakan tersangka nomor wahid dalam kasus Tim-Tim September 
1999. Saking kagetnya, banyak teman berkomentar singkat, tapi 
bermakna: "Aduuh biyoong, Adnan Buyoong!"

Walhasil, meski tampil serupa, sungguh berbeda nian fenomena Bram 
Moszkowicz dan Abang Buyung Nasution. Di Belanda terjadi kemelut 
panas antar kaum borjuasi lumpen (semi) kriminal (termasuk Bram), 
sedangkan di Indonesia terjadi hegemoni negara yang membusukkan 
idealisme kaum profesional kelas menengah (termasuk idealisme si 
Abang lokomotif pembela HAM).

Ada tiga hal pokok yang mencolok di situ. 

Pertama, para nasabah dari kedua pengacara-top ini selalu orang-orang 
yang berkantong tebal. Ini berarti harus ada kepentingan dan imbalan 
timbal-balik yang menggiurkan kedua pihak, pengacara mau pun nasabah. 
Selebihnya, silahkan simpulkan sendiri.

Kedua, kedua-duanya dianggap "kurang refleksi-diri" (ini istilah 
eufemistis media Belanda untuk mengatakan 'tidak jujur'). Bram 
bungkam bahwa kantornya di tepi kanal bergengsi di Amsterdam itu 
pernah menjadi locus delict alias TKP, tempat kejadian perkara 
pidana, kasus pemerasan. Ini patut mencoreng reputasinya. Bahkan, 
Bram mencampur-baur kepentingan dengan cara lompat bajing alias 
berganti koalisi. Semula membela pengusaha real estate W. Endstra 
yang kemudian terbunuh, diduga kuat oleh anak buah Holleeder, kini 
Bram berbalik membela Holleeder. Hipokrisi?

Dalam hal si Abang, Buyung barangkali belum pernah menginjak bumi 
Loro Sae, apalagi membayangkan seperti apa kota Dili saat bumi hangus 
dan maut mengintai yang membuat saya terbirit-birit hengkang ke Bali 
waktu itu. Namun, sulit membayangkan orang sepintar Doktor Buyung 
akan khilaf, bahkan ingkar, terhadap hak-hak asasi 1300an warga Timor 
Timur yang dibunuh, dan ratusan ribu lainnya yang dideportasi, sejak 
hari penentuan-nasib-sendiri Tim-Tim mengungkap kekalahan politik 
ABRI, lokomotif Orde Baru, dan gerbong-gerbong milisinya. Hipokrisi? 

Ketiga, soal tegak negara hukum. Perilaku dramatik dan teatrikal Bram 
Moszkowicz tadi jelas untuk mengelabui publik. Boleh jadi dia diancam 
Holleeder dan untuk menyelamatkan nyawanya, dia lepaskan perkara 
Holleeder seraya mengambing-hitamkan media dan aparat kehakiman. 
Untuk itu, dia memakai alasan manis: betapa sulit menjalankan 
profesinya jika kredibilitas dirinya sudah tercemar oleh pihak 
ketiga. Argumen seperti ini mudah diterima publik di Belanda. Ini 
membuktikan adanya tegak hukum yang berwibawa dari suatu negara 
hukum. 

Jadi, tegak hukum juga memungkinkan pengacara memanipulirnya untuk 
mengelabui publik. Selama hukum jadi panutan publik, pengacara 
profesional harus pandai pandai merawat reputasinya. 

Di Indonesia, lain cerita. Aparat kehakiman, juga media massa, sering 
menderita di bawah tekanan kuat elit politik negara. Angin politik 
nan kencang dengan mudah menembus ranah kehakiman. Apa pun yang si 
Abang Buyung perbuat tidak dengan sendirinya akan menghancurkan 
profesinya ketika wibawa negara hukum rentan. Tapi setiap pengacara 
harus pilih: ikut arus, atau cari alternatif. Inilah ilustrasi betapa 
penting tegak hukum bagi pengacara, publik, mau pun masa depan 
bangsa. 

Perbandingan di atas lebih bercerita tentang pamor dari tegak-hukum 
di Belanda dan Indonesia, ketimbang tentang si Bram dan si Abang 
belaka. 

Namun, demi tegak-hukum, ijinkan saya berandai-andai. Andaikata 
Buyung bertindak seperti Bram Moszkowicz, lalu berseru: "Ik ga 
stoppen (Saya berhenti) membela Pak Wir", pasti orang akan angkat 
topi. 

Dengan rambut peraknya yang menyilau publik, jika Buyung meminjam 
keputusan Bram tsb untuk kasus Wiranto, si Abang ini dapat menyulap 
citranya, memulihkan reputasinya selaku pembela HAM. Maka, orang tak 
perlu lagi berseru "Aduuh biyoong", melainkan "Horas Buyoong!".

Sumber: http://www.ranesi.nl/tema/temahukdanham/hipokrisi070223
Singgahlah ke www.ranesi.nl



Kirim email ke