Notes Arjo Pilang:
KEKUASAAN POLITIK DAN SASTRA 2. Bagaimana hubungan sastra-seni dan kekuasaan politik di Perancis? Yang kumaksudkan dengan pertanyaan ini adalah bagaimana pengaruh kebijakan suatu kekuasaan politik pada suatu periode terhadap kehidupan sastra-seni di wilayah negara kekuasaannya. Dengan pertanyaan "bagaimana" sebenarnya, tersirat bahwa aku melihat bahwa pengaruh itu Ada. Kata "bagaimana" melukiskan corak dan warna "Ada". Karena sebatas penglihatanku, terdapat perbedaan di berbagai negara dan masyarakat yang menterapkan sistem berbeda-beda dalam mengelola masyarakat dan kehidupan bernegara pada berbagai periode. Untuk mencoba menjawab pertanyaan ini, sebelum berbicara tentang Perancis, aku mencoba menggunakan metode perbandingan dan contoh. Ambil sebagai contoh: Republik Rakyat Tiongkok [RRT]. Pada suatu saat, politik kebudayaan yang diterapkan oleh pemegang kekuasaan politik adalah politik "biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara". Sejalan dengan pertarungan antar faksi di dalam Partai Komunis dan Negara, politik ini kemudian mengalami perobahan dan bergonta-ganti. Pada saat politik "biar bunga mekar bersama" dilaksanakan maka berbagai ragam karya berkembang dan diciptakan. Pada saat politik kebudayaan ini ditinggalkan dan diganti oleh politik "proletariat"model yang dilaksanakan oleh Kelompok Empat pada masa Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat [RBKP], maka terdapat suatu kemandegan bahkan penghancuran besar-besaran terhadap dunia kesenian. Shakespeare, Beethoven dan hampir semua karya-karya sasatra-seni Barat dipandang sebagai karya-karya borjuasi yang -- salah satu dari 9 unsur jahat dalam masyarakat, menurut pandangan Kelompok Empat yang mengendalikan RBKP. Yang dianggap sebagai karya-karya proletariat teladan hanya ada tujuh karya, antara lain drama "Merebut Gunung Harimau Dengan Akal Cerdik", "Lentera Merah", "Gerilya Di Padang Datar", "Sachiapang", "Hong Hu" [Danau Merah"], "Gadis Berambut Putih", "Detasemen Wanita Merah". Selebihnya, termasuk Ouyang Hai, karya-karya Yang Mo, Ba Jin, dan lain-lain, dipandang sebagai karya-karya borjuis yang bertentangan dengan kepentingan "proletariat". Bahkan mendengar siaran Radio Voice of America [VOA] dipandang sebagai kegiatan menebar "rumput beracun". Aku masih ingat, betapa adegan ciuman yang ada pada filem-filem Albania disambut dengan riuh sebagai tindakan porno. Demikian juga filem "Yang Ke-41" Soviet Uni dinilai sebagai "revisionis" karena prajurit perempuan Tentara Merah yang menangkap seorang tentara Rusia Putih, akhirnya jatuh cinta pada tawanannya. Si prajurit perempuan, penembak jitu [sniper] Tentara Merah ini, meminta sang kekasih lari agar ia tidak dipandang melanggar disiplin. Pada jarak tembak tertentu prajurit perempuan Tentara Merah ini dengan berat hati menembak sendiri kekasihnya. Sasaran ke-41 pun jatuh, yaitu kekasihnya sendiri. Hal ini dinilai oleh peresensi Tiongkok dan kalangan yang mengunakan label Marxis, sebagai "revisionis" karena bertentangan dengan kepentingan klas proletar. Sentralisme kekuasaan politik dan paternalisme, berlangsung sokong-menyokong. Agaknya barisan-barisan "pemberontak" yang bernama Garda Merah [Hong Wei Ping] pun tidak luput dari unsur paternalisme, fanatisme dan sentralisme kekuasaan. Di bawah sistem begini, aku lihat bahwa warganegara dalam hubungannya dengan Negara, berada dalam posisi lemah. Di bawah keadaan begini maka kritik dan pikiran kritis berada pada tempat yang terpinggirkan. Bukan hanya terpinggirkan, tapi juga sampai pada likwidasi fisik. Banyak teman-teman dekatku dari kalangan Himpunan Pengarang Tiongkok pada masa RBKP ini hilang tak tentu rimba dan lautnya. Jika informasi yang kudapatkan benar, agaknya, sampai sekarang, soal kemerdekaan seniman dan berpikir serta jalan yang patut ditempuh ini masih menjadi tema debat penting di kalangan cendekiawan dan akademisi Tiongkok, antara yang disebut New Left dan kaum "Liberal" di kalangan cendekiawan Tiongkok. Kemudian adanya Gerakan Empat Reformasi Besar [sejak lama ada di kandungan ide Mao Zedong dan Chou Enlai] yang setelah usainya RBKP, diterapkan oleh Deng Xiaoping dengan "politik kucing"-nya menciptakan iklim baru lagi bagi kehidupan sastra-seni di RRT. Barangkali dengan contoh RRT, di mana aku pernah tinggal dan bekerja selama 7 tahun sebagai tamu Himpunan Pengarang Tiongkok , kemudian Hsinhua News Agency, pertanyaan di atas bisa kujelaskan ala kadarnya. Sebagai perbandingan lain guna mencoba menjawab pertanyaan hakiki Bung Akmal, aku secara sepintas ingin mengambil contoh sastra samizdat yang muncul di masa Uni Soviet. Paris, Februari 2007. ----------------------------- JJ. Kusni [Bersambung......] [Non-text portions of this message have been removed]

