Mas Ananto,

Kalau boleh tahu, persiapan NU dalam melayani 'tantangan' itu seperti 
apa?

1. Konsolidasi kedalam. Misal, meningkatkan pengetahuan dengan 
mengirim santri-santrinya untuk memperdalam ilmu dan pengetahuan ke-
Islamannya kepelbagai pusat-pusat studi Islam terbaik, baik di dalam 
maupun ke luar negeri?
2. Latihan kanuragan. Sebagaimana dulu pernah dilakukan di Jawa Timur?
3. Atau bagaimana? 

Please donk. Lagian hare gene masih main label-labelan. Bahkan 
suadaranya sendiri dibilang 'garis keras'. Saya tahunya malah garis 
lurus tuh :-)

DT



--- In [email protected], Ananto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> NU Layani 'Tantangan' Kelompok Islam Garis Keras
> Selasa, 27 Februari 2007 20:02
> 
>  Jakarta, *NU Online*
> Genderang perang mulai ditabuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk 
menghadapi gerakan
> dari kelompok Islam garis keras yang muncul akhir-akhir ini. 
Organisasi
> kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini siap 
melayani 'tantangan'
> kelompok Islam radikal yang sudah sangat meresahkan warga 
*nahdliyin *(sebutan
> untuk warga NU) itu.
> 
> Pada Sabtu (25/2) lalu, Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah 
Nahdlatul Ulama
> (LDNU) mengeluarkan maklumat yang berisi tentang peneguhan kembali 
terhadap
> ajaran dan amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini
> dijalankan oleh warga nahdliyin. Sebanyak 8 ketua Pengurus Wilayah 
LDNU
> se-Indonesia menandatangani maklumat yang merupakan respon atas 
tuduhan
> sesat terhadap ajaran dan amaliyah NU itu.
> 
> "…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh 
dan
> berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (*al-harakah
> al-islamiyyah*) melalui praktek-praktek keagamaan yang dapat 
melunturkan
> nilai-nilai *Ahlussunnah Wal Jamaah *ala NU, maka dengan ini kami
> menyatakan: …Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal 
Jama'ah
> ala NU, melestarikan praktek-praktek dan tradisi keagamaan 
*salafush shalih*;
> sepert salat-salat sunnat, salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, 
qunut,
> talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, maulid Nabi, haul, dan
> istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai 
dengan
> nilai-nilai Islam sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal 
Jama'ah ala
> NU," demikian salah satu poin dalam maklumat tersebut.
> 
> Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada *NU Online* menyatakan, 
gerakan
> kelompok garis keras itu sudah melewati batas toleransi. Karena 
mereka tidak
> lagi sebatas mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyin, 
melainkan
> sudah berani menghasut dan menuduh NU adalah sesat.
> 
> "Masjid-masjid NU mulai diambilalih. Muncul banyak buku-buku yang 
menghujat
> ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU. Salat tarawih 20 rakaat; 
wirid,
> salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, maulid Nabi, 
istighotsah dan
> lain-lain dianggap ajaran sesat. Ini sudah tidak bisa ditoleransi 
lagi,"
> terang Kiai Nuril di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, 
Selasa (27/2).
> 
> Apalagi, lanjut Kiai Nuril, gerakan mereka sudah sangat luas dan 
hampir
> merata di seluruh daerah, tidak hanya daerah yang berbasis 
nahdliyin. Jika
> NU tak segera mengambil sikap tegas, maka bukan mustahil tradisi 
keagamaan
> yang dijalankan warga nahdliyin selama ini akan hilang.
> 
> Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, menurut Kiai 
Nuril, adalah
> keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan
> Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir,
> kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia 
sebagai
> negara Islam.
> 
> Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah 
Aswaja ala
> NU, dalam maklumat tersebut juga ditegaskan bahwa NU tetap pada 
komitmennya
> untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak 
tertentu
> yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa 
Indonesia.
> 
> Ditambahkan Kiai Nuril, sebagai tindak lanjut atas maklumat 
tersebut, setiap
> PW LDNU se-Indonesia akan menguatkan barisan dalam rangka 
menghadapi gerakan
> kelompok Islam garis keras tersebut. "Kita sudah tetapkan ada lima 
zona
> konsolidasi NU. Antara lain, zona Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa 
Tenggara
> Barat dan Kalimantan. Masing-masing zona ini akan menghimpun dan
> mengkonsolidasikan seluruh PW LDNU di provinsi yang berada di 
wilayahnya,"
> jelasnya.
> 
> Keberadaan zona-zona tersebut, kata Kiai Nuril, diharapkan dapat 
menata
> dengan rapih gerakan dakwah NU di daerah-daerah. Dengan demikian,
> masjid-masjid NU serta ajaran dan amaliyah NU dapat 
terjaga. "Walaupun
> berbeda prinsip, tapi kita ingin sama-sama saling menghormati dan 
menghargai
> keyakinan masing-masing. Tidak ada lagi tuduhan bahwa NU adalah 
sesat dan
> sebagainya," pungkasnya. (rif)
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke