MENGENANG SENIMAN I G.N. SUPARTHA
catatan in memoriam ikranagara

Kita semua mengenal Pak Ngurah Supartha sebagai seniman yang enerjik 
tak kenal lelah. Terakhir saya hampir bertemu dengan dia pada saat 
dia melakukan gladi-resik di tepi pantai Tanah Lot (Bali) untuk 
pertunjukan Cak-nya yang didukung oleh 5000 orang -- luar biasa! 
Ketika itu saya tidak ingin mengganggunya, maka saya hanya berada di 
jarak jauh bersama Abu Bakar seniman Bali dari Denpasar, kami ikut 
menyaksikan aktivitasnya untuk terakhir kali di tepi pantai yang 
sangat terkenal itu. 

Seluruh lokasi alami di depan pura berupa pelataran berbatu padas dan 
di beberapa bagian digenangi air laut, itulah setting pertunjukannya 
ketika itu. Lampu-lampu dan sound-sistem dalam kapasitas yang besar 
dikerahkan untuk menjadikan pertunjukannya sebuah peristiwa seni 
kolosal berlatar dekor pura di atas bukit batu, laut dan langit 
malam -- fantastik! Ditambah dengan selingan derai ombak, maka suara-
suara "Cak cak cak cak...!!!" dari limaribu mulut pesertanya telah 
menjadi bagian dari alam lingkungan menjadi artistik -- fantastik!

Itulah saya kira "magnum opus" seniman I Gusti Ngrah Supartha yang 
dalam hidupnya di Amerika sempat saya bergaul dekat dengannya. Ketika 
pada 1990 saya menyiapkan sebuah pertunjukan "The Era of the Bats" di 
panggung OSU (Ohio State University) tempat saya menjadi dosen selama 
1989-1991 atas grant yang diberikan oleh Fulbright CIES (Center for 
International Exchange Scholar) dan OSU, maka saya menilpun KBRI yang 
ketika itu dubesnya adalah Pak Ramli yang kebetulan juga saya kenal 
baik berkat bergaul dengan salah seorang penyair Aceh LK Ara. 
Permintaan saya sederhana saja, yaitu minta bantuan musik gamelan 
Bali yang dimainkan secara hidup untuk mengiringi pertunjukan saya. 
Dan Dubes Ramli langsung menghubungkan saya dengan Pak Ngurah 
Supartha, yang sebelumnya memang sempat kami berkenalan di Bali saat 
saya meminjam kalangan terbuka di lingkungan Pusat Kesenian Bali di 
Denpasar untuk persiapan pertunjukan "Rimba Tiwikrama" yang 
disponsori oleh WWF (World Wildlife Fund).

Maka pada 1990 itulah Pak Ngurah Supartha datang bersama rombongan 
kecilnya muncul di ibukota Ohio, Columbus. Pak Ngurah bukan hanya 
mengiringi pertunjukan saya dengan musik bBalinya (yang 
improvisatoris), melainkan juga sempat menampilkan penarinya dan dia 
ikut menari pada adegan-adegan sela. Ketika itu dia memperkenalkan 
tarian spontannya sebagai "The Social Dance from Bali!" kepada 
audiensnya, dan menarik beberapa orang penonton ikut berjoget dengan 
penari wanita di panggung arena. Dia memang seniman tradisional di 
bidang musik dan tari yang kreatif, siap untuk melakukan improvisasi 
tanpa persiapan kalau memang diperlukan. Maka saya sangat beruntung 
bekerjasama dengan beliau ketika itu.

Pada saat di kampus OSU beberapa hari itulah dia didatangi oleh Dosen 
Jurusan Musik Ohio State University yang sangat tertarik kepada Musik 
Gamelan Bali yang ditampilkan oleh Pak Ngurah. Dialog antara mereka 
berbuah undangan untuk mengajar musik di universitas tersebut. Pak 
Ngurah Supartha bukan hanya mampu menari dan bermain musik, melainkan 
juga siap menjadi dosen dengan bahasa Inggerisnya yang fasih meskipun 
aksen Balinya kental.

Hari ini negeri kita telah kehilangan salah seorang putera 
terbaiknya. Namun demikian, saya tahu banyak murid-murid yang 
dilahirkannya yang akan mampu melanjutkan kiprahnya di bidang musik 
dan tari Bali, karena dia memang guru tari dan murik yang handal dan 
terpuji.

Semoga amalnya selama hidup di dunia kesenian menjadi bekal 
perjalanannya di dunianya yang baru. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah 
dan Pengasih, perkenankanlah!


Twinbrook, USA, 1 Maret 2007

Kirim email ke