>Subject: Dua Abad Islam Liberal
>
>Oleh Luthfi Assyaukanie
>Pendiri JIL, Peneliti Freedom Institute, dan Dosen Universitas
>Paramadina, Jakarta
><http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm
>==========================
>
>Sebagai gerakan lokal, Jaringan Islam Liberal Maret ini baru berusia
>enam tahun, tapi sebagai gerakan global, Islam Liberal—dari mana
>istilah JIL berasal—sesungguhnya telah berusia dua abad lebih.
>Mengambil patokan tahun 1798, usia Islam Liberal mencapai 209 tahun.
>
>Tahun 1798 adalah saat Napoleon Bonaparte menginjakkan kaki di
>Mesir. Tahun itu sangat bersejarah. Bernard Lewis menyebutnya
>sebagai a watershed in history dan the first shock to Islamic
>complacency, the first impulse to westernization and reform (Lewis
>1964:34). Para ahli sejarah sepakat, kedatangan Bonaparte di Mesir
>merupakan tonggak penting bagi kaum Muslim dan juga bagi bangsa
>Eropa.
>
>Bagi kaum Muslim, kedatangan itu membuka mata betapa tentara Eropa
>yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung Islam. Bagi
>orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa mudah menaklukkan
>sebuah peradaban yang di masa silam begitu berjaya dan sulit
>ditaklukkan.
>
>Begitu penting 1798. Albert Hourani, sejarawan Inggris keturunan
>Lebanon, menjadikannya awal era liberal bagi bangsa Arab dan kaum
>Islam. Seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, Arabic Thought in the
>Liberal Age, kedatangan Bonaparte ke Mesir bukan sekadar penaklukan
>militer, melainkan juga awal kebangkitan kesadaran kaum Muslim akan
>diri mereka.
>
>Menarik dicatat, Hourani menggunakan era liberal untuk merujuk masa
>kebangkitan Islam di dunia modern. Kata liberal di sini ialah sebuah
>kondisi dan suasana di mana kaum Muslim bebas mengartikulasikan
>kesadaran budaya dan peradaban mereka. Dalam konteks Eropa, liberal
>mengacu kepada situasi kebangkitan dan pencerahan. Itu sebab ketika
>karya Hourani itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yang digunakan
>untuk liberal age adalah asr al-nahdah yang berarti 'era
>kebangkitan' (judul lengkapnya al-fikr al-arabi fi asr al-nahdah).
>Menurut Hourani, era liberal di dunia Arab terentang dalam (1798-
>1939). Tahun 1939 merujuk kepada pecahnya Perang Dunia II dan
>dimulainya kiprah politik Ikhwanul Muslim di Mesir. Selama rentang
>itu dasar pemikiran seperti kemajuan, modernitas, kebebasan, dan
>persamaan dibincangkan secara luas.
>
>Para liberalis awal
>
>Para pembaharu awal seperti al-Tahtawi, al-Tunisi, dan al-Kawakibi
>menyadari betul kondisi kaum Muslim yang terbelakang. Perhatian
>utama mereka: bagaimana mengubah keadaan ke arah lebih baik. Mereka
>selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum Muslim dengan
>kemajuan Eropa. Persis seperti yang dipertanyakan Abd al-Rahman al-
>Kawakibi dalam bukunya, limadza taakhkhara al-muslimun wa limadza
>taqaddama ghayruhum (mengapa kaum Muslim mundur dan mengapa bangsa
>lain maju?).
>
>Seluruh pemikiran dan gagasan yang dikemukakan para pembaharu Islam
>abad ke-19 berputar pada upaya menjawab pertanyaan di atas. Adalah
>ironis, peradaban yang pada masa silam memiliki sejarah gemilang dan
>kitab sucinya mewartakan "umat terbaik di dunia" (khayru ummatin
>ukhrijat linnas) berada pada titik nadir peradaban. Bukan hanya
>berada dalam keterbelakangan, mereka juga dalam penjajahan bangsa
>lain. Mesti ada satu sebab utama mengapa kaum Muslim terbelakang dan
>mengapa bangsa Eropa maju?
>
>Rifa'a al-Tahtawi (1801-1873) adalah salah satu tokoh pembaharu
>pertama yang mencoba menjawab pertanyaan itu. Menurut al-Tahtawi,
>kunci pertanyaan itu adalah "kebebasan" (hurriyyah). Bangsa Eropa
>maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan teknologi di Eropa
>sejak abad ke-16 didorong oleh suasana kebebasan dalam masyarakat
>itu. Tahtawi menganggap kebebasan bukan hanya kunci bagi
>kebahagiaan, tapi juga bagi keamanan dan kesejahteraan.
>
>Sebab utama keterbelakangan kaum Muslim, menurut Tahtawi, ialah
>ketiadaan kebebasan itu. Ini sudah terjadi sejak kerajaan Islam di
>Baghdad (abad ke-12) dan Cordova (abad ke-15) runtuh. Sebaliknya,
>kebebasan berpikir yang dalam istilah agama dikenal dengan ijtihad
>justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad ke-15-ke-19,
>wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat menutup pintu
>ijtihad.
>
>Tahtawi tak sendirian meyakini kebebasan sebagai kunci kemajuan
>suatu bangsa. Pada 1878 Sa'dullah, intelektual dan diplomat Turki,
>berkunjung ke Pameran Besar di Paris. Dalam sepucuk surat kepada
>teman-temannya, dia bercerita: "Di depan pintu utama aku melihat
>patung kebebasan. Dia duduk dan memegang sesuatu di tangannya.
>Gayanya seolah sedang menyampaikan pesan: 'Hai para pengunjung! Jika
>Anda menyaksikan berbagai pencapaian kemajuan manusia dalam pameran
>ini, jangan lupa bahwa seluruh pencapaian ini adalah hasil dari
>kebebasan. Lewat kebebasan manusia mencapai kebahagiaan. Tanpa
>kebebasan, tak akan ada keamanan; tanpa keamanan, tak akan ada
>pencapaian; tanpa pencapaian, tak akan ada kesejahteraan; tanpa
>kesejahteraan, tak akan ada kebahagiaan'." (Lewis 1964:47).
>
>Para pembaharu atau liberalis Muslim awal melihat kebebasan benar-
>benar sebagai kunci kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan individu,
>tapi juga kebahagiaan suatu bangsa. Pandangan ini mengingatkan kita
>pada Francis Fukuyama (2000) ketika menjelaskan "modal sosial" dalam
>berdemokrasi. Menurut Fukuyama, demokrasi sangat ditentukan oleh
>modal sosial yang mendukungnya. Modal sosial adalah sekumpulan
>berbagai unit dalam sebuah masyarakat. Unit terkecil kumpulan sosial
>adalah keluarga yang terdiri dari individu-individu. Jika individu
>dalam keluarga ini baik, dia akan memiliki dampak pada unit yang
>lebih besar, yakni masyarakat sebagai modal demokrasi.
>
>Tahtawi dan para pembaharu Islam abad ke-19 juga melihat kebebasan
>individu sebagai langkah awal mewujudkan kebahagiaan dan sukses yang
>lebih besar. Yang dimaksud dengan kebebasan adalah kebebasan
>politik, suatu keadaan di mana individu bisa memikirkan dan berbuat
>sesuatu secara bebas tanpa tekanan atau larangan penguasa. Yang
>dimaksud dengan "penguasa" sebetulnya adalah kepala negara—raja
>maupun sultan—tapi dalam pemahaman Tahtawi dan para pembaru awal
>Islam, "penguasa" adalah otoritas dalam sebuah kelompok masyarakat
>yang mampu memengaruhi. Dalam hal ini, tokoh atau lembaga agama yang
>memiliki pengaruh politik di masyarakat bisa dianggap
>sebagai "penguasa".
>
>Problem utama absennya kebebasan dalam Islam, menurut Tahtawi, bukan
>hanya datang dari penguasa politik (pemerintah), melainkan juga dari
>penguasa agama. Kadang kedua kekuasaan ini bergabung jadi satu,
>mengakibatkan keadaan makin buruk. Para pemimpin politik melarang
>kebebasan karena takut kekuasaannya terancam. Para tokoh agama
>melakukan hal serupa karena takut kehilangan otoritas sebagai
>petinggi agama. Kasus pelarangan terhadap kebebasan yang terjadi di
>Mesir kerap melibatkan dua kubu antara kekuasaan agama (yang
>biasanya diwakili oleh lembaga al-Azhar) dan para pembaharu Muslim
>yang umumnya berada di luar—atau tak sedang menjabat posisi penting
>dalam—lembaga itu.
>
>Generasi kedua
>
>Generasi kedua gerakan pembaharuan Islam juga menganggap kebebasan
>sebagai kunci utama memperbaiki keadaan kaum Muslim. Para tokoh
>generasi ini (Muhammad Abduh yang kemudian dilanjutkan oleh murid
>setianya: Qassim Amin, Ali Abd al-Raziq, dan seorang murid asal
>Indonesia, Muhammad Tahir Djalaluddin) menganggap kebebasan sebagai
>modal penting merealisasikan solusi lain. Qassim Amin (1863-1908),
>misalnya, menganggap kebebasan sebagai prasyarat utama bagi
>terwujudnya gagasan emansipasi perempuan. Amin adalah tokoh Islam
>pertama yang lantang menyuarakan nasib kaum perempuan di dunia
>Islam. Baginya, persoalan kebodohan dan keterbelakangan kaum Muslim
>sangat erat dengan persoalan perempuan. Argumennya sebagai berikut.
>
>Keterbelakangan bersumber pada kebodohan. Kebodohan terkait erat
>dengan pendidikan. Sebelum anak masuk sekolah, ia menerima
>pendidikan dari keluarga. Unsur terpenting dalam keluarga, menurut
>Amien, adalah ibu. Nasib dan masa depan seorang anak sering
>ditentukan ibunya. Bukan hanya ibu sebagai "sekolah pertama"
>(madrasat al-ula) bagi anak-anak, tapi ibu juga yang berperan besar
>bagi pertumbuhan tubuh dan jiwa sang anak sejak dalam kandungan.
>Jadi, ibu berperan sentral menentukan masa depan seseorang.
>
>Peran penting yang dimainkan ibu (perempuan) seperti itu tak
>berjalan lurus dengan nasib dan perlakuan yang diterimanya.
>Perempuan dalam masyarakat Islam kerap mengalami diskriminasi peran.
>Bukan hanya dihalangi berkiprah di ruang publik, hak-hak dasar
>mereka untuk belajar juga kerap ditiadakan. Pada abad ke-19 situasi
>ketertindasan kaum Muslim adalah lumrah. Larangan bersekolah bagi
>perempuan dan secara umum larangan keluar rumah adalah aturan
>universal di mana-mana. Hanya segelintir kaum perempuan Muslim yang
>mendapat kemewahan bersekolah.
>
>Karena itu, bagi Qassim Amin, solusinya adalah memberikan kesempatan
>luas bagi perempuan mendapat pendidikan layak. Ini bukan semata demi
>penegakan hak kaum perempuan yang terabaikan, tapi demi generasi
>masa depan kaum Muslim. Selama perempuan terabaikan, menurut Amin,
>selama itu pula kaum Muslim akan terbelakang dan bodoh.
>
>Ali Abd al-Raziq (1888-1966) adalah sahabat dan pendukung Qassim
>Amin. Sepenuhnya ia setuju dengan gagasan emansipasi perempuan dan
>perlunya kaum Muslim memberi ruang bagi perempuan. Tapi, selama
>sistem politik yang menaungi kaum Muslim tak bersahabat pada gagasan
>progresif ini, selama itu pula gagasan itu tak bisa terealisasi.
>Yang dia maksud dengan sistem politik tak bersahabat adalah sistem
>pemerintahan khilafah. Ketika Abd al-Raziq berbicara
>tentang "khilafah", rujukannya adalah sistem pemerintahan Kerajaan
>Utsmaniyah. Seperti umumnya para reformis Muslim saat itu, Abd al-
>Raziq memandang kekhalifahan Utsmaniyah sebagai contoh buruk
>pemerintahan Islam. Pola hidup hedonistik para khalifah dengan harem
>dan kemewahan yang mengelilinginya kerap dikontraskan dengan
>kemiskinan dan kebodohan kaum Muslim ketika itu. Khilafah bukan
>sistem yang ideal, bahkan bukan sistem yang sesuai dengan nilai-
>nilai yang diajarkan moral Islam.
>
>Itu sebabnya, Abd al-Raziq menolak sistem khilafah. Baginya,
>khilafah bukan sistem politik yang diwajibkan Islam. Ia hanya satu
>dari banyak pilihan ciptaan manusia. Di era modern, ketika ada
>sistem politik yang lebih baik, sudah seharusnya kaum Muslim
>menyerapnya. Mempertahankan sistem khilafah tak hanya menghabiskan
>energi kaum Muslim, tetapi juga melestarikan kebodohan dan
>keterbelakangan mereka.
>
>Konteks Indonesia
>
>Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh
>yang paling berjasa menyebarkan gagasan pembaharuan Islam di
>Indonesia. Selesai berguru kepada Abduh, ia meninggalkan Mesir.
>Karena situasi politik tak menguntungkan, ia tak kembali ke
>Indonesia, tapi transit di Singapura mulai menyebarkan gagasan
>pembaruannya dari sana. Di Singapura (1906) ia mendirikan majalah
>Islam, al-Imam. Nama ini terinspirasi dari panggilan akrab Abduh.
>Murid Abduh loyal dan sangat mencintai gurunya. Di Mesir mereka
>mendirikan kelompok diskusi yang disebut madrasat al-imam dan
>mendirikan partai politik yang disebut hizb al-imam.
>
>Lewat Djalaluddin, gagasan pembaruan dan liberalisme Islam Timur
>Tengah disebarkan di Indonesia dan Malaysia. Tulisan al-Afghani dan
>Abduh dalam al-Urwat al-Wutsqa dan al-Manar diterjemahkan dan
>diterbitkan dalam al-Imam. Tema tentang kemajuan, kebebasan, dan
>emansipasi wanita mewarnai majalah ini. Majalah al-Imam jadi media
>Islam pertama yang menyebarkan gagasan liberalisme Islam di
>Indonesia. Pada 1911 majalah Islam lain, al-Munir, terbit di
>Sumatera. Pendirinya, Abdullah Ahmad, adalah murid Ahmad Khatib,
>reformis Melayu yang bermukim di Mekkah. Majalah ini, bersama al-
>Imam, jadi corong kaum muda menyebarkan gagasan Islam Liberal.
>
>Memasuki kemerdekaan Indonesia, gerakan pembaruan Islam menurun.
>Tokoh Islam lebih banyak mencurahkan energi mengupayakan dan mengisi
>kemerdekaan Indonesia. Sebagian besar terlibat dalam perdebatan isu
>keislaman pada tahun 1930-an. Agus Salim dan Muhammad Natsir sibuk
>dengan politik, terlibat aktif dalam pemerintahan Soekarno-Hatta.
>Salim pernah menjabat sebagai menteri luar negeri; Natsir menteri
>penerangan kemudian perdana menteri. Mungkin karena keterlibatan
>mereka yang intensif dengan dunia politik, para tokoh Islam tak
>sempat merenung dan berefleksi mendalam terhadap persoalan pembaruan
>Islam.
>
>Gerakan Islam Liberal menemukan momentumnya kembali di Indonesia
>pada awal 1970-an, seiring dengan perubahan politik dari era
>Soekarno ke Soeharto. Gerakan ini dipicu oleh munculnya generasi
>santri baru yang lebih banyak berkesempatan mempelajari Islam dan
>melakukan refleksi lebih serius atas berbagai isu sosial-keagamaan.
>Seperti berulang dicatat buku sejarah, tokoh paling penting dalam
>gerakan pembaruan ini adalah Nurcholish Madjid, sarjana Islam yang
>memiliki semua syarat menjadi pembaharu. Lahir dan tumbuh dari
>keluarga santri taat, Nurcholish adalah penulis dan pembicara yang
>baik. Ia menguasai bahasa Arab dan Inggris. Kefasihannya berbicara
>tentang teori ilmu sosial sama baiknya dengan uraiannya tentang
>khazanah Islam. Nurcholish adalah penerus sempurna gerakan pembaruan
>Islam yang telah dimuali sejak abad ke-19.
>
>Selama kiprahnya menjadi intelektual liberal, Nurcholish banyak
>melontarkan gagasan yang mencerahkan dan membangkitkan kuriositas
>orang. Sumbangan yang paling besar bagi Indonesia adalah gagasannya
>tentang sekularisasi. Nurcholishlah cendikiawan pertama yang
>meyakinkan kaum Muslim Indonesia: menjadi seorang Muslim yang baik
>tak harus berafiliasi kepada partai Islam. Memperjuangkan Islam tak
>harus lewat lembaga atau partai dengan nama Islam. Baginya, Islam
>bisa diperjuangkan dengan berbagai cara, lewat berbagai medium.
>Pandangan ini cukup ampuh. Tiga dekade kemudian, dalam dua Pemilu
>(1999 dan 2004) tak banyak kaum Muslim yang tertarik dengan partai
>Islam dan agenda negara Islam, yang pada tahun 1960-an dianggap
>sakral.
>
>Nurcholish tak sendirian. Menjelang tahun 1980-an, gerbong Islam
>Liberal diperkuat dengan semakin banyaknya intelektual santri yang
>muncul. Harun Nasution, Abdurrahman Wahid, Munawir Sjadzali, dan
>Ahmad Syafii Maarif adalah di antara para eksponen pembaruan yang
>mewarnai kancah pemikiran Islam dasawarsa 1980-an dan 1990-an. Semua
>intelektual ini menganggap diri sebagai penerus cita-cita
>kebangkitan (nahdah) dalam semangat Abduh, Qassim Amin, Ali Abd al-
>Raziq, dan Muhammad Iqbal. Tulisan dan refleksi mereka tersebar di
>media massa. Gagasan pembaruan mereka dikaji dan disebarkan generasi
>lebih muda di Universitas Islam Negeri (UIN) maupun Nahdlatul Ulama
>dan Muhammadiyah.
>
>JIL
>
>Pada 2001 Jaringan Islam Liberal (JIL) didirikan di Jakarta.
>Organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya
>organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu: Rahima,
>Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan
>Masyarakat (P3M), dan Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ). Sejak
>awal, JIL diniatkan sebagai payung atau penghubung organisasi Islam
>Liberal yang ada di Indonesia. Karena itu, gerakan ini tak memakai
>nama organisasi atau lembaga, tapi jaringan. Dengan nama jaringan,
>JIL berusaha jadi komunitas tempat para aktivis Muslim berbagai
>organisasi Islam Liberal berinteraksi dan bertukar pandangan secara
>bebas.
>
>Lewat programnya, seperti diskusi publik, talkshow, sindikasi media,
>dan workshop, JIL berusaha konsisten, mempromosikan dan
>menyebarluaskan gagasan nahdah. Perhatian utama JIL: bagaimana
>menciptakan dan menjaga ruang kebebasan di Indonesia. Sebagaimana
>tokoh Islam Liberal awal, JIL meyakini kebebasan adalah kunci bagi
>kesejahteraan dan kebahagiaan. Tak ada kebahagiaan tanpa
>kesejahteraan dan tak ada kesejahteraan tanpa kebebasan.
>
>Maret ini tak terasa JIL memasuki usia keenam. Sebagai gerakan, ia
>masih muda. Sebagai pemikiran, JIL adalah ujung dari mata rantai
>gerakan pembaharuan Islam yang sudah berusia lebih dari dua abad.
>Orang yang menyadari betapa penting merawat cita-cita nahdah pasti
>akan gembira dengan ulang tahun JIL sebab ulang tahun JIL bukanlah
>perayaan sekelompok orang, tapi perayaan sebuah gerakan pencerahan
>bagi umat Islam di Indonesia. Selamat merayakan ulang tahun JIL.
>Selamat merayakan kebebasan.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke