Assalammu' alaikum wr wb,

Memang sudah salah kaprah sejak mula buka memahami Al-Dinu al-Islam oleh para 
pendukung dan pengikut rasululloh Muhammad saw yang paling awal. Realitas ini 
jika kita kaji benar-benar dapat kita temukan di dalam kumpulan firman Allah 
swt yang diwahyukan selama hampir 23 tahun penuh. Di dalam Al-Quranu al-Kariim 
Allah swt dengan tegas dan jelas mendefinisikan keberadaan wujud Allah swt 
dalam Surah Al-Ihlas (112). Dengan demikian sebenarnya Allah swt membatalkan 
semua prasangka manusia terhadap Allah swt yang diartikulasikan dalam ilmu 
ketuhanan (theology dan philosophy). Ini berarti bahwa perdebatan dan diskusi 
mengenai Allah swt itu apa dan siapa telah ditutup rapat dan kedap. Yang 
menutup diskusi dan perdebatan theology dan philosophy ini adalah Allah swt 
sendiri!!!!!!! 

Implikasi penutupan diskusi dan perdebatan theology ini bagi Al-Dinu al-Islam 
adalah penetapan dan pentafsiran al-Din bukan sebagai perangkat imaginatif dan 
spiritualistik aan zich tetapi yang utama adalah perangkat praktis yang dinamik 
dan membebaskan bagi manusia di dalam mengarungi samudera kehidupan di Bumi. 
Dengan demikian maka Al-Dinu al-Islam paling pas difahami sebagai Jalan (Tegak 
dan) Lurus (kata mustaqiim, dari Siroth al-mustaqiim, ini berasalkata-symantic 
dari qoum - qof-waw-mim adalah fi'il yang menjelaskan prinsip tegak, lurus, 
bangkit berdiri, beranjak meninggalkan posisi, didasarkan, memulai...... dst). 
Dalam Al-Dinu al-Islam tidak diintroduksikan dasar pemikiran fatalisme maupun 
pasifisme (non-activity) tetapi justru ditetapkan dasar pemikiran ilmiah Islami 
yang dialektis. Jika boleh meminjam pemahaman dari Karen Amstrong dalam 
bukunya: " Islam a Short History" (2000) maka Al-Dinu al-Islam "...adalah suatu 
kepercayaan realistis dan praktis" di mana "...tidak ada argumentasi dan 
diskusi filosofis mengenai monotheisme...". 

Dari sekadar uraian di atas maka sebenarnya istilah dan predikat para " ahli 
Islam" non-Muslim yang menerapkan analogisme Kristologi dengan kata " liberal" 
dalam memerinci berbagai arus pemikiran di kalangan para pemikir dan ' ulama 
Muslimin adalah suatu usaha egalitarisasi Al-Dinu al-Islam sebagai " religion" 
(agama). Penetapan menentukan (definisi) hampir 1500 tahun lebih atas Al-Dinu 
al-Islam sebagai " religion" (agama) adalah suatu penyimpangan dari ketentuan 
wahyu (jika kita mempercayai adanya wahyu sebagai peristiwa, event, 
teknik-ilmiah Islami. Pelajari teori Quantum Chromo Dynamic dan Quantum Electro 
Dynamic; Relativity Theory).

Oleh sebab itu maka adalah lebih baik membaca dan memahami (iqro') Al-Dinu 
al-Islam melalui liku-liku sejarah perjuangan rasululoh Muhammad saw dalam 
merubah masyarakat dan tatanan sosial Arab zaman perbudakan dengan ekonomi 
agraris dan perdagangan guna mempersiapkan diri memasuki tingkat masyarakat 
kota yang mapan untuk maju ke pengembangan teknologi dan ilmu dalam 
meningkatkan budaya manusia Arab yang masih mengembara di padang pasir dan 
steppe tandus lembah batu lava hitam. Sebagai pembimbing arah pemahaman dan 
pemikiran yang diintroduksi oleh para sahabat dan pendukung rasul pada zamannya 
kita pergunakan firman-firman Allah swt yang dimuat dalam Al-Quranu al-Karim 
dengan pembacaan banding (inference) atas firman-firman Allah swt yang digelar 
di alam semesta. Inilah methodology pemahaman Al-Dinu al-Islam yang saya 
ketengahkan kepada kaum Muslimin.

Wa bi Allahi taufiq wa al-hidayah wassalam,
A.M

  
  ----- Original Message ----- 
  From: aris solikhah 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, March 05, 2007 6:45 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Fwd: Dua Abad Islam Liberal


  Terima kasih mas Dede, jadi saya juga makin tahu siapa
  saja sih penggagas JIL ^_^.

  Benar sekali yang dikatakan Luthfi bahwa gerakan Islam
  Liberal telah ada 2 abad dan salah satu keberhasilan
  Islam liberal adalah keruntuhan khilafah 1924 oleh
  Attaturk, bapak Islam liberal Turki.

  Dalam masa perubahan Turki dari Khilafah menjadi
  republik, Attaturk membunuh lebih dari 200 ulama, dan
  imam masjid yang ingin mendirikan khilafah kembali.
  Saya lupa literaturnya, di buku mana saya membaca ini
  ya.

  Tentang Bernad Lewis, dengan elok di buku What Went
  Wrong: Western Impact and Middle Eastern Response. New
  York: Oxford University Press, 2002. Ia sangat
  objektif mengulas tentang kejayaan khilafah, kelemahan
  umat Islam yang lalai dalam urusan agamanya (terutama
  penerapan syariat Islam diakhir khilafah usmaniyah)
  dan keunggulan sistem terbuka khilafah yang membuka
  diri terhadap warga mana pun termasuk Yahudi menjadi
  warga negara Islam tanpa harus pindah agama.

  Keunggulan yang sulit dimiliki oleh negara Eropa atau
  sistem demokrasi mana pun. 

  Menurutnya, kelemahan umat Islam adalah selain ia
  lalai dalam syariat ISlam adalah karena umat Islam
  bahkan memisahkan Ilmu teknologi dari kehidupan. Umat
  Islam agak enggan mengadopsi ilmu dan teknologi dari
  dunia barat dan malah sangat terbuka mengadopsi sistem
  politiknya yang demokrasi liberal untuk diterapkan
  dinegerinya.

  Keunggulan buku ini adalah keobjektifan dan kejujuran
  Bernard Lewis sebagai seorang sejarahawan dalam
  mengulas tanpa steorotipe, justifikasi, tuduhan buruk
  terhadap umat Islam. 

  Buku Bernard ini, sangat objektif dan arif bijaksana
  bahkan dibandingkan buku-buku yang dibuat oleh
  beberapa dari umat Islam sendiri yang sering menulis
  sesama saudaranya sendiri yang ingin kembali
  menerapkan Islam dengan sebutan Islam fundamentalis
  atau teroris. ^_^

  Jadi kalau saya boleh mengusulkan dan merekomendasikan
  buku Bernard untuk dibaca.... ^_^

  salam sukses mulia selalu,

  aris

  --- Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  > 
  > 
  > >Subject: Dua Abad Islam Liberal
  > >
  > >Oleh Luthfi Assyaukanie
  > >Pendiri JIL, Peneliti Freedom Institute, dan Dosen
  > Universitas
  > >Paramadina, Jakarta
  >
  
><http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm>http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/02/Bentara/3344564.htm
  > >==========================
  > >
  > >Sebagai gerakan lokal, Jaringan Islam Liberal Maret
  > ini baru berusia
  > >enam tahun, tapi sebagai gerakan global, Islam
  > Liberal-dari mana
  > >istilah JIL berasal-sesungguhnya telah berusia dua
  > abad lebih.
  > >Mengambil patokan tahun 1798, usia Islam Liberal
  > mencapai 209 tahun.
  > >
  > >Tahun 1798 adalah saat Napoleon Bonaparte
  > menginjakkan kaki di
  > >Mesir. Tahun itu sangat bersejarah. Bernard Lewis
  > menyebutnya
  > >sebagai a watershed in history dan the first shock
  > to Islamic
  > >complacency, the first impulse to westernization
  > and reform (Lewis
  > >1964:34). Para ahli sejarah sepakat, kedatangan
  > Bonaparte di Mesir
  > >merupakan tonggak penting bagi kaum Muslim dan juga
  > bagi bangsa
  > >Eropa.
  > >
  > >Bagi kaum Muslim, kedatangan itu membuka mata
  > betapa tentara Eropa
  > >yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung
  > Islam. Bagi
  > >orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa
  > mudah menaklukkan
  > >sebuah peradaban yang di masa silam begitu berjaya
  > dan sulit
  > >ditaklukkan.
  > >
  > >Begitu penting 1798. Albert Hourani, sejarawan
  > Inggris keturunan
  > >Lebanon, menjadikannya awal era liberal bagi bangsa
  > Arab dan kaum
  > >Islam. Seperti yang ia jelaskan dalam bukunya,
  > Arabic Thought in the
  > >Liberal Age, kedatangan Bonaparte ke Mesir bukan
  > sekadar penaklukan
  > >militer, melainkan juga awal kebangkitan kesadaran
  > kaum Muslim akan
  > >diri mereka.
  > >
  > >Menarik dicatat, Hourani menggunakan era liberal
  > untuk merujuk masa
  > >kebangkitan Islam di dunia modern. Kata liberal di
  > sini ialah sebuah
  > >kondisi dan suasana di mana kaum Muslim bebas
  > mengartikulasikan
  > >kesadaran budaya dan peradaban mereka. Dalam
  > konteks Eropa, liberal
  > >mengacu kepada situasi kebangkitan dan pencerahan.
  > Itu sebab ketika
  > >karya Hourani itu diterjemahkan ke dalam bahasa
  > Arab, yang digunakan
  > >untuk liberal age adalah asr al-nahdah yang berarti
  > 'era
  > >kebangkitan' (judul lengkapnya al-fikr al-arabi fi
  > asr al-nahdah).
  > >Menurut Hourani, era liberal di dunia Arab
  > terentang dalam (1798-
  > >1939). Tahun 1939 merujuk kepada pecahnya Perang
  > Dunia II dan
  > >dimulainya kiprah politik Ikhwanul Muslim di Mesir.
  > Selama rentang
  > >itu dasar pemikiran seperti kemajuan, modernitas,
  > kebebasan, dan
  > >persamaan dibincangkan secara luas.
  > >
  > >Para liberalis awal
  > >
  > >Para pembaharu awal seperti al-Tahtawi, al-Tunisi,
  > dan al-Kawakibi
  > >menyadari betul kondisi kaum Muslim yang
  > terbelakang. Perhatian
  > >utama mereka: bagaimana mengubah keadaan ke arah
  > lebih baik. Mereka
  > >selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum
  > Muslim dengan
  > >kemajuan Eropa. Persis seperti yang dipertanyakan
  > Abd al-Rahman al-
  > >Kawakibi dalam bukunya, limadza taakhkhara
  > al-muslimun wa limadza
  > >taqaddama ghayruhum (mengapa kaum Muslim mundur dan
  > mengapa bangsa
  > >lain maju?).
  > >
  > >Seluruh pemikiran dan gagasan yang dikemukakan para
  > pembaharu Islam
  > >abad ke-19 berputar pada upaya menjawab pertanyaan
  > di atas. Adalah
  > >ironis, peradaban yang pada masa silam memiliki
  > sejarah gemilang dan
  > >kitab sucinya mewartakan "umat terbaik di dunia"
  > (khayru ummatin
  > >ukhrijat linnas) berada pada titik nadir peradaban.
  > Bukan hanya
  > >berada dalam keterbelakangan, mereka juga dalam
  > penjajahan bangsa
  > >lain. Mesti ada satu sebab utama mengapa kaum
  > Muslim terbelakang dan
  > >mengapa bangsa Eropa maju?
  > >
  > >Rifa'a al-Tahtawi (1801-1873) adalah salah satu
  > tokoh pembaharu
  > >pertama yang mencoba menjawab pertanyaan itu.
  > Menurut al-Tahtawi,
  > >kunci pertanyaan itu adalah "kebebasan"
  > (hurriyyah). Bangsa Eropa
  > >maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan
  > teknologi di Eropa
  > >sejak abad ke-16 didorong oleh suasana kebebasan
  > dalam masyarakat
  > >itu. Tahtawi menganggap kebebasan bukan hanya kunci
  > bagi
  > >kebahagiaan, tapi juga bagi keamanan dan
  > kesejahteraan.
  > >
  > >Sebab utama keterbelakangan kaum Muslim, menurut
  > Tahtawi, ialah
  > >ketiadaan kebebasan itu. Ini sudah terjadi sejak
  > kerajaan Islam di
  > >Baghdad (abad ke-12) dan Cordova (abad ke-15)
  > runtuh. Sebaliknya,
  > >kebebasan berpikir yang dalam istilah agama dikenal
  > dengan ijtihad
  > >justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad
  > ke-15-ke-19,
  > >wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat
  > menutup pintu
  > >ijtihad.
  > >
  > >Tahtawi tak sendirian meyakini kebebasan sebagai
  > kunci kemajuan
  > >suatu bangsa. Pada 1878 Sa'dullah, intelektual dan
  > diplomat Turki,
  > >berkunjung ke Pameran Besar di Paris. Dalam sepucuk
  > surat kepada
  > >teman-temannya, dia bercerita: "Di depan pintu
  > utama aku melihat
  > >patung kebebasan. Dia duduk dan memegang sesuatu di
  > tangannya.
  > >Gayanya seolah sedang menyampaikan pesan: 'Hai para
  > pengunjung! Jika
  > >Anda menyaksikan berbagai pencapaian kemajuan
  > manusia dalam pameran
  > >ini, jangan lupa bahwa seluruh pencapaian ini
  > adalah hasil dari
  > >kebebasan. Lewat kebebasan manusia mencapai
  > kebahagiaan. Tanpa
  > >kebebasan, tak akan ada keamanan; tanpa keamanan,
  > tak akan ada
  > >pencapaian; tanpa pencapaian, tak akan ada
  > kesejahteraan; tanpa
  > >kesejahteraan, tak akan ada kebahagiaan'." (Lewis
  > 1964:47).
  > >
  > >Para pembaharu atau liberalis Muslim awal melihat
  > kebebasan benar-
  > >benar sebagai kunci kebahagiaan. Bukan hanya
  > kebahagiaan individu,
  > >tapi juga kebahagiaan suatu bangsa. Pandangan ini
  > mengingatkan kita
  > >pada Francis Fukuyama (2000) ketika menjelaskan
  > "modal sosial" dalam
  > >berdemokrasi. Menurut Fukuyama, demokrasi sangat
  > ditentukan oleh
  > >modal sosial yang mendukungnya. Modal sosial adalah
  > sekumpulan
  > >berbagai unit dalam sebuah masyarakat. Unit
  > terkecil kumpulan sosial
  > >adalah keluarga yang terdiri dari
  > individu-individu. Jika individu
  > >dalam keluarga ini baik, dia akan memiliki dampak
  > pada unit yang
  > >lebih besar, yakni masyarakat sebagai modal
  > demokrasi.
  > >
  > >Tahtawi dan para pembaharu Islam abad ke-19 juga
  > melihat kebebasan
  > >individu sebagai langkah awal mewujudkan
  > kebahagiaan dan sukses yang
  > >lebih besar. Yang dimaksud dengan kebebasan adalah
  > kebebasan
  > >politik, suatu keadaan di mana individu bisa
  > memikirkan dan berbuat
  > >sesuatu secara bebas tanpa tekanan atau larangan
  > penguasa. Yang
  > 
  === message truncated ===

  Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah 
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
  pustaka tani
  prohumasi
  nuraulia

  __________________________________________________________
  No need to miss a message. Get email on-the-go 
  with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
  http://mobile.yahoo.com/mail 


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.6/708 - Release Date: 3/2/2007 4:19 
PM


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke