Tulisan ini di ambil  dari milis staf, bagaimana
kira-kira seorang dosen gundah gulana melihat bangsa
ini dan kemudian mengandaikan diri menjadi presiden?
^_^

Kali aja ada teman dekatnya presiden di milis ini
sehingga bisa nitip pesen: Bisa ndak ya pengandaian
ini dilaksakan. Kasihan kan kalau cuma berandai-andai
saja.

--------------------------------------------
Andaikan Saya jadi Presiden

Jelas saya tidak akan jadi presiden; saya bukan orang
partai dan saya tidak akan pernah mau jadi orang
partai.  Tetapi, jika saya jadi presiden, terlebih
dalam situasi negara yang demikian runyam, saya akan
sumbangkan semua gaji dan penghasilan yang saya terima
setiap bulan untuk menyembuhkan semua penyakit bangsa
ini, penyakit mengagungkan harta benda dan kekayaan,
penyakit takut miskin, penyakit serakah, penyakit
mengira tidak akan ada kehidupan setelah kematian,
penyakit kemunafikan, dan semua penyakit yang akan
membawa ke api yang membakar!

Mengapa saya sumbangkan?  Karena sebagai presiden,
semua kebutuhan untuk saya bisa hidup dan berfikir
telah dijamin negara: rumah telah disediakan, bahkan
rumah termewah yang ada di negeri ini; pakaian dari
jenis dan corak yang tidak ada duanya, kendaraan pun
demikian adalah yang tercanggih yang tidak pernah
kosong tanki bahan bakarnya, makanan dan minuman yang
dihidangkan setiap waktu sangat bergizi sehingga
mustahil saya kena serangan busung lapar,
rekening-rekening tidak perlu saya bayar, semuanya
sudah dalam tanggungan negara, dokter pribadi selalu
siaga setiap saat saya perlukan.  Jadi pendek kata,
sebagai presiden saya tidak memerlukan uang-uang lagi,
oleh karena itu justified jika semuanya saya
sumbangkan.

Lantas berapa besar pengaruh uang yang saya sumbangkan
itu untuk pemulihan kondisi “sekarat”nya negara ini? 
Kecil?  Memang kecil kalau hanya memperhitungkan uang
yang disumbangkan presiden.  Tapi apa wakil presiden
akan berpangku tangan? Para menteri akan berpangku
tangan? Para pejabat tinggi lainnya? Para gubernur?
Apakah anggota dewan yang terhormat, para bupati, wali
kota, camat, wedana, kepala desa, rektor, dosen,
direktur, CEO, pengusaha, karyawan, kepala sekolah,
guru, dan elemen masyarakat tidak meniru contoh yang
diberikan sang presiden?

Teladan sang presiden akan menjadi super power
meng-eradicate semua penyakit bangsa yang sekarang
seolah pesimis akan hilang.

Kemudian, apakah dua tahun sebelum masa jabatan habis
saya akan kampanye mengumbar kebohongan dan
“mengagungkan” nama besar partai saya agar landslide
pada masa jabatan berikutnya?  No way man, enough is
enough, being president is so dreadful.  Otak saya
tidak akan sedikit pun berfikir untuk bagaimana
“ngadalin” dan menyingkirkan lawan politik, apalagi
“mengalirkan” dana-dana non budgeter yang aduhai ke
partai yang telah berjasa mengantarkan saya ke
jabatan.  Tidak, saya akan resign sincerely.

Terus apa yang saya miliki setelah saya keluar dari
istana?  Tidak ada, saya miskin bahkan lebih miskin
dari sebelum saya jadi presiden.  Tetapi saya tidak
malu jadi mantan presiden miskin harta benda, malahan
saya sangat berbangga karena telah melewati masa yang
sangat berat, terhindar dari gemerlapnya tipuan dunia.
 Satu-satunya kebanggaan saya adalah memiliki negara
yang telah sembuh dari kemungkaran.

Benarkah saya akan miskin? Belum tentu, karena siapa
tahu nun jauh di sana, panitia Nobel Prize telah
mempersiapkan hadiahnya buat sang mantan presiden yang
tidak takut miskin.  Hadiah Nobel itu pun akan saya
sumbangkan lagi; ada hadiah hakiki yang saya dan
keluarga saya harapkan nanti di masa depan…


Sukardi
Gundah dengan situasi negara dan bangsa

Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah 
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
 prohumasi
 nuraulia



 
____________________________________________________________________________________
Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.
http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121

Kirim email ke