Keluar dari Kemandegan-Fragmentasi Gerakan (Bag 2 dari
5)

Donal Bebek, Wiji Thukul, Subcomandante Marcos Titik
Koma Zapatista, PRD dan Walt Disney 

Sekali lagi ini soal penghayatan atas misi pembebasan,
imaginasi, daya tahan, kecerdasan sosial dan daya
pukul gerakan…….

Bacalah dengan pikiran dan hati yang terbuka,
belajarlah dari mana saja dari siapa saja, jangan
pandang bulu...

...................
(30 tahun, delapan bulan, dan dua puluh dua hari
kekuasaan Orde baru ini), secara ekonomi, politik dan
budaya tidak bisa diterima dan tidak bisa lagi
dipertahankan oleh rakyat Indonesia. Terbukti : kaum
buruh mulai melakukan pemogokan di berbagai kawasan
industri; kaum tani melakukan aksi-aksi menentang
penggusuran; para mahasiswa berdemontrasi menentang
(penindasan) atas kebebasan akademik; para agamawan
menolak (intervensi militer); para suku anak dalam di
Papua Barat dan Kalimantan menantang penghisapan oleh
Jakarta; Di Timor Timur, rakyat Maubere tidak pernah
berhenti melawan penyerbuan militer dan (penjajahan)
oleh rejim Orde Baru; rakyat Aceh dan Papua Barat
menuntut hak penentuan nasib sendiri. Metode-metode
perlawanan rakyat juga terus meningkat melalu
aksi-aksi massa besar-gabungan antar sektor
masyarakat, menduduki DPR, menyerbu kantor polisi dan
markas militer, konfrontasi dengan militer, hingga
produksi selebaran-selebaran yang masif. Intinya :
ketidakpuasan rakyat terjadi dimana-mana; rakyat sudah
tidak rela hidup di bawah rejim Orde Baru. Sistem
ekonomi, politik, budaya sekarang ini, yang dijaga
oleh ..............(garda militer yang berlindung di
bawah dwifungsi ABRI harus dicabut).... Militer
menjarah lorong-lorong kehidupan masyarakat sipil,
persis dengan hakekat kemiliterannya, sebagai
penyandang senjata lebih-lebih dengan hakekat
kemiliteran Orde baru – tak terusik oleh sejarah
pencerahan abad pertengahan sekalipun. Masyarakat
sipil modern yang bersenjata harus memiliki (otoritas
mutlak terhadap militer), menjadikan militer (meminjam
istilah masyarakat Perancis) sebagai si Raksasa Bisu
la Grande Muette– (tak ada satu kata pun tentang
politik –baca:kekuasaan- dari moncong senjata. Oleh
karena itu : Rakyat harus mencabut dwifungsi
ABRI).........

Menurut Daniel Dhakidae (Cendekiawan dan Kekuasaan,
Gramedia 2003) dokumen yang dipublikasikan pada tahun
1996 ini luar biasa (cermati kata-kata di dalam kurung
diatas). Pertama, membilang hari demi hari, 30 tahun,
delapan bulan, dan dua puluh dua hari, yang dikuasai
Orba dalam membina kekuasaannya bukan saja menarik
perhatian akan tetapi menunjukkan intensitas
penghayatan yang menakjubkan.  Kedua, mengatakan bahwa
ekspansi ke Timor-Timur sebagai penjajahan, pada tahun
1996, adalah suatu loncatan paradigma politik
Indonesia seperti belum pernah dikumandangkan dalam
kosa-kata politik Indonesia sampai hari itu. Ketiga,
ini bukan yang pertama akan tetapi mengumumkan
penghapusan Dwi Fungsi ABRI dan mengembalikan
superioritas sipil dan membuat militer sebagai
’raksasa bisu’ adalah sesuatu yang hampir tak
terbayangkan dalam politik Indonesia. Keempat,
mengatakan bahwa sistem ekonomi, politik dan budaya
’yang ada sekarang sedang bangkrut” pada tahun 1996
mendekati suatu rangkaian ungkapan profetik bila
dibandingkan dengan pembelaan Bank Dunia tentang
fundamental ekonomi yang sehat. Namun, itu pula
menjadi ungkapan profetik terdekat ketika seluruh
sistem sosial, politik, budaya benar-benar bangkrut
pada tahun 1998.....

Anak-anak muda yang mengeluarkan manifesto di 22 juli
ini kemudian memposisikan diri memberi dukungan total
terhadap Megawati sebagai pemimpin partai oposan yang
sedang dihancurkan melalui penyembelihan militer
terhadap para pengurus dan aktivisnya. Anak-anak muda
PRD yang kemudian dilindungi oleh seorang pastor
katolik inilah yang kemudian dianggap sebagai aktor
intelektual rusuh pasca penyembelihan PDI oleh rejim
Orba, dengan ancaman tembak ditempat.

Inilah resonansi dan kulminasi kesadaran, dari virus
jadi endemi bahkan pendemi semangat berlawan. Maka
syair Peringatan yang ditulis seniman melarat dan
kurus krempeng Wiji Thukul tahun 1986 menemukan
momentumnya dari energi  menjadi cahaya ”Hanya ada
satu kata : lawan!”. Kata ’sakti’ ini, pekik
perlawanan yang kemudian tidak saja diteriakan PRD
tapi juga oleh mahasiswa dari segala kecenderungan
ideologi, tapi juga guru, pekerja kerah putih,
ibu-ibu, para lurah dan semua lapis masyarakat lain
(bahkan yang memalukan juga oleh politisi reformis
gadungan).

Demikian pula penghilangan paksa, penculikan, yang
dialami banyak aktivis termasuk (yang terkasih alm?)
Wiji yang kemudian dikeraskan resonansinya oleh (yang
terkasih alm) Munir dengan Kontrasnya, terus
menggulirkan bola salju perlawanan, perjalanan yang
niscaya menuju penghapusan dwifungsi ABRI dan turunnya
Soeharto.

Ini adalah contoh tentang daya ungkit, atau totok
jarum di titik yang tepat, kecerdasan mengelola kata
sebagai senjata, kecerdasan membaca konteks dan
menemukan/menciptakan momentum.

Bila disini ada ”Hanya Satu Kata : Lawan!, maka di
Mexico ada ‘Ya Basta” yang tidak saja mengguncangkan
dan menggerakan pro-dem di Mexico, tapi juga pemantik
semangat berlawan yang masif terhadap imperialisme
Amerika dan Neo-Liberalismenya diseluruh dunia
terutama awalnya di Amerika Latin dan negara-negara
maju”.

Cermati berikut ini 
DEKLARASI PERANG EZLN : Hari ini Kami serukan YA BASTA
(Cukup Sudah)!

”Kami ini hasil dari 500 tahun perjuangan: pertama
kami berjuang melawan perbudakan, lalu melawan Spanyol
semasa perang kemerdekaan, kemudian dengan menolak
dihisap oleh imperialisme Amerika Utara, lantas ketika
meresmikan konstitusi kita dan mengusir pergi
kekaisaran Perancis dari tanah ini.....

Namun hari ini kami serukan “Ya Basta!”

Kamilah ahli waris pendiri sejati negeri kita
ini..........”

Maka  bergeraklah Tentara Pembebasan Nasional
Zapatista melakukan pemberontakkan di negara bagian
Chiapas Meksiko Tenggara. Dalam waktu singkat
Kotapraja San Cristobal de las Casas, ocosingo, Las
Margaritas, Altamarino, Chanal, Oxchuc dan Huixan
diduduki kaum pemberontak. Sejumlah gerilyawan dengan
pimpinan Marcos, subcomandante bertopeng dengan
caklong tembakaunya, pas pus, pas pus, dan dengan
beribu halaman surat-suratnya, komunike, prosa, kisah
dan dongeng-dongengnya yang luar biasa dan mampu
mengubah dan menggerakan dunia.

Hidup bersama-sama komunitas masyarakat adat dan
bergerak secara dinamis,  menguatkan identitas diri,
komunitas, mereka-reka mimpi masa depannya dan
mewujudkan mimpi mereka tentang tatanan masyarakat
yang ideal. Dari semangat berlawan, menjadi semangat
imaginatif dan kreatif menawarkan alternatif gerakan
dan tatanan  yang baru, keluar dari mindset yang ada
(termasuk tirani cara pandang lama dan tirani
ideologi-ideologi dominan).

Dalam penutup komunikenya disebutkan :
”Tiap orang sedang bermimpi di negeri ini. Kini
saatnya bangun..... Inilah badainya. Dari pertarungan
dua arus angin ini badai akan terlahir, saat
kedatangannya sudah menjelang. Kini angin dari atas
sedang berkuasa, dan angin dari bawah sedang
berhembus....

Inilah ramalannya. Saat badai mereda, saat hujan dan
api sekali lagi menyingkir pergi dari negeri yang
damai ini, dunia tak bakal lagi berupa dunia namun
sesuatu yang lebih baik.”

Dalam tulisan lainnya Marcos menyatakan :
”Konon kabarnya saat Michelangelo mamahat patung Daud,
ia harus bekerja menggunakan bongkahan keramik ”bekas”
yang telah berlubang-lubang di dalamnya. Hanya karena
talentanya yang luar biasalah ia mampu menciptakan
sosok yang bisa mengatasi kekurangan tersebut. Dunia
yang ingin kita ubah telah tergarap oleh sejarah dan
berlubang besar. Tidak bisa tidak, kita harus cukup
inventif dalam mengubahnya dan membangun sebuah dunia
baru. Jaga dirimu; dan jangan lupa bahwa gagasan juga
merupakan senjata”.

Kalau kawan-kawan Inspirit yang luar biasa dan gank
fasilitatornya sudah akrab dengan metode (alternatif)
perubahan Appreciative Inquiry dengan Discovery,
Dream, Design dan Deliverynya dan marifat vibrannya,
maka saya yakin Marcos dan Zapatista adalah masternya
filsafat AI (semoga benar). Karena Zapatista adalah
perjuangan memukau bukan terutama karena metodenya
melainkan daya tahan dan kekayaan imajinasi para
pimpinannya.

Entah kenapa saya jadi teringat Jiminy Cricket
(jangkrik bijak sahabat Pinokio), yang berujar ’mimpi
adalah harapan yang dibuat oleh hati anda’. Demikian
juga Walt Disney yang melegenda itu, dia   menjelaskan
keberhasilannya dengan empat kata Dream, Believe, Dare
dan Do. ”Saya bermimpi, saya menguji mimpi saya dengan
keyakinan saya, saya berani mengambil resiko, dan
melaksanakan visi saya untuk membuat mimpi-mimpi
tersebut menjadi kenyataan” Almarhun Walt ditahun 1954
juga pernah mengatakan ”Satu-satunya harapan saya
adalah kita tidak pernah melupakan satu hal..... bahwa
semua ini dimulai dari seekor tikus.”

Bila Pinokio punya sahabat Jiminy Cricket (jangkrik
bijak itu), dalam dongeng, metafora, dialog
reflektifnya Marcos juga punya sahabat bernama Don
Durito ’seekor kumbang-ksatria-intelektual gabungan
dari Don Quixote, Sherlock Holmes, Raja Arthur, bajak
laut si janggut merah dan kritikus anti kapitalis
pelahap karya-karya Umberto Eco’ (Ronny Agustinus
2005).

Sedikit hal pribadi, entah kenapa sampai menginjak
usianya yang ke 11 Dito anakku tokoh favoritnya bukan
spider man, dragon ball, atau tokoh-tokoh jagoan
tetapi Donal Bebek. Anakku ini agak terganggu soal
kegemaranku makan bebek peking. Demi Donal Bebek dan
Dito, maka aku berpuasa panjang untuk makan bebek
peking kegemaranku itu.

Syukurlah manusia itu unik, luar biasa dan ajaib.

Salam 
Kwik kwek kwak
Andreas Iswinarto

Imagine! Let’s dance together
Dream, Believe, Dare dan Do.

RAKYAT Kuasa.
Merdeka NEGERIKU 100%
Hijau BUMIKU





 
____________________________________________________________________________________
The fish are biting. 
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php

Kirim email ke