Keluar dari Kemandegan-Fragmentasi Gerakan (Bag 4 dr 5) Berikut tulisan Thamrin Tamagola di Kompas ................. Ada tugas yang lebih mulia, melakukan kaderisasi pemimpin masa depan secara lebih teratur dan bervisi, khususnya untuk melahirkan politisi muda berwawasan, terampil berorganisasi secara demokratis pada tingkat lokal. Upaya berbagai "Sekolah Demokrasi" yang kini sedang berkiprah adalah langkah investasi paling visioner menjadi pandu Ibu Pertiwi yang tak henti-henti berdoa agar anak-anak bangsa terbangun jiwa dan raganya. Berminat?
Mari bergabung menyiapkan pergantian generasi kepemimpinan pada 2020. Kita memang sedang berpacu dengan waktu....... Kompas Senin, 29 Januari 2007 Berpacu dengan Waktu Tamrin Amal Tomagola Elite politik negeri ini sungguh tak bernurani. Ketika rakyat kecil berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana longsor, hilang di udara, terbenam di dasar laut, terbirit- birit oleh flu burung, para elite politik justru sibuk mengurus diri sendiri. Elite mendirikan partai (baru) yang tak jelas basis konstituennya. Elite kasak-kusuk dan berkomplot mengakhiri mandat yang diberikan rakyat, di Poso berebut wewenang keamanan, padahal yang diperebutkan proteksi dan proyek pembangunan rumah eks pengungsi. Yang paling licik, mengakali uang negara dalam bentuk rapel gaji melalui PP No 37/2006. Kesibukan elite ini jelas dalam rangka berpacu dengan waktu, menuju 2009. Tahun duka dan harapan Kali ini pergantian tahun penuh dengan kontradiksi. Sejak Desember 2006 hingga Januari 2007, sanubari kita diharu-biru dengan campur aduk "rasa-rasa sayu dan pengharapan" (Driyarkara dalam Karya Lengkap Driyarkara, suntingan Sudiarja dkk, 2006:25-28). Saat umat Nasrani harap-harap cemas memperingati kelahiran Sang Juru Selamat, kelompok etnis Tionghoa bersukacita dengan datangnya Tahun Baru Imlek, dan umat Islam bersiap memasuki awal Hijriah, ratusan nyawa rakyat direnggut paksa oleh bencana beruntun. Lahir dan mati, awal dan akhir seakan "bertukar tangkap dengan lepas" (Amir Hamzah, Padamu Djua, dalam HB Jassin, 1962:34). Di satu pihak kita sedih atas penderitaan rakyat kecil dan kebobrokan nurani elite politik, di lain pihak tetap mempunyai harapan dan berupaya, tibanya masa-masa cerah menyejuki Tanah Air. Secara eksistensial-spiritual, semua ini mengantar kita pada kesadaran, setiap kita "ada dalam waktu, terkurung dalam waktu, tetapi mampu mengatasi waktu (transcendent)" (Driyarkara, ibid). Kemampuan transendental manusiawi inilah yang memungkinkan kita melakukan refleksi atas kehidupanpribadi maupun bangsasambil berpacu dalam putaran waktu. Pada tingkat individu refleksi melahirkan (oto) biografi, sedangkan pada tingkat masyarakat menukilkan sejarah (history). Meski berbeda tingkat, biography and history (C Wright Mills, The Sociological Imagination, Oxford University Press, 1959) keduanya punya keterikatan yang saling menghadirkan (contingent). Keterkaitan ini terlihat saat kita menelaah biografi para pemimpin dan keterkaitan nya dengan sejarah bangsa tempat mereka berkiprah (C Wright Mills, The Power Elite, Oxford University Press, 1956). Jika kemampuan transendental ini digunakan untuk mencermati hubungan sejarah bangsa dengan kiprah para pemimpin yang pernah kita punyai, teramati beberapa kecenderungan menarik. Pertama, sejauh ini estafet kepemimpinan bangsa belum mampu menepati ikrar cinta yang setiap kali dilantunkan dalam lagu kebangsaan, "Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku bangunlah jiwanya, bangunlah badannya". Depdiknas dan Depag yang mengurusi "jiwa bangsa" terpuruk dalam korupsi dan pungli. Dirjen Pajak, Departemen Perhubungan, Departemen Kimpraswil, dan Departemen Kesehatan yang diharapkan membangun "raga bangsa", setali tiga uang. Apalagi bila diukur dengan prinsip mulia dalam Pancasila, rapor kiprah pemimpin dan bangsa kian bertabur noktah merah. Kedua, biografi para pemimpin nasional lebih mencuat ke permukaan daripada biografi pemimpin lokal. Indonesia seolah hanya Jakarta atau bila dibuat sedikit lebih luas hanya daerah perkotaan Jawa, Sumatera, dan Bali. Sejarah masyarakat pinggiran dan para tokohnya, khususnya di Indonesia timur, terabaikan baik dalam wacana maupun kebijakan. Hanya diingat dan diperbincangkan bila terjadi bencana alam atau bencana kekerasan komunal dan aparat bersenjata seperti di Poso. Ketiga, seperti di bagian dunia lainnya, kiprah para pemimpin laki-laki mengambil hampir 95 persen halaman buku sejarah bila dibanding sepak terjang para Kartini. Hanya his-story yang banyak terekam. Sedikit sekali her-story yang ternukil dalam sejarah bangsa. Konco-wingking ini bahkan sering sukar ditemukan di sampul belakang sejarah bangsa. Penyangkalan peran sejarah pemimpin perempuan ini kian mengemuka di lahan subur patriarki di Indonesia bagian timur. Keempat, di atas panggung sejarah nasional, paling tidak tercatat tiga generasi pemimpin yang telah berkiprah, yaitu generasi Perintis Nasional, generasi Pejuang Nasional, dan generasi Machiavelis. Sebagian besar generasi perintis nasional lahir di pergantian abad ke-19 dan ke-20, mayoritas generasi pejuang nasional lahir antara tahun 1920 dan 1945, sedangkan umumnya generasi Machiavelis lahir antara tahun 1945 dan tahun 1970. Generasi Perintis adalah kelompok pemimpin sejati (genuine leaders) yang amat terpelajarRA Kartini, H Agus Salim, Syahrir, Bung Hatta, dan Bung Karnomenguasai khazanah pengetahuan yang luas dan beretika dalam politik. Akan halnya generasi pejuang, mereka lebih banyak digembleng secara fasistik-militeristik oleh Jepang, lebih sebagai mobilisator, tidak terlalu peduli dengan etika politik dan karena itu lebih mementingkan hasil proses yang adil, manusiawi, dan beradab. Generasi Machiavelis adalah mereka yang tumbuh dan menjadi matang dalam gemblengan Orde Baru. Karena itu, ciri-ciri mereka sama dengan para mentornya. Generasi yang tidak bernurani inilah yang kini terus mengonsolidasi diri untuk bertahan sebagai oligarkh elite politik Indonesia (Robison and Hadiz, Reorganizing Power in Indonesia, Routledge Curzon, 2004). Kearifan sejarah dan kaderisasi Tidak semua generasi Machiavelis terperangkap pola pikir mentor mereka. Ada sebagiandi kalangan sipil maupun militerberhasil melepaskan diri dari jebakan berpolitik tanpa etika dan berdemokrasi tanpa substansi. Mereka memiliki sesuatu yang bernama kearifan sejarah (historical wisdom). Ada tiga indikator utama apakah suatu pihak memilikinya, yaitu mampu mengantisipasi arah arus sejarah, mampu membaca lalu menangkap peluang-peluang terobosan sejarah yang tiba-tiba tersaji, serta tahu diri kapan saat yang tepat untuk turun panggung. Nelson Mandela, Gorbachev, dan Corry Aquino adalah sedikit dari pemimpin besar dunia yang terbukti memiliki kearifan sejarah dimaksud. Para pemimpin generasi pejuang dan generasi Machiavelis yang bermasalah di masa lampau dan sudah terbukti gagal memimpin bangsa sebaiknya tahu diri dan tidak usah ngoyo untuk kembali naik panggung. Tanpa perlu memaafkan diri dengan janji bahwa ini adalah tikungan terakhir pengabdian mereka (Sukardi Rinakit, Kompas, 22/1/2007), sebaiknya legowo lengser saja, tanpa perlu naik gunung untuk bertapa. Ada tugas yang lebih mulia, melakukan kaderisasi pemimpin masa depan secara lebih teratur dan bervisi, khususnya untuk melahirkan politisi muda berwawasan, te- rampil berorganisasi secara demokratis pada tingkat lokal. Upaya berbagai "Sekolah Demokrasi" yang kini sedang berkiprah adalah langkah investasi paling visioner menjadi pandu Ibu Pertiwi yang tak henti-henti berdoa agar anak-anak bangsa terbangun jiwa dan raganya. Berminat? Mari bergabung menyiapkan pergantian generasi kepemimpinan pada 2020. Kita memang sedang berpacu dengan waktu. ____________________________________________________________________________________ Finding fabulous fares is fun. Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel bargains. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

