'Saya Diselamatkan Allah' 




''Saya ndak apa-apa,'' kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin,
kepada para perawat dan dokter Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Yogyakarta
setibanya di RS tersebut, kemarin. Hal yang sama juga diutarakan Din, saat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghubunginya di sela-sela general check
up di tempat yang sama.
Walau menolak, tapi Din akhirnya mau juga didudukkan di kursi roda dan
didorong perawat RS tersebut masuk ke ruang gawat darurat untuk menjalani
general check-up. Luka memar dan kemerah-merahan tampak membekas di pelipis
kiri Din. Luka memar juga terlihat di keningnya, sedangkan luka kecil dan
memar terlihat di sudut bibir bagian kiri dan kanan atas.
Din Syamsuddin merupakan salah satu penumpang pesawat Garuda jenis Boeng
737-400 jurusan Jakarta-Yogyakarta yang terbakar dan meledak saat mendarat
di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta sekitar pukul 07.00 WIB, Rabu (7/3). '
Saya sungguh bersyukur. Saya merasa dan meyakini saya diselamatkan Allah
dengan kasih sayangnya. Alhamdulillah, mudah-mudahan tidak ada gangguan
dalam dan bisa turun dengan selamat. Ini ujian dan cobaan bagi saya, saya
harus bermuhasabah,'' kata Din usai menjalani pemeriksaan.
Selanjutnya dia mengisahkan peristiwa tragis yang baru dialaminya itu.
Menurut Din, dia sudah merasakan kondisi penerbangan pesawat Garuda tersebut
cukup aneh saat badan pesawat mulai goyang di udara, tepatnya di atas gedung
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Goyangan itu dirasakannya sebagai keanehan
karena saat itu cuaca Yogyakarta terlihat cerah. Din yang duduk di kursi
nomor 7D itu mulai khwatir bakal terjadi sesuatu.
Kekhawatiran itu kemudian memang terjadi. Sekitar pukul 07.00 WIB,
pendaratan pesawat tersebut tidak berjalan mulus. Pesawat terus melaju
hingga melampaui batas landasan pacu. ''Tampaknya dia (pilot) nggak bisa
mengendalikan. Saya pikir, jangan-jangan sudah di ujung landasan. Tetapi,
tiba-tiba terjadi hantaman, yang kemungkinan di tengah landasan. Meja di
depan saya terbuka, langsung saya tutup. Orang mulai panik dan mengucapkan
takbir. Terjadi hantaman lagi dan sejak itu saya tidak ingat apa-apa,'' ujar
Din. 
Dia memperkirakan, hantaman tersebut membuatnya sempat pingsan dalam
beberapa detik. Saat terbangun, tutur Din, lingkungan di sekitarnya sudah
sangat gelap akibat kepulan asap. Saat itu teriakan dan jeritan takbir terus
saja terdengar. Kondisi ini menyadarkan Din, musibah yang mengancam nyawa
sedang terjadi. Dia tidak menyangka pesawat yang ditumpanginya sudah berada
di luar landasan. Sesaat kemudian dia menenangkan diri, lalu beranjak
mencari pintu keluar. Saat itu, dia mendengar perintah untuk bergerak ke
arah kanan. 
Ia pun bergerak ke arah kanan. Namun, kata Din, saat di antara kegelapan
asap ada ibu-ibu yang berteriak mencari tasnya. Din langsung meminta ibu
tersebut untuk langsung keluar, dan tidak memikirkan tasnya. Dalam beberapa
detik yang sangat menentukan itu, Din merasakan betul adanya campur tangan
Allah. 
''Di depan pintu darurat itu terasa sangat lengang, tidak terhambat kursi,
tidak terhambat orang. Saya merasa sendiri, saya langsung loncat. Saya nggak
tahu ketingiannya. Tampaknya di atas sawah karena agak lembek,'' tutur dia.
Ketika di luar pesawat tersebut, Din melihat badan pesawat telah terbakar
dan banyak penumpang yang sudah tergeletak. Saat itu pula dia melihat sudah
banyak petugas dan mobil pemadam kebakaran sibuk menyemprotkan air ke tubuh
pesawat. Setelah sadar, Din mengaku langsung menghidupkan ponselnya dan
menghubungi Taufik, sopir penjemputnya yang sudah siap di bandara.
Tampaknya, Din sudah memperoleh firasat terkait kecelakaan itu. Semalam
sebelum kecelakaan itu terjadi, dia tidak bisa tidur. Menurut dia, setelah
pulang dari pertemuan Muhammadiyah, dia melihat televisi yang menayangkan
berita soal gempa di Sumatra Barat. Walau sudah di tempat tidur, hingga
pukul 01.00 WIB, Din tetap belum bisa tidur. Dalam situasi itu, dia
memutuskan berangkat ke Sumatra Barat pada Rabu (7/3). Saat itu pula Din
menghubungi direktur Lion Air untuk menanyakan keberangkatan pesawat menuju
Padang. 
''Katanya pesawat berangkat pukul 17.30 WIB, saya langsung pesan enam kursi,
' ungkap dia. Din juga langsung meminta istrinya menyiapkan perlengkapan
untuk bepergian selama dua hari. Din baru bisa tidur sekitar pukul 02.30 WIB
 dan bangun kembali pukul 04.00 WIB.
Keesokan harinya, di dalam pesawat Garuda yang membawanya menuju Yogyakarta
untuk menghadiri pertemuan dengan Menlu Negeri Australia, Alexander Downer,
di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Din berusaha untuk tidur. Namun,
saat itu pikirannya terbagi antara bencana di Sumatra Barat dan
mempersiapkan sambutan di hadapan Downer. ''Baru saya mulai mau tidur,
pramugari membangunkan menawari saya minuman. Saya pesan saja kopi,'' kata
Din. Setelah itu dia merasa goyangan aneh dalam penerbangan itu.
Karena musibah tersebut, pertemuan Din dengan Downer dibatalkan. Belum
hilang rasa terkejut akibat kecelekaan tersebut, Din mendengar kabar ibu
mertuanya, Darnelis binti Thaher (71 tahun), meninggal dunia. Dia lalu
memutuskan segera kembali ke Jakarta. Dengan perasaan yang masih shock dia
meninggalkan Yogyakarta pukul 14.00 WIB. Kemarin sore dia sudah berada di
Jakarta untuk mengantarkan ibu mertuanya ke tempat peristirahatan terakhir.
yulianingsih
( ) 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke