Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak.)





                Supersemar dan Yayasan Supersemar

                                yang serba haram





Kalau selama lebih dari 32 tahun kata-kata Supersemar (Surat Perintah
Sebelas Maret) disanjung-sanjung oleh para pendukung rejim militer Orde Baru
sebagai “kata sakti” atau sesuatu yang sangat diagung-agungkan sebagai
“penyelamat negara dan bangsa”, maka mulai tanggal 11 Maret 2007 sekarang
ini sudah banyak orang yang menghubungkan Supersemar dengan pengkhianatan
Suharto dkk terhadap presiden Sukarno dan penghancuran kekuatan kiri di
Indonesia. Lebih-lebih lagi, dengan dibeberkannya kasus uang haram Tommy
Suharto di depan pengadilan Inggris, banyak orang menghubungkan Supersemar
juga dengan masalah KKN besar-besaran yang dilakukan selama puluhan tahun
oleh keluarga Cendana.



Dalam kaitan ini adalah sangat menarik untuk mencermati berita Jawapos
tanggal 10 Maret 2007, yang meyingkap masalah Yayasan Supersemar yang telah
“membantu” tidak saja Tommy Suharto, melainkan juga (antara lain) untuk
menyelamatkan bisnis  Sigit Suharto, Bob Hasan, dengan jumlah lebih dari Rp
1 triliun (lebih dari  Rp 1 000 000 000 000, atau seribu miliar Rupiah).
Berita tersebut berbunyi antara lain sbb:



“Posisi Tommy Soeharto dalam persidangan di Royal Court Guernsey,

Inggris, semakin terpojok. Hakim menerima sejumlah bukti tambahan dari

kejaksaan untuk memperpanjang pembekuan sementara dana EUR 36 juta (Rp

424  miliar) atas nama Garnet Investment Limited (GIL), perusahaan

milik Tommy, di BNP Paribas, cabang Guernsey, Inggris.



Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh menyatakan, bukti baru tersebut adalah

dokumen yang menguatkan bahwa Tommy menikmati aliran dana dari Yayasan

Supersemar. Hal itu terjadi semasa ayahnya, mantan Presiden Soeharto,

menjadi ketua harian Yayasan Supersemar. "Kami mendalilkan seperti itu,"

kata Arman -sapaan Abdul Rahman Saleh- di Gedung Kejagung kemarin.



Menurut dia, dalil tersebut diterima hakim Royal Court Guernsey. Hal itu

dibuktikan oleh hakim yang menolak permohonan Tommy untuk membuka

pembekuan sementara rekening GIL di BNP Paribas cabang London.



Berdasar data koran ini, kejaksaan pernah membeberkan aliran dana Yayasan

Supersemar ke Tommy dalam surat dakwaan korupsi tujuh yayasan dengan

terdakwa Soeharto. Mantan penguasa Orde Baru tersebut menggunakan dana

yayasan untuk menyelamatkan perusahaan Tommy dari kebangkrutan,

khususnya PT Sempati Air.



Selain Tommy, uang yayasan tersebut digunakan untuk menutup kerugian valas

Bank Duta senilai USD 419 juta, mengalokasikan dana Rp 1,026 triliun untuk

menyelamatkan bisnis Sigit Soeharto dan Bob Hasan, membeli tanah di

Citeureup, membeli saham PT Indocement, serta membeli saham PT Citra Marga

Nusaphala (milik Tutut).



Padahal, sesuai anggaran dasar (AD), yayasan yang menghimpun dana

sumbangan 2,5 persen dari laba bersih delapan bank pemerintah itu

bergerak di bidang pendidikan (kutipan dari Jawapos selesai).



Seilidikilah ramai-ramai Yayasan Supersemar


Terlepas dari pemeriksaan di masa-masa yad oleh pengadilan Indonesia
terhadap 7 “yayayan” yang pernah didirikan oleh Suharto beserta keluarganya,
kiranya suatu penelitian atau studi yang serius tentang Yayasan Supersemar
ini (dan yayasan-yayasan lainnya) perlu diadakan oleh berbagai lembaga
penelitian atau badan-badan dan organisasi lainnya di Indonesia. Sebab,
kalau mengenai sejarah Supersemar sendiri, selama ini sudah mulai muncul
tulisan-tulisan yang membongkar atau memblejeti peristiwa politico-militer
yang merupakan langkah lebih jauh lagi  dalam usaha Suharto untuk mengadakan
“kudeta merangkak” terhadap presiden Sukarno, maka masih sedikit sekali
tulisan yang mengulas apa itu sebenarnya Yayasan Supersemar.



Memang, dalam tulisan George Junus Aditjondro dan dalam laporan majalah TIME
(24 Mei 1999) sudah diutarakan banyak hal tentang masalah Yayasan Supersemar
dan yayasan-yayasan lainnya dalam rangka pembongkaran harta haram keluarga
Suharto. Tetapi, masih banyak segi-segi Yayasan Supersemar (dan
yayasan-yayasan lainnya) yang belum diketahui oleh orang banyak. Padahal,
berbagai hal yang berkaitan dengan yayasan-yayasan ini sangat penting untuk
menilai secara tepat (atau mengukur dengan baik-baik) tentang baik-buruknya
Suharto (beserta keluarganya), atau sangat perlu untuk mengerti dengan baik
apa itu sebenarnya rejim militer Orde Baru.



Perlu ditekankan lebih dulu di sini, bahwa yayasan-yayasan Suharto  (antara
lain, Yayasan Supersemar)  adalah suatu bagian kecil sekali saja dari begitu
banyak borok parah  Orde Baru, atau bagian yang amat ringan saja dari segala
dosa rejim militer Suharto di bidang politik, sosial, ekonomi, militer dan
HAM. Tetapi, bolehlah dikatakan bahwa  yayasan-yayasan Suharto (termasuk
Yayasan Supersemar) adalah bagian dari jati-diri keluarga Suharto, dan
jati-diri keluarga Suharto adalah sebagian dari jati-diri Orde Baru. Boleh
jugalah kiranya dikatakan bahwa kebusukan dan keburukan keluarga Suharto
adalah manifestasi dari segala kebusukan dan keburukan Orde Baru.



Yayasan Supersemar adalah satu dari begitu banyak “yayasan”  yang sudah
didirikan oleh Suharto dan keluarganya ( menurut penelitian George
Aditjondro ada lebih dari 40 “yayasan”).  Seperti banyak yayasan atau
“bisnis” Suharto (beserta keluarganya) amatlah sulit sekali diketahui dengan
pasti berapa kekayaan Yayasan Supersemar atau yayasan-yayasan lainnya, dan
bagaimana management atau operasinya. Seperti halnya di bidang “bisnis”-nya
keluarga Suharto lainnya, dapatlah diduga-duga bahwa banyak sekali praktek
kotor, selingkuh, atau pat-pat-gulipat, yang dilakukan dalam berbagai
yayasan Suharto dan keluarganya ini. seperti yang sudah dibicarakan oleh
umum selama ini.



Management yayasan-yayasan yang tidak transparan



Adalah suatu hal yang menarik bahwa  website Soeharto Center
(http://www.soehartocenter), yang merupakan website keluarga Suharto,
menyiarkan berbagai hal (yang baik-baik saja, tentunya!!!) tentang
yayasan-yayasan yang telah didirikan (tidak semua, hanya sebagian kecil
saja) , termasuk di antaranya Yayasan Supersemar. Yayasan Supersemar ini,
yang diketuai oleh Suharto sendiri,  didirikan dalam tahun 1974. Mengenai
latar-belakang didirikannya Yayasan Supersemar itu dijelaskan antara lain
bahwa Suharto menginginkan adanya beasiswa bagi anak-anak pelajar/mahasiswa
yang pandai tetapi tidak dapat dibiayai oleh orang tua mereka.



Seruan Suharto (menurut cerita dalam website itu) mendapat sambutan yang
hangat dari para pengusaha dan dermawan, sehingga dalam sebentar saja
terkumpul uang Rp 1 miliar (waktu itu).

Tidak dijelaskan, tentu saja, bahwa para pengusaha atau para dermawan itu
mau “menyetor” dana (secara sukarela, atau setengah paksa, atau betul-betul
karena dipaksa oleh keadaan) untuk Yayasan Supersemar, karena mereka
berkongkalikong dengan Suharto (beserta keluarganya) dan para
pendukung-pendukung setianya.



Yang patut diperhatikan yalah bahwa website yang banyak menyiarkan hal-hal
yang berkaitan dengan yayasan-yayasan itu, tidak menyiarkan hal-hal yang
berhubungan dengan masalah management, atau operasi, atau keuangan, berbagai
yayasan itu. Yang pernah disiarkan tentang Yayasan Supersemar adalah
sebagian dari angka-angka mengenai jumlah beasiswa yang diberikan serta
jumlah uangnya. Tetapi, tidak ada laporan yang terbuka atau pertanggungan
jawab yang transparan kepada  publik mengenai pemasukan dan  pengeluaran
dana yang terkumpul. Karena itu ada dugaan kuat bahwa dana Yayasan
Supersemar yang besar, dan didapat dari pungutan (secara paksa atau setengah
paksa), dari masyarakat luas itu tidak dikelola secara jujur dan semestinya.
(Karena itu lalu banyak yang  “nyasar” untuk nomboki atau membeayai
proyek-proyek dan “bisnis palsu” Tommy, Sigit, Tutut, Bob Hasan dll dll dll
dll).



Supersemar yang harus dikutuk


Seiring dengan makin terbongkarnya kebusukan peristiwa Supersemar, yang
membikin banyak orang melihat dengan gamblang tentang pendongkelan kekuasaan
presiden Sukarno oleh Suharto dkk, maka makin buruklah citra Supersemar.
Begitu dalamnya kemerosotan Supersemar ini di mata banyak orang, sehingga
makin sedikit – sekarang ini – pendukung-pendukung setia Orde Baru yang
berani terang-terangan dan secara lantang gembar-gembor tentang “hebatnya”
Supersemar.



Perkembangan situasi politik di Indonesia akhirnya akan memaksa  adanya
perubahan atau koreksi dalam buku-buku pelajaran sejarah tentang Supersemar,
yang selama 32 tahun  (ini jangka waktu yang lama sekali!) ditulis menurut
versi rejim militer Orde Baru, sesuai dengan apa adanya dan apa yang
sesungguhnya, yaitu :pengkhianatan segolongan pimpinan militer terhadap Bung
Karno !



Mengingat seriusnya peristiwa Supersemar bagi sejarah bangsa Indonesia, yang
merupakan  salah satu di antara tonggak-tonggak fondamen didirikannya Orde
Baru, maka rakyat Indonesia akhirnya akan mengutuk Supersemar sebagai
pembawa malapetaka besar bagi bangsa, dan bukan sebaliknya, jelasnya bukan
sebagai “penyelamat” bangsa. Jadinya, Supersemar haruslah dinajiskan oleh
bangsa. Dengan kata-kata lain, maka jelaslah bahwa Supersemar adalah sesuatu
yang haram! Supersemar adalah suatu pengkhianatan! Ini yang harus dicatat
oleh sejarah bangsa Indonesia!





Yayasan–yayasan  yang serba haram


Mengingat akan makin busuknya Supersemar (peristiwa 11 Maret 1966) dalam
pandangan banyak orang, maka dapatlah dimengerti bahwa orang pun mulai
mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan Yayasan Supersemar., yang
didirikan oleh Suharto dalam tahun 1974. Sekarang sudah dapat dilihat
bukti-bukti bahwa Yayasan Supersemar (dan yayasan-yayasan lainnya)  itu
lebih banyak digunakan untuk kepentingan Suharto beserta keluarganya (dan
konco-konconya), dari pada untuk kepentingan umum, terutama untuk beasiswa
pelajar/mahasiswa.



Oleh karena adanya kemungkinan yang besar sekali (sekali lagi : besar
sekali!!!) timbulnya banyak penyalahgunaan kekuasaan dalam Yayasan
Supersemar (dan yayasan-yayasan lainnya) maka berbagai kekuatan dalam
masyarakat perlu menuntut adanya auditing atau pemeriksaan yang serius dan
teliti mengenai management Yayasan Supersemar (dan yayasan-yayasan keluarga
Suharto lainnya). Dana Yayasan Supersemar adalah dana yang datang dari umum,
dan karenanya,  publik juga punya hak yang sah (dan adil) untuk menuntut
pertanggungan jawab selayaknya.



Umpamanya, bagaimanakah ceritanya maka sampai Sempati Airlines milik Tommy
Suharto terpaksa “gulung tikar” karena dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung
dalam tahun 1999, dengan meninggalkan utang Rp 1,1 triliun (lebih dari Rp
1000 miliar) setelah mendapat suntikan dana dari berbagai yayasan-yayasan
keluarga Suharto (antara lain dari Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab) -
Rp 17,9 miliar, dari Yayasan Dana Supersemar - Rp 13,2 miliar, dari
Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) - Rp 11 miliar (menurut Koran Tempo,
11 Maret 2007)



Untuk tidak dikatakan orang bahwa tulisan ini hanya serba hitam saja atau
serba negatif melulu tentang yayasan-yayasan Suharto (dan keluarganya)
bisalah ditulis bahwa memang ada hal-hal yang “baik dan berguna” yang telah
dilakukan oleh yayasan-yayasan itu, termasuk Yayasan Supersemar. Tetapi,
perlulah sekali dikaji secara dalam-dalam -- dan secara jujur ! --, apakah
yang “baik dan berguna”  yang telah dilakukan oleh berbagai yayasan itu
seimbang (atau sepadan) dengan banyaknya dana yang telah dikumpulkan dari
mana-mana? Apakah yayasan-yayasan itu bukannya hanya sekadar kedok bagi
segerombolan orang-orang tertentu  untuk bisa secara ramai-ramai “nyolong”
duitnya oang banyak?



Kiranya, sekarang makin jelaslah  bahwa kebanyakan harta yang tertanam dalam
berbagai yayasan dan “bisnis” Suharto beserta keluarganya, adalah sebenarnya
harta yang bisa (dan harus ! ) dikategrorikan sebagai harta haram.



Paris, 14 Maret 2007















.







































--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.11/721 - Release Date: 13/03/2007
16:51


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke