http://offshorefinancialcentre.blogspot.com
Televisi. Kotak ajaib satu ini sepertinya sudah biasa banget ada di setiap rumah. Bahkan, mungkin aja televisi di rumah kamu tidak cuma satu. Ada yang punya dua atau tiga televisi sekaligus. Mungkin, kamu termasuk orang yang hobi banget nonton televisi. Apalagi, sekarang makin banyak muncul televisi swasta yang berarti makin banyak juga acara-acara yang menarik. Bosan lihat televisi? Aih, tenang aja. Ada DVD atau video game yang siap menanti. Masih bosan juga? Santai, main internet atau cukup bertelepon ria dengan teman sepertinya cukup untuk bikin fresh pikiran. Ya gitu deh, sekarang ini anak muda seperti kita memang dimanjakan banget dengan aneka teknologi baru. Semuanya siap memberi hiburan untuk kita. Tapi, pernah terpikir nggak sih, kalau di balik segala menyenangkan itu ada bahaya yang menunggu tanpa kita sadari. Bahaya itu bernama pornografi. Kalau kamu pernah mendengar soal rancangan undang-undang yang membahas soal pornografi dan pornoaksi dan sekarang lagi digodok di DPR, ini bermula dari keinginan untuk menangkis aksi pornografi yang makin merajalela. Yang bikin ngeri, kita bisa dibuat nggak sadar kalau kita lagi terancam dengan bahaya pornografi. Bayangin aja, lewat media-media yang biasa kita gunakan itu, kita menghadapi bahaya pornografi itu. Memang sih, ada sisi positif dari aneka media itu, tapi ''Banyak pula yang muatannya 'bermasalah' ,'' kata Ibu Nina M Armando, seorang pengamat media, yang juga pengajar di FISIP UI ini. Bermasalah? Maksudnya, ada muatan seks dan pornografi, ada unsur kekerasan, bahasa kasar, dan iklan yang dapat mendorong konsumerisme. Kata Ibu Nina di sebuah seminar di Jakarta belum lama ini, kalau hal-hal seperti itu dibiarkan terus ini bakal berdampak buruk terhadap perilaku remaja. Seperti yang diungkap pada teori imitasi bahwa media bisa membuat penontonnya melakukan peniruan seperti apa yang disajikan. Kita bisa terpengaruh lewat sikap dan perilaku, kita juga terpengaruh lewat cara pikir dan pengetahuan. Remaja dan anak Nah, siapa yang paling gampang terpengaruh dengan media seperti itu? Ya, siapa lagi, remaja dan anak-anak. Contoh yang paling gampang, coba deh kalau yang punya adik kecil di rumah. Amati sikapnya sehabis menonton televisi yang menayangkan kartun pahlawan super atau sinetron yang penuh dengan sumpah-serapah. Kalau saja, adik kamu itu tiba-tiba ikut ciat-ciat mengikuti aksi pahlawan super atau dia langsung rajin melontarkan 'kata mutiara' alias kata-kata kasar, ya selamat deh. Itu artinya dia sudah terkena pengaruh buruk media. Kenapa bisa begitu? ''Ini karena mereka belum bisa berpikir kritis, cenderung mengimitasi (meniru) dan mudah terpengaruh teman sebaya,'' ujar Bu Nina. Jadi, begitu muatan porno itu diperoleh, hal-hal 'ngeres' itu tertanam dulu di pikiran kita, kemudian baru disalurkan lewat sikap dan perilaku yang aneh dan ajaib itu. http://offshorefina ncialcentre. blogspot. com

