Surat Sutera Putih:
WATAK PUISI 1. Apa-bagaimana watak puisi? Masalah inilah yang dibicarakan oleh Jean-Pierre Siméon dengan Claude Colombo-Lee dari Harian Katolik, La Croix, Paris, salah satu harian tertua Perancis, pada 9 Maret lalu. Jean-Pierre Siméon, lahir pada tahun 1950 di Paris adalah seorang penyair, penulis roman [romansier], dramartug dan juga kritikus sastra. lulusan Di samping itu, doktor lulusan sastra modern ini, sejak lama mengajar di Institut Universitas Clermont Ferrand, kota di mana ia bertempat tinggal sampai sekarang. Pada tahun 1986, di Clermont Ferrand, Siméon yang berhasil meraih berbagai hadiah sastra, mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan Pekan Puisi yang didukung oleh Jack Lang, Menteri Kebudayaan pemerintah Mitterrand. Untuk Pekan Puisi yang ke-XI ini, dan berakhir kemarin, 18 Maret 2007, Siméon menerbitkan antologi puisi berjudul "Lettera Amorosa" [L'Edition 2007 du Printemps]. Dalam Pekan Puisi Ke-IX ini, Siméon, berfungsi sebagai Direktur Artistik. Seperti diketahui Pekan Puisi dimaksudkan untuk memasyarakatkan puisi, mengembalikan puisi ke tempat semula: ke haribaan ibu kandungnya yaitu masyarakat. Saat ditanya oleh Claude Colombo-Lee dari Harian La Croix, Paris, tentang soal hubungan puisi dan masarakat, Siméon mengatakan bahwa "pertama-tama yang harus dilakukan tidak lain daripada melenyapkan kesalahpahaman dan prasangka publik besar [grand public] yang ditanamkan selama beberapa dasawarsa terakhir". Selanjutnya Siméon, yang menjadi Direktur Artistik "Printemps de Poètes" [Musim Semi Penyair], mengatakan bahwa "selama ini banyak orang mempunyai ide keliru tentang puisi disebabkan oleh ketidaktahuan mereka". Adanya pandangan keliru ini juga erat hubungannya dengan pendekatan pengajaran di sekolah-sekolah terhadap cabang sastra ini. Pendekatan yang dimaksudkan oleh Siméon adalah pengajaran puisi yang dilakukan di sekolah-sekolah berdasarkan repertoar terbatas serta pandangan-pandangan yang terlalu tekhnis. Tapi apakah yang tidak berkembang di dunia ini? "Semuanya mengalir", ujar Heraclitus filosof Yunani Kuno sebelum Masehi. Arus yang mengembarai sungai pun tidak pernah sama dengan yang mengalir kemarin atau beberapa saat lalu. Demikian pula halnya dengan materi pelajaran yang diberikan di sekolah-sekolah juga berkembang berkat jasa para kritikus dan debat untuk perbaikan [bukan debat asal debat dan cari menang sendiri] yang tidak kunjung henti. Sekali pun telah terjadi perkembangan, yang disesalkan oleh Siméon, seperti juga yang dikritik oleh Todorov, adalah kenyataan masalah dasar yaitu pendekatan terhadap puisi dan pengajarannya masih belum juga banyak berobah. Pendekatan sastra, termasuk puisi, masih menekankan pada masalah tekhnis. Keadaan beginilah yang menyebabkan TzvetanTodorov berkesimpulan dalam esai terbarunya "La Littérature En Péril" [Flammarion, Paris, 2007, 95 hlm.] menyebut sastra Perancis dipenuhi oleh "nihilisme dan otofiksi". Yang sungguh-sungguh sastrawan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan sekali pun karya yang diterbitkan pada Januari 2007 lalu mencapai jumlah 300an novel dan roman. Apakah "nihilisme dan otofiksi" ini, tidak mengenai sastra kekinian kita? Ataukah yang namanya Indonesia, termasuk dunia sastranya, kekhasan yang tak mengindahkan nilai dan pendekatan layak bagi suatu sastra dengan takaran umum? Pertanyaan begini muncul di benakku, teringat akan pemahaman atau penafsiran bahwa Pancasila, dari segi demokrasi dan HAM merupakan demokrasi dan HAM unik, yang bisa bergandengan dengan diktaturialisme, otoritarianisme dan militerisme. Kata Indonesia nampak di mata pikirku sebagai suatu mantera pembenaran bagi ketidakmanusiawian dan penyimpangan dari nilai republiken dan keindonesiaan serta universalisme manusiawi. Masalah lain menarik yang diajukan oleh Siméon adalah pertanyaan: Apakah puisi merupakan suatu seni elitis terbatas pada kalangan-kalangan tertentu saja di mana ide yang kita miliki diungkapkan secara halus. Apakah puisi merupakan ornamen diperlukan bagi "keberadaan" [l'existence], suatu kegiatan yang menyenangkan dan indah-lembut? Pendekatan dominasi tekhnis terhadap puisi selama ini, membuat puisi sebagai wilayah asing dari kehidupan bermasyarakat dan anak manusia. Demikian Siméon. Padahal puisi pada galibnya, menurut Siméon, merupakan sarang pemikiran dan kepentingan masyarakat manusia. Aku tidak tahu, apakah pertanyaan-pertanyaan Jean-Pierre Siméon dan konstatasi Todorov di atas, merupakan pertanyaan yang bisa diketengahkan ke dunia perpuisian Indonesia kekinian, termasuk sastra cybernya yang dikhawatirkan oleh Ibnu Wahyudi dari Universitas Indonesia, gampang terjerumus sebagai ajang silahturahmi. Apakah puisi Indonesia merupakan wilayah bermain keisengan dan sekedar sejenis "ceremony of life"? Pertanyaan-pertanyaan Simeon ini, kukira, jika mungkin dan padan dikenakan pada sastra Indonesia sekarang akan menyangkut masalah apa-bagaimana watak wajah perpuisian Indonesia kekinian. Ataukah pertanyaan-pertanyaan ini tidak relevan untuk konteks Indonesia -- nama yang menjurus dari keunikan dan penyimpangan sehingga yang putih bisa berarti hitam, yang hitam bisa dimaknakan putih. Beginikah, adakah, gejala integritas sastra dominan kita di bawah label konsep bahwa"segalanya bisa diatur", "komplotisme" dan "kroyokisme" jika menggunakan istilah alm. Pramoedya A. Toer, ujud lain dari jalan pintas dan kemalasan berpikir?. *** Paris, Maret 2007. ----------------------- JJ. Kusni [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed]

