bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, 
amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH.

ne satu lagi nech, syeringlacg!

silah.

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK. 
wassalamu 'alaikum

cintanya seorang Abu Bakar Ra 

rahmah  

Di dalam Gua Tsur wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda
Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat,
betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada
di atas kepalanya. Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar. 

“Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka,
sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua”.


Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat
dekatnya ini pelan sambil berujar “Janganlah engkau kira, kita
hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia,
yang menggenggam kekuasaan maha, Allah”. 


Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak
mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia
hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki tampan yang kini dekat di
sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya. Bagaimana semesta
jadinya tanpa penerang. Bagaimana Madinah jika harus kehilangan
purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia
tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan
merobek lambung serta menumpahkan darahnya. Sungguh, ia tidak khawatir
runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia
hanya takut, Muhammad, ya Muhammad.. mereka membunuh Muhammad. 

***

Berdua mereka berhadapan, dan mereka sepakat untuk bergantian berjaga.
Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap
guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Aduhai betapa ia
mencintai putra Abdullah. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan
jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Wajah di depannya yang
saat itu berada nyata, meleburkan penat yang ia rasa. Hanya ada satu
nama yang berdebur dalam dadanya. Cinta. 


Sejenak kemudian, Muhammad melabuhkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar.
Dan seperti anak kecil, Abu Bakar berenang dalam samudera kegembiraan
yang sempurna. Tak ada yang dapat memesonakannya selama hidup kecuali
saat kepala Nabi yang ummi berbantalkan kedua pahanya. Mata Rasulullah
terpejam. Nafas harum itu terhembus satu-satu, menyapa wajah Abu Bakar
yang sangat dekat. Abu Bakar tersenyum, sepenuh kalbu ia menatapnya
lagi. Tak jenuh, tak bosan. Dan seketika wajahnya muram. Ia teringat
perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti
memburu hewan buruan. 


Bagaimana mungkin mereka begitu keji mengganggu cucu Abdul Muthalib,
yang begitu santun dan amanah. Mendung di wajah Abu bakar belum juga
surut. Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu
semerbak. “Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan
selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan
sesiapapun menganggumu”.


Sunyi tetap terasa. Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Abu Bakar
menyandarkan punggung di dinding gua. Rasulullah, masih saja mengalun
dalam istirahatnya. Dan tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis
perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar
menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh
dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak,
tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia
tega membangunkan kekasih itu. 


Abu Bakar meringis, ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi
kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah
beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular
segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak
dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi
Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya,
kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa
ingin tahu. 


“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal
mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua. 

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana
pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan. 

“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” 

“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai putra Abdullah, dan
bisanya menjalar begitu cepat” 

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibir
manisnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?” 

“Saya khawatir membangunkan engkau dari lelap” jawab Abu
Bakar sendu. Sebenarnya ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air
matanya hingga mengenai pipi Rasulullah dan membuatnya terjaga. 

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata
Al-Musthafa berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya.
Betapa indah sebuah ukhuwah. 

“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu
Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa
menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Al-Musthafa meraih
pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah
pencipta semesta, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha
suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera
menarik kakinya karena malu. Nabi masih memandangnya sayang. 

“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia
indah seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar
kemudian. 

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang
beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng
kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela,
dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.



"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"

Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
phone: +49 241 1 89 93 69
mobile: +49 1 76 63 01 56 79


                
___________________________________________________________ 
Web email has come of age. Don't settle for less than the All New Yahoo! Mail 
http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html

Kirim email ke