Quote:
"..
Saya sudah sampai kepada kesimpulan historis bahwa ternyata masalah
fundamental yang melingkari
bangsa ini adalah masalah kepemimpinan yang tidak efektif. Bisa saja sang
pemimpin itu orang baik dan
jujur, tetapi tak cukup punya nyali untuk bertindak membela kepentingan yang
lebih besar, tentu tidak
banyak gunanya. Pemimpin yang saya maksud di sini meliputi eksekutif,
legislatif, dan yudikatif.
.."

Kapan ya kita/Indonesia bisa punya pemimpin yang seperti itu?
Yang baik, jujur dan punya nyali (berani) membela kepentingan publik..
In your/our dream only-kah? Waiting for godot? :-(

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

 REPUBLIKA
Resonansi <http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19>  Selasa, 27 Maret
2007
<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=287576&kat_id=19>
*Laptop DPR*
<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=287576&kat_id=19>
<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=287576&kat_id=19>
Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Pertanyaan moral yang mengemuka adalah: mengapa anggota DPR yang berjumlah
550 itu masih harus dimanjakan dengan Laptop yang hanya seharga Rp. 12,1
milyar untuk 550 unit? Jangankan membeli Laptop yang harganya hanya sekitar
Rp. 10 juta per unit, menambah bini baru pun bagi anggota DPR itu tidak ada
masalah dari segi keuangan. Sebagian perempuan Indonesia tampaknya tidak
terlalu risau untuk menjadi isteri ke berapa, apatah lagi dapat anggota DPR
dengan penghasilan yang lumaian. Bukankah untuk hidup layak di Indonesia
sekarang bagi sebagian kita alangkah sulitnya?

Yang tidak dipertimbangkan oleh elit legislatif ini adalah kesan publik yang
sangat buruk dengan kasus Laptop ini. Anggota legislatif yang menyandang
gelar sebagai wakil rakyat itu memang ternyata tidak punya kepekaan nurani:
untuk sebuah Laptop pun negara harus "diperas". Kabarnya anggota DPD juga
tidak mau kalah untuk mengikuti jejak DPR ini. Jangan ditanya lagi tentang
proyek-proyek besar, telinga mereka pasti sangat nyaring mengintainya. Bahwa
ada aturannya untuk pembelian Laptop itu, masalahnya bukan terletak di situ.
Mengapa untuk sebuah Laptop saja. anggota DPR masih tidak merasa sungkan
minta pada negara. Apa ini tidak kebangetan?

Negeri ini sudah terlalu sarat dengan beban kultural, psikologis, ekonomi,
dan politik. Secara kultural dan psikologis, sebagian kita telah lama
terpasung dalam mentalitas menerabas, untuk meminjam temuan Kuntjaraningrat
tahun 1960-an: ingin cepat kaya dengan jalan menerabas tanpa kerja keras.
Dalam sebuah budaya bangsa yang kumuh, main jalan pintas bukanlah asing.
Gaya hidup orang Pertamina tahun 1970-an yang pongah dan parlente misalnya
adalah salah satu contoh dari sikap mental menerabas itu. Seakan-akan negeri
ini mau diatur "pajo awak sajo" (semau gue).

Tetapi setelah Mochtar Lubis dengan koran Indonesia Rayanya membongkar
korupsi besar-besaran di tubuh BUMN itu dengan utang sebesar 11 milyar dolar
Amerika baru orang terbelalak. Ternyata imperium Pertamina itu telah kropos
dari dalam. Setelah masalahnya diambilalih presiden, maka selesailah
kasusnya. Selesai dalam arti Pertamina dibebaskan dari jerat hukum, artinya
mereka yang tersangkut dalam permainan kotor itu boleh lenggang kangkung
dengan kekayaan yang melimpah.

Ternyata proses pembusukan telah lama menggurita dalam tubuh Pertamina, dan
sampai sekarang jumlah tikus yang rakus masih berkeliaran di sana. Bahkan
sebenarnya tidak ada BUNM di Indonesia yang benar-benar sehat. Secara
politik dan ekonomi, hampir semua perusahaan negara telah lama jadi sapi
perahan oleh para petualang politik dan ekonomi.

Apakah itu untuk kepentingan pribadi atau partai, sudah lama menjadi rahasia
umum. Benarlah pendapat yang mengatakan bahwa elit bangsa ini bekerja bukan
untuk memperbesar aset negara, tetapi malah menggerogotinya, jika perlu
sampai kurus kering. Bahkan banyak BUNM tidak jarang harus makan usus untuk
survival. Para direksi yang juga punya mental menerabas tidak malu-malu
berpesta dengan melalap usus perusahaan ini.

Anggota DPR kita tentu mengerti kondisi bangsa yang labil dan tidak menentu
ini. Tetapi tokh mereka tidak perlu merasa malu dengan kasus Laptop itu.
Suasana psikologis inilah yang tidak dipertimbangkan di tengah 42 juta
rakyat miskin kita pada 2007 ini. Jika nurani wakil rakyat sudah tumpul, dan
pemerintah juga ragu-ragu untuk melawan korupsi dan segala bentuk
penyelewengan, lalu kepada siapa lagi mereka harus mengadu? Rakyat yang juga
sering terjangkit penyakit amnesia (mudah lupa) telah dieksploitasi secara
sangat kasar oleh para petualang politik dan ekonomi selama beberapa dasa
warsa di era kemerdekaan.

Saya sudah sampai kepada kesimpulan historis bahwa ternyata masalah
fundamental yang melingkari bangsa ini adalah masalah kepemimpinan yang
tidak efektif. Bisa saja sang pemimpin itu orang baik dan jujur, tetapi tak
cukup punya nyali untuk bertindak membela kepentingan yang lebih besar,
tentu tidak banyak gunanya. Pemimpin yang saya maksud di sini meliputi
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ambillah contoh kejaksaan agung
misalnya. Bisa saja seorang Jaksa Agung Muda punya keberanian hukum untuk
menjerat koruptor, tetapi jika atasannya berhati ciut untuk bertindak,
masalahnya akan terhenti sampai di situ.

Ringkas cerita, pemimpin yang diperlukan oleh Indonesia adalah tipe
pemberani, tegas, di samping jujur dan bersih. Di luar kategori itu, saya
melihat akan sangat sulit bagi bangsa dan negara ini untuk melepaskan
dirinya dari pasungan kultural yang busuk dan korup. Kasus Laptop hanyalah
puncak gunung es dari sebuah kumulatif borok mental yang akut.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke