Liga Arab dan Perdamaian Timur Tengah
Oleh: Martin Fritz dari Hamburg
Selama pertemuan puncak Liga Arab di Riyadh, rancangan perdamaian dengan
Israel yang pernah digagas kembali dibahas.
Mengenai tawaran perdamaian Timur Tengah yang diajukan Liga Arab kepada
Israel, harian Swiss Neue Zürcher Zeitung menulis:
"Tidak ada yang bisa menuntut pemerintah Israel agar menerima begitu saja
agenda perdamaian yang kembali didiskusikan di Riyadh untuk menyelesaikan
masalah Palestina. Tentu saja naif untuk berpikiran, bahwa seandainya Israel
memberi reaksi positif, maka konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun
antara Israel dan Palestina bisa diselesaikan seperti membalik telapak tangan.
Namun, adalah kepentingan mendasar Israel juga, jika prakarsa dari Saudi Arabia
kali ini ditanggapi secara konstuktif dan kreatif. Paling sedikit peluang
perdamaian bisa dijajaki secara serius.
Harian Swiss lainnya, Tages Anzeiger menilai:
"Tidak ada yang didapat dengan cuma-cuma. Untuk normalisasi hubungan
negara-negara Arab dengan Israel tentu ada harga yang harus dibayar. Karena itu
para pimpinan Dunia Arab pertama-tama menuntut agar Israel lebih dulu mengubah
pandangan dasarnya. Kemudian sebagai langkah kedua, mereka akan bersedia
mendiskusikan rinciannya. Setelah semua upaya bilateral gagal, prakarsa
regional ini menawarkan pendekatan baru. Ini hanya sebuah cahaya harapan kecil.
Tapi setelah begitu banyak kegagalan dalam beberapa tahun dan dekade terakhir,
tawaran ini cukup jadi alasan untuk menggapai ranting yang dijulurkan dan
memulai perundingan yang serius.
Mengenai konflik di Timur Tengah dan sikap Amerika Serikat, harian Inggris
Financial Times berkomentar:
"Amerika Serikat dan Israel mungkin merasa tidak punya kepentingan untuk
menjalin perjanjian dengan pemerintahan Palestina, yang masih menyertakan
kelompok Hamas. Dan Hamas juga mungkin tidak punya minat mengakui Israel. Namun
sekaranglah saatnya bagi Israel dan para sahabatnya untuk menyadari, bahwa
perdamaian memang dibuat antara kelompok yang bermusuhan. Kemungkinan itu
sekarang terbuka. Dan mungkin kesempatan ini tidak pernah akan datang lagi.
Yang sekarang diperlukan adalah upaya bersama dari Amerika Serikat, Uni Eropa
dan negara-negara Arab untuk menggelar sebuah konferensi internasional, yang
bisa membawa perdamaian dan menandatangani perjanjian perdamaian.
Sedangkan Harian Belgia De Morgen, menilai Jalur Gaza masih mirip dengan kamp
konsentrasi :
"Pembangunan tembok pemisah terus dilanjutkan dan Jalur Gaza masih ibarat
penjara terbesar dunia, sekalipun pendudukan militer secara resmi sudah
berakhir. Masih ada perlakuan tidak manusiawi bagi warga Palestina di pos
pengawasan perbatasan. Sekalipun ada imbauan internasional, termasuk dari
Amerika Serikat, untuk menghentikan pembangunan pemukiman baru, hal itu tetap
terjadi. Perdana Menteri Israel tetap bersikukuh, ia ingin penyelesaian damai,
tapi politiknya menunjuk arah yang berlawanan.
Harian Italia La Reppublica berkomentar:
Apakah Raja Abdullah dari Saudi Arabia sekarang mengambil tempat yang selama
ini diisi pimpinan Amerika Serikat? Itulah kesan yang muncul pada pertemuan
puncak Liga Arab. Amerika Serikat kehilangan muka dengan bebek lumpuh di
Gedung Putih, yang terjebak dalam lumpur Irak. Amerika Serikat melakukan
langkah mundur, sementara keluarga kerajaan Saudi Arabia dan rejim-rejim Arab
pro Barat melakukan satu langkah maju.
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]