Sampai Kapan Engkau Tidur
  Oleh : Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.com
   
  "Makanlah yang enak, serta tidurlah yang nyenyak", ketika penulis masih 
kecil, seorang guru berpesan demikian, namun sebelum penulis memberikan 
tafsiran yang penulis kehendaki, sang guru tanpa ditanya langsung memberikan 
penafsiran atas pesan yang dia sampaikan, namun dalam tulisan ini, penulis 
memberi kesempatan kepada para pembaca untuk menemukan maksud pesan diatas.
   
  Sejak kapan kita tidur? Tentunya kita akan punya jawaban beraneka ragam, ada 
yang bilang sejak pagi, sejak sore, atau bahkan sejak kita ngantuk, namun saya 
harap kita tidak tidur ketika membaca tulisan ini.
   
  Setuju atau tidak, menurut penulis kita tidur sejak kita punya mata, sejak 
dalam perut ibu, kita telah tidur berbulan-bulan, kemudian kita lahir dan 
mencoba bangun sebentar, dan tidur lebih lama, coba lihat bayi itu akan bangun 
menangis, minta makan dan minum, dan berak, kemudian tidur lagi, percobaan 
bangun yang begitu panjang.
   
  Semakin lama kita mengenal kehidupan, semakin sedikit kita tidur, dan 
sekarang mungkin kita cukup tidur 7 jam perhari, bahkan kurang dari itu. 
Terlebih hidup di negara maju, mungkin tidur akan tergantikan dengan obat, 
hanya demi percobaan bangun, entah bangun dalam cinta, ekonomi, politik, 
kebahagian dan sebagainya.
   
  Waktu seolah dilipat, meski kita tak punya ilmu "lempit wektu" atau melipat 
waktu, bagaimana tidak?, ketika hari-hari kita nikmati dengan tidur nyenyak, 
tak terasa tiba-tiba kita menjadi tua, sementara kita tidak membangun apa-apa, 
sebab tidur tak akan membangun apa-apa kecuali mimpi, dan sungai-sungai kecil 
didataran bantal. Memang kita dibuat lupa dengan batas akhir kesempatan bangun 
kita, bahkan kita terlalu asyik untuk merayakan hari-hari yang memakan usia 
kita, dan mendekatkan pada tidur abadi yang tak bisa ditentukan kapan kita akan 
bangun kembali.
   
  Dalam kalender jawa, begitu pula hijriyah, juga kalender-kalender yang 
memakai perhitungan peredaran rembulan, hari akan dimulai ketika permulaan 
malam, sebagaimana kita memulai hidup, dalam kegelapan kandungan, kita telah 
mencoba bangun dalam kegelapan itu, meski hanya ditandai gerak-gerik yang 
menunjukkan bayi yang sehat, yang seolah nanti kalau lahir langsung bisa 
bermain bola, ah betapa sukanya seorang ibu melihat calon anaknya sudah mulai 
bergerak.
   
  Mungkin bayi itu sudah bangun meski belum dapat melihat, kalau kita sudah 
melihat tapi belum dapat bangun, bayi mengenal dunia dengan suara lantang, tak 
peduli siapa saja yang tertawa maupun tersenyum, menghina atau memuja, yang 
penting menangis adalah sehat bagi dirinya. Kalau saja bayi bisa bersyair 
mungkin akan berkata begini :
   
  Waladatka ummuka yabna adama bakia, 
  wan nassu hawlaka yadhakuuna sururo
  Fajhad linafsika an takuna idza bakaw,
  fi yawmi mautika dlohikam masruro
   
  Engkau menangis ketika ibumu melahirkanmu, 
  Sementara orang-orang sekitarmu tertawa bahagia
  Berusahalah untuk dirimu, agar di hari matimu
  Orang sekitarmu menangis, sementara kau tertawa bahagia.
   
  Bangunkan pikiranmu, bangunkan hatimu, bangun kemampuanmu, biarkan mereka 
tertawa melihat tangis kehidupan kita, jadikan mereka menangis ketika kita 
berpisah dan melambaikan tangan "sampai jumpa" dengan tertawa dan bahagia yang 
kita bangun dari tangis kita.
   
  Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah 
tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. 
(QS. 17:79)
   
  Pernahkah anda melakukan tahajjud? Bangun dari berbagai macam tidur, Sholat 
tahajjud adalah sholat malam setelah kita bangun dari tidur, kalau nggak bisa 
tidur namanya sholat lail, atau sholat sunah mutlak, sholat tahajjud minimal 2 
rokaat, maksimal 10 rokaat, atau 8 rokaat, nabi pernah melakukan sebanyak itu.
   
  Tapi ingat yach, itu sholat sunnah, ibadah tambahan, jangan sampai memburu 
tambahan kehilangan ibadah pokok. Waktu yang utama adalah sepertiganya malam 
yang terakhir, yach misalkan saja malam sebanyak 10 jam, kalau dibagi tiga 
hasilnya, 3 jam 20 menit, yach hitung aja dari waktu subuh, alias mulai 3.20 
menit sebelum waktu subuh, sampai waktu subuh, itulah waktu yang utama, namun 
kalau misalnya habis magrib kita udah tidur, bangun jam 9 malam, kita juga 
boleh melakukan tahajjud, sebab kita sudah bangun dari tidur.
   
  Memang berat sebuah percobaan mem-bangun-tidur-kan mata kita, apalagi hati 
kita, belum lagi bangun dari otak kita yang tidur nyenyak, setidaknya kita bisa 
katakan pada diri sendiri "Sampai kapan engkau tidur", sebab kalau yang 
mengatakan orang lain mungkin kita makin malas, bahkan kadang yang mengatakan 
kekasih kita, namun kita masih bisa beralasan "yach bentar lagi, masih ngantuk 
nih".
   
  Menulis pun kebanyakan kita masih enggan untuk bangun, kita masih ngantuk dan 
malas dibangunkan orang lain dengan berbagai macam alasan, diantaranya, "saya 
belum mampu menulis untuk public", "belum kelasnya", "belum bisa", dan berderet 
gerbong kereta alasan yang tak pernah ditarik oleh lokomotif.
   
  Mari menulis untuk diri sendiri, namun biarlah tulisan itu dibaca orang lain, 
sebab kalau kita baca sendiri kita tak akan pernah tau kekurangan kita, 
bukankah sebagai kelemahan manusia yang kurang mampu mengoreksi diri dan 
karyanya, "gajah dipelupuk mata tidak tampak, semut diseberang lautan tampak", 
semakin kita takut semakin kita tertinggal, dan waktu tak mengenal berhenti, 
manfaatkan kesempatan kita bisa bangun dan membangun, sebelum kita tidur dan 
lebur termakan bumi dan waktu.
   
  Tidurlah jika mengantuk dan makanlah ketika lapar, itulah tafsiran guruku 
atas pesannya, bahwa nyenyaknya tidur karena ngantuknya, nikmatnya makan karena 
laparnya, tapi kalau nggak lapar jangan makan dulu, juga kalau belum ngantuk 
jangan tidur dulu, tapi buatlah karya meski hanya sebaris kata.
   
  Alliem,
  Rabu, 04 April 2007
  Yang Berusaha Bangun dari Tidur 


              Kunjungi
  http://www.muallimku.com
  Kritikmu harapanku
   
  Pingin jadi kawanku, silahkan gabung di
  http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/ 
  Bersama menuju bahagia









[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke