http://www.kompas.com/ver1/Internasional/0704/05/115336.htm Perdagangan RI-China Meningkat
BEIJING, KAMIS - Total nilai perdagangan Indonesia dengan China dalam beberapa tahun terakhir naik cukup signifikan. Kenaikan ini sebagaimana diharapkan dalam kesepakatan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao pada April 2005 yang menargetkan volume perdagangan pada 2010 mencapai 30 miliar dollar AS. "Perdagangan antara kedua negara tercatat mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang cukup signifikan apalagi setelah adanya kesepakatan para pemimpin negara," kata Kabid Ekonomi KBRI China, Andriana Supandy, di Beijing, Kamis (5/4). Menurut Andriana, target total perdagangan kedua negara pada 2008 mencapai 20 miliar dollar AS dan pada 2010 meningkat lagi targetnya menjadi 30 miliar dollar AS. Total perdagangan kedua negara pada 2006 sudah mencapai 19,06 miliar dollar AS. "Dengan nilai perdagangan sebesar itu, maka kami optimis bahwa target tahun 2008 dan target 2010 masing-masing bisa tercapai," ujarnya. Andriana mengatakan, tingginya total perdagangan itu tidak terlepas dari usaha promosi yang dilakukan Indonesia ke China dalam beberapa tahun ini. "Kita juga berupaya untuk mencari peluang-peluang dan terobosan ke provinsi di China lainnya yang selama ini belum terlalu kita perhatikan, seperti ke Lioning, Hubei, dan Hunan," katanya. Selama ini pengusaha Indonesia masih terlalu terkonsentrasi ke pasar tradisional di China seperti ke Hong Kong dan Beijing. "Padahal provinsi lain di China juga sangat membutuhkan produk-produk asal Indonesia," ujarnya. Sejumlah produk Indonesia yang banyak diminati pengusaha China adalah minyak kelapa sawit (CPO), kertas dan pulp, produk kayu, serta minyak dan gas bumi. Sementara impor Indonesia dari China didominasi produk elektronika, kimia organik dan inorganik, serta tekstil dan produk tekstil. Andriana memaparkan, pada 2001 total perdagangan kedua negara masih mencatat 6,7 miliar dollar AS dan pada 2006 sudah meningkat lebih tiga kali lipat menjadi 19,06 miliar dollar AS. "Artinya potensi masing-masing negara dalam meningkatkan hubungan perdagangan sangat besar dan masih bisa ditingkatkan," ungkapnya. Untuk meningkatkan promosi kedua negara, lanjut Andriana, kedua negara juga telah membentuk Working Group on Bilateral Trade Resolution yaitu sebuah kelompok kerja yang bertugas mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan dan hambatan-hambatan yang dihadapi. Kelompok kerja tersebut minimal bertemu sekali dalam setahun di negara masing-masing secara bergantian. Namun demikian pertemuan bisa ditingkatkan lebih sering jika memang dianggap penting. Mengenai hambatan dalam perdagangan kedua negara itu, Andriana mengatakan, masih ditemui sejumlah hambatan tarif dan non-tarif. Untuk hambatan non-tarif misalnya, masih saja ada pengusaha Indonesia yang "nakal" dalam ekspor CPO yang ternyata dicampur dengan cairan lain. Demikian juga dengan spesifikasi produk, pengusaha China sering mengeluh bahwa produk yang diinginkan tidak sesuai dengan pesanannya. "Pengusaha yang nakal seperti itu sebetulnya bukan saja dilakukan dari Indonesia tapi juga ada yang dari China," ungkapnya. Kedua negara, tambah Andriana, juga telah membentuk joint promotion on investment committee yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi, khususnya di sektor investasi. Sumber: Antara Penulis: Ima --------------------------------- Bored stiff? Loosen up... Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games. [Non-text portions of this message have been removed]

