Selasa, 10 April 2007 NASIONAL 
 
KISAH Menelusuri Rekrutmen Daarul Islam (1)
Diajak Diskusi, Dibaiat Lalu Bayar Mahar
 
SM/Juli Nugroho BARANG BUKTI: Sejumlah barang bukti yang di sita 
anggota Densus 88 Antiteror dalam penangkapan kelompok teroris di 
beberapa tempat.(30)   
 
Penangkapan sekaligus pengungkapan jaringan teroris di Sleman, 
Yogyakarta dan Sukoharjo membuka mata bahwa ancaman kejahatan 
tersebut sangat serius. Wartawan Suara Merdeka melakukan investigasi 
dan menuliskan dalam laporan berikut.

TEMUAN amunisi, senjata, sasaran pembunuhan membuat masyarakat harus 
semakin waspada pelaku teror bisa saja sangat dekat dengan 
masyarakat.

Bukan hanya pelaku, rekrutmen untuk menjadi pelaku teror atau paling 
tidak mendapatkan anggota baru cukup rapi. Bisa jadi teman dekat 
bahkan anggota keluarga pun tidak mengetahui. Terlebih kalau pola 
rekrutmen dengan memanfaatkan orang-orang perantauan atau kos-kosan 
seperti di Yogyakarta.

"Memang, mereka semula mengajak untuk melakukan diskusi mengenai 
agama, lama-lama mengajak bergabung dengan kelompoknya dan setelah 
calon anggota terlihat mantap akan diungkapkan bahwa kelompok 
tersebut adalah Daarul Islam (DI)," ungkap sebuah sumber ketika 
ditemui di kos-kosan di utara Jalan Lingkar Utara, Yogyakarta, 
beberapa waktu lalu.

Dia sendiri mengaku pernah diajak bergabung dan sempat mengikuti 
diskusi dengan mereka karena sebagian besar anak kos di tempatnya 
sudah dibaiat menjadi anggota DI. 

Namun karena kurang cocok, dia akhirnya menolak dan tak mau 
bergabung. Apalagi setelah mengetahui kelompok itu bercita-cita 
mendirikan Negara Islam Indonesia.

Door to Door

"Agak aneh pola rekrutmennya, mereka yang sudah menjadi anggota 
mendatangi anak-anak kos secara door to door. Bermula dari diskusi 
agama akhirnya membawa calon anggota untuk berjamaah dengan 
seseorang yang mengaku sebagai ustad. Diskusi terbatas pada kelompok 
kecil, 5-6 orang saja," papar sumber tersebut.

Setelah calon anggota tertarik, mereka akan dibaiat sebagai pertanda 
memasuki organisasi. Ada syarat lain yakni membayar mahar untuk 
membiayai keberlangsungan jalannya organisasi. Jumlahnya cukup 
banyak bagi anak kos, minimal Rp 1 juta. Dengan baiat dan membayar 
sejumlah uang, calon anggota sudah resmi menjadi anggota. Tugas 
mereka kemudian mencari anggota di tempat lain. Inilah yang lantas 
dikenal sebagai sistem sel.

Ekonomi Kurang

Mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas kepada Suara Merdeka 
mengungkapkan sepengetahuan dia JI merupakan perwujudan DI yang 
pernah hidup di Indonesia beberapa puluh tahun lalu. Ketika bergaul 
dengan anggota JI di Afghanistan, dia mengatakan organisasi tersebut 
memang berkeinginan memperjuangkan berdirinya NII seperti pernah 
dilakukan DI.

Mengenai pola rekrutmen, dia mengungkapkan sebagian besar anggota JI 
adalah keturunan DI. Artinya, mereka mempunyai ideologi yang sama 
dengan moyangnya. Sebagian lagi adalah orang-orang baru yang 
tertarik dengan paham keagamaan tokoh-tokoh JI seperti yang pernah 
dikenalnya di Malaysia. Semula dia tidak mengetahui orang-orang yang 
pintar mengenai agama tersebut ternyata adalah pelarian dari 
Indonesia.

"Baru ketika saya berada di Afghanistan tahun 1987, teman-teman dari 
Indonesia menjelaskan bahwa mereka yang menyeberang ke Malaysia 
tahun 1980-an adalah orang-orang NII yang berusaha menyelamatkan 
diri dari tangkapan aparat," jelas Nasir.

Konon kabarnya, ada pula sebagian anggota JI anak, cucu dari orang-
orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka mempunyai dendam 
politik yang sama dengan Pemerintah Indonesia. Namun Nasir Abas 
menolak anggapan tersebut. Dia berkeyakinan anggota JI adalah anak 
keturunan DI bukan PKI.

"Dan yang direkrut biasanya mereka yang keadaan sosial ekonominya 
kurang bagus," tandasnya.

Kalau kondisi ekonomi saja kurang baik bagaimana mereka bisa 
menjalankan organisasi? Nasir mengatakan kemungkinan ada sejumlah 
donatur atau mereka iuran. Namun bisa saja menggunakan cara lain 
berupa tindak kriminal yakni perampokan untuk mendapatkan dana.

"Dana seberapapun untuk mereka akan kurang karena itu bisa saja 
kemudian melakukan tindakan kriminal seperti terjadi di sejumlah 
daerah," ungkapnya.(Agung PW-64) 
 


Kirim email ke