http://kompas.com/

Berita Utama
 Rabu, 11 April 2007
Otobiografi
Soeharto, Patriot atau "Crook"
Suryopratomo

Tidak bisa disangkal salah satu keberhasilan yang dicapai Presiden Soeharto
selama 32 tahun menjadi orang nomor satu di Indonesia adalah mengubah
Indonesia dari negara miskin menjadi negara yang beranjak ke negara industri
baru.

Namun, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pertanian,
Soeharto paham betul kehidupan rakyatnya. Walaupun Indonesia hendak beranjak
menuju negara industri, sebagian besar rakyat Indonesia tetap menggantungkan
hidupnya dari sektor pertanian.

Ketika perjalanan hidup membawa dirinya menjadi seorang tentara yang sarat
dengan penugasan yang menantang dan akhirnya membawa dirinya menggapai
jenjang tertinggi, yakni meraih jenderal bintang empat bahkan kemudian
bintang lima, Soeharto tetap tidak lupa akan kehidupan yang sebenarnya dari
rakyatnya. Demikian pula ketika kemudian arus besar politik dalam negeri
pada tahun 1965 menarik dirinya ke arena politik dan pengabdian sipil, hal
yang pertama dilakukan adalah melakukan perbaikan kehidupan rakyat.
Kebutuhan pangan yang tidak memadai sehingga membuat tingkat inflasi
melambung sampai 650 persen membuat ia tidak bisa lain kecuali yang pertama
dilakukan adalah memperbaiki sistem produksi pertanian.

Bersama para ahli ekonomi dari Universitas Indonesia yang dipimpin Prof
Widjojo Nitisastro dan Prof Ali Wardhana, Soeharto merancang sebuah konsep
pembangunan ekonomi jangka panjang yang terprogram. Konsep pembangunan
yang di zaman Presiden Soekarno berada di bawah bendera "Demokrasi 
Terpimpin"
diubah menjadi "Garis Besar Haluan Negara" yang diterjemahkan dalam rencana
pembangunan lima tahunan (repelita).

Setelah dua tahun mengemban tugas sebagai Penjabat Presiden, Soeharto
menjalankan Repelita I-nya pada tahun 1969. Arah yang ingin dicapai
sangatlah sederhana, yakni bagaimana bangsa Indonesia bisa memenuhi
kebutuhan pangan dan juga sandang sendiri.

Pelibatan dari semua komponen bangsa dilakukan agar program pembangunan bisa
berjalan dan berhasil. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, misalnya, 
dilibatkan
untuk turun ke lapangan, mendampingi para petani agar bisa menjalankan 
program bimbingan massal.

Konsistensi dalam menjalankan program pembangunan itulah yang akhirnya
membawa Indonesia menggapai swasembada pangan pada tahun 1984. Prestasi
besar itu membawa Presiden Soeharto meraih penghargaan dari Badan Pangan
dan Pertanian Dunia (FAO).

Barulah setelah berhasil memenuhi kebutuhan perut, arah pembangunan bisa
dilakukan ke bidang lain. Setelah itu repelita diarahkan ke bidang
perumahan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan kemudian pembangunan
industri.


Tidak tertulis

Pencapaian pembangunan ekonomi yang dilakukan Indonesia selama 32 tahun
kepemimpinan Presiden Soeharto sangatlah luar biasa. Tidak hanya pujian yang
diberikan, tetapi konsep pembangunan banyak yang ditiru oleh negara-negara
lain.

Soeharto mengakui bahwa keberhasilannya membangun perekonomian Indonesia
tidak bisa juga dilepaskan dari faktor keberuntungan. Antara lain adanya
bonanza minyak pada tahun 1974 yang memungkinkan Indonesia memiliki
kesempatan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk mempercepat
laju pembangunan.

Sayang, landasan pembangunan yang bagus itu tidak tercatat dengan baik.
Konsentrasi yang berlebihan kepada pelaksanaan pembangunan membuat
semuanya seperti terlupa untuk membuat catatan tertulis yang bisa dijadikan
sejarah bagaimana Orde Baru membangun perekonomian bangsa ini.

Itulah yang disayangkan oleh Soeharto. Kerja keras yang dilakukan tidak
cukup bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi yang akan datang.
Padahal catatan seperti itu penting bagi generasi mendatang untuk mengetahui
kekuatan sekaligus kelemahan dari pembangunan ekonomi di zaman Orde Baru.

Di samping hal-hal yang positif, seperti bimas, puskesmas, posyandu, dan
pengendalian tingkat kelahiran, ada hal-hal yang membuat perjalanan bangsa
sempat oleng, seperti kasus Pertamina dan korupsi di Bulog. Bahkan, yang
terakhir ketika perekonomian Indonesia terempas oleh krisis keuangan yang
melanda Asia Tenggara tahun 1997 yang ditengarai disebabkan juga oleh
ditinggalkannya Soeharto oleh para konglomerat yang ia besarkan.


Mengenang ke belakang

Buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia's Second President yang
ditulis Retnowati Abdulgani-Knapp tidak bisa dilepaskan dari konteks
keinginan mantan Presiden RI itu untuk menuliskan perjalanan sejarah yang
telah ia lalui. Buku itu menjadi sebuah otobiografi yang hidup karena tidak
hanya menceritakan kejayaannya, tetapi seluruh kehidupan Soeharto mulai
dari lahir sampai masa tuanya sekarang ini yang tak lepas dari kecaman dan
berbagai tuduhan.

Retnowati sangat beruntung karena ia putri dari tokoh kemerdekaan Roeslan
Abdulgani sehingga punya akses untuk mendengar langsung semua cerita itu
dari sang mantan Presiden. Sayang, kesempatan itu diperoleh di saat Soeharto
sudah berusia 86 tahun dan berulang kali keluar-masuk rumah sakit. Meski
tidak dimungkiri ingatannya masih sangat kuat, Soeharto tak cukup lancar
menyampaikan pikirannya. Akibatnya, Retnowati terpaksa untuk menerjemahkan
beberapa pikiran Soeharto itu agar bisa ditangkap lebih mudah oleh pembaca.

Meski demikian, buku tentang Soeharto-yang akan diluncurkan tanggal 12 April
di Singapura dan tanggal 25 April di Jakarta-tetap menarik untuk diikuti,
apalagi Retnowati secara baik mampu mengangkat isu-isu sensitif yang menjadi
pertanyaan banyak pihak. Seperti soal siapa orangtua Soeharto yang
sebenarnya, peran Ibu Tien dalam kehidupan Soeharto, para putra-putri, soal
yayasan yang sekarang sedang diutak-utik kembali, hubungan dengan para
konglomerat, serta teman-temannya yang setia dan yang mengkhianati.

Salah satu episode yang diangkat secara baik dan menarik untuk menjadi
pengetahuan kita adalah saat-saat menjelang Soeharto harus lengser dari
kursi kepresidenan. Bagaimana ia berupaya untuk bisa mengendalikan krisis
ekonomi, termasuk kemungkinan mem-peg rupiah terhadap dollar AS seperti
diusulkan ahli moneter AS, Steve Hanke, dengan Currency Board System-nya.
Untuk mencegah agar Soeharto tak melakukan itu, Presiden AS Bill Clinton
mengirim mantan Wakil Presiden Walter Mondale untuk menemuinya di Jakarta,
Maret 1998.

Dalam perjalanan pulang dan mampir di Singapura, Mondale bertemu PM Goh
Chok Tong dan Menteri Senior Lee Kuan Yew. Mondale sempat bertanya
apakah Soeharto seorang pahlawan atau penjahat (crook)?

Jawaban yang disampaikan Lee Kuan Yew sangat menarik. "Sebagai Presiden
Indonesia, Soeharto merasa dirinya seperti seorang sultan besar dari
kerajaan besar. Ia merasa wajar apabila putra-putrinya mendapatkan privilese
seperti halnya para pangeran dan putri pangeran di Kerajaan Solo.
Dia melihat dirinya sebagai seorang patriot. Saya juga tidak 
mengklasifikasikan
dia sebagai seorang penjahat (crook)."

Kirim email ke