www.kompas.com
Kesinambungan Bisnis Sasaran Investasi TI Tahun 2007
JAKARTA, MINGGU - Kesinambungan dan ketersediaan bisnis (business continuity
and availability-BC&A) menjadi prioritas investasi teknologi informasi tahun
2007. Hasil survai Hewlett Packard (HP) menunjukkan lebih dari 80 persen para
pembuat keputusan di bidang teknologi informasi (TI) di seluruh dunia
menganggap BC&A menjadi kunci dalam mempertajam daya saing bisnisnya. Selain
itu, survei mengindikasikan bahwa investasi keamanan, solusi menanggulangi
dampak saat bencana, backup and recovery, serta layanan manajemen TI juga
meningkat tahun ini.
Pada pasar global yang persaingannya amat sangat ketat dewasa ini, terjadinya
downtime (kekosongan waktu) bisa saja menghancurkan bisnis, tidak hanya kinerja
komputer saja. Jika sebelumnya perusahaan mengambil langkah-langkah pendekatan
reaktif dalam memulihkan data karena downtime, kecelakaan, atau bencana, kini
mereka fokus proaktif pada kesinambungan bisnis dan ketersediaan sejak awal.
"Survei menunjukkan bahwa para pembuat keputusan tidak lagi menganggap BC&A
sebagai sesuatu yang diinginkan, namun telah menjadi hal terpenting bagi bisnis
mereka," ujar Jane Rushton, Regional Business Development Manager, Business
Continuity & Availability, HP Asia Pacific & Japan dalam rilis yang diterima
KCM.
Kebutuhan perlindungan data dan biaya IT menjadi kurang begitu terasa
kepentingannya dibandingkan dengan tekanan kompetisi, pengelolaan operasional,
dan peningkatan kepatuhan terhadap regulasi yang meningkat pada tahun 2007
daripada tahun 2006. Meski demikian, perlindungan data tetap menjadi driver
teratas untuk biaya BC&A di semua pasar pada tahun 2006 dan 2007.
Untuk mengimplementasikan rencana yang aman, organisasi TI di seluruh dunia
masih menghadapi tantangan yang signifikan. Di samping tingginya tingkat
kesiapan, 78 hingga 93 persen responden di negara-negara Asia Pasifik yang
menyatakan tantangan terberat dalam implementasi BC&A adalah kurangnya
sumber-sumber internal yang berpengalaman, kurangnya solusi teknologi yang
sesuai, dan tidak memiliki cukup waktu untuk implementasinya.
Karena itu, HP merekomendasikan enam langkah proses yang sederhana untuk
evaluasi, perancangan, dan pengimplementasian rencana kesinambungan bisnis
jangka panjang dalam keterbatasan tersebut. Antara lain dengan mencatat seluruh
aset TI dari hardware, SDM, hingga aplikasi, menggabungkan portofolio dari
beberapa vendor yang komprehensif, menggunakan teknologi virtualisasi dan
penyimpanan data jarak jauh, sering menguji sistem, dan tentunya membuat jadwal
yang ketat.
Survai HP yang bersifat independen itu dilaksanakan GCR Custom Research dan
melibatkan lebih dari 564 pembuat keputusan dalam bidang TI di seluruh dunia,
210 diantaranya berasal dari Asia Pasifik. 62 persen responden mewakili
perusahaan yang mendapatkan keuntungan tahunan lebih dari 100 juta dollar AS
dan berasal dari industri manufaktur, kesehatan, pendidikan, serta layanan
finansial. Sedangkan 48 persennya mewakili perusahaan menengah dengan karyawan
antara 100 hingga 999 orang.(*)
Penulis: Wah
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]