Quote:
"..
Ia melanjutkan, "Mendengar penemuan itu, kemudian memicu perebutan
antara Wiranto dan Hartono, tentu saja untuk bisa mendapatkan pujian
dari Pak Harto."
.."

Hehehe.. son of fruit.. (dulu) berebut pujian dari bos.. :-)

"..
Kivlan mengungkapkan, "Ketika serah terima Panglima Divisi Kostrad,
Pak Sugiono menceritakan, surat asli Supersemar sudah dia serahkan
langsung kepada Pak Harto."

Kini pencarian selama 41 tahun mulai terungkap. Petunjuk pasti
keberadaan Supersemar mulai bisa dilacak. Langkah awal yang harus
dilakukan, menanyakan kepada Jenderal Besar (Purn) Soeharto sambil
membawa kesaksian Sugiono dan Kivlan Zein. Setelah itu, diberlakukan
UU Kearsipan. Permainan kini sudah telanjur dimulai. Terpulang kini,
siapa berani melanjutkan?
.."

Ada yang berani taruhan? :D
CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From:
Date: 13 Mar 2007 20:18:24 -0700
Subject: Misteri Keberadaan Supersemar...

Oleh Julius Pour
Wartawan yang Sedang Menulis Sejarah Indonesia Baru
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/13/Politikhukum/3377617.htm
=======================

Kapan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia?
Pasti, semua orang bisa segera menjawab dengan tegas, 17 Agustus
1945.

Namun, argumen yang dipakai mantan Menteri Sekretaris Negara
Moerdiono, "Memang tanggal itu pula yang diucapkan Bung Karno dalam
rekaman pidato proklamasi, yang selama bertahun-tahun secara resmi
kita pakai. Kalau teks asli proklamasi dibaca, angka tahunnya 05.
Naskah proklamasi memakai tahun Showa Jepang, yang waktu itu dipakai
di Indonesia, tahun 2605."

Mendengar argumen itu, suasana seminar di Hotel Ambhara Jakarta,
Kamis (8/3), langsung panas meski Ibu Kota disiram hujan lebat.
Seminar sore bertema "Duduk Perkara Supersemar " itu digelar
Institute of Policy Studies (IPS). Puluhan hadirin, antara lain bekas
aktivis 66, bekas tahanan politik Orde Baru, dan pensiunan pejabat
Orde Baru, antusias dan tekun, berbaur mengikuti pembicaraan yang
kadang berlangsung tajam.

Ketua IPS Fadli Zon selaku moderator mengatakan, "Seminar kali ini
bukan mengkaji sah atau tidaknya Supersemar, melainkan mencoba
mencari tahu duduk perkara sebenarnya. Kita senang karena bisa
mendengarkan pengalaman Pak Moerdiono, yang biasanya pelit ngomongÂ…."

Alasan membubarkan PKI

"Memang, selama ini saya tidak pernah mau baca segala buku dan
keterangan mengenai Supersemar (Surat Perintah 11 Maret), karena saya
tidak mau terpengaruh. Baru sekarang, saya mengungkapkan pengalaman
pada malam hari tanggal 11 Maret 1966, ketika saya ditugaskan
membikin konsep surat keputusan (SK) untuk membubarkan PKI (Partai
Komunis Indonesia) setelah Supersemar itu keluar," kata Moerdiono
dengan lugas.

Pernyataan ini memancing komentar Sejarawan Asvi Warman Adam, "Sangat
berbeda dengan kesan sewaktu saya masih mahasiswa, melihat Pak
Moerdiono di televisi, kalimatnya selalu membikin bosan dan kesannya,
sedang mencoba menyembunyikan sesuatu."

Moerdiono melanjutkan, "Saya waktu itu letnan, ditugaskan atasan
langsung saya, Letkol Soedharmono, membikin konsep pembubaran PKI.
Salah satu gagasannya mengacu Penpres (Penetapan Presiden) Nomor 7
Tahun 1959. Partai yang terlibat pemberontakan harus dibubarkan. Itu
yang dipakai Bung Karno membubarkan PSI (Partai Sosialis Indonesia)
dan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Itu pula yang kita
pakai untuk membubarkan PKI."

Menurut Moerdiono, ketika merancang konsep surat, ia belum membaca
Supersemar. Soedharmono juga baru mendengarnya, karena ditelepon
Kolonel Sutjipto, Ketua GV Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan
Darat (Kostrad). Baru ketika Moerdiono sedang sibuk mencari bahan
untuk mengisi SK, datang seorang perwira Kostrad menggandakan
Supersemar di kantor Moerdiono.

"Malam itu akhirnya saya baru bisa ikut membaca Supersemar. Itu pun
hanya hasil penggandaan karena surat aslinya dibawa lagi ke Kostrad,"
katanya.

Setelah menguraikan pengalamannya, Moerdiono berkesimpulan Supersemar
ada dan ditandatangani Bung Karno. Di mana sekarang keberadaannya dan
proses kelahirannya, ia menjawab, "Saya tidak tahu, karena saya tidak
ikut ke Bogor."

Tentang keabsahannya, Moerdiono menyebutkan, teks asli Proklamasi
baru ditemukan lagi tahun 1990, diserahkan BM Diah. "Selama bertahun-
tahun kita tidak ribut dan tetap yakin proklamasi kemerdekaan memang
pernah ada. Malah Bung Karno dalam rekaman ulang yang dilakukan Pak
Yusuf Ronodipuro pertengahan tahun 1950, sengaja membacanya tahun
1945, bukan 2605 seperti teks asli yang dia tulis. Lo, kok kita tak
mempersoalkan?" tanyanya.

Aksi menghabisi PKI

Selain Moerdiono, di mimbar tampil mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi
Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) Hoesni Thamrin, sejarawan yang
dahulu anggota Gerakan Pemuda Ansor Jombang Aminudin Kasdi, Asvi
Warman Adam, dan tokoh Betawi eks demonstran tahun 1966, Ridwan
Saidi.

Oleh karena keberadaan Supersemar asli kini tak diketahui, Asvi
Warman mengingatkan Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 1971 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan. "Siapa saja yang menyimpan arsip
negara tetapi tak melapor, diancam hukuman penjara 10 tahun. Saya
mengimbau, siapa saja yang mengetahui keberadaan Supersemar,
sebaiknya segera melapor," pintanya.

Pada sisi lain, Aminudin memuji Supersemar karena setelah diumumkan,
aksi pembantaian massal terhadap anggota PKI dan mereka yang dituduh
terlibat Gerakan 30 September (G 30 S) berakhir. Meski begitu, ia
masih mempertanyakan beraneka keanehan dalam Supersemar. Mana yang
asli, satu lembar atau dua lembar? Mengapa dari dua versi itu tanda
tangan Soekarno agak berbeda?

"Yang benar, surat aslinya dua lembar," tegas Aloysius Sugianto. Ia
pensiunan perwira intel Operasi Khusus (Opsus) yang dahulu
dilengserkan dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) karena
terlibat peristiwa Kranji tahun 1956.

"Malam itu saya diperintahkan atasan saya di Kostrad, Kolonel Ali
Moertopo, memperbanyak Supersemar," katanya. Sugianto ingat rekannya,
Jerry Sumendap (almarhum, pemilik Bouraq Airlines).

"Waktu itu dia pengusaha kaya, kantornya punya peralatan foto
Polaroid, sekali potret langsung jadi. Saya ke sana, menempelkan
Supersemar di dinding, pasti dua lembar, lantas bikin foto lima kali.
Semuanya saya serahkan kepada Pak Sutjipto," kisahnya lagi.

Gayung bersambut, missing link Supersemar bertaut dengan tampilnya
Kivlan Zein, mantan Kepala Staf Kostrad. "Sesudah Pak Sutjipto
meninggal, putranya membuka-buka arsip almarhum dan menemukan surat
asli Supersemar," paparnya.

Ia melanjutkan, "Mendengar penemuan itu, kemudian memicu perebutan
antara Wiranto dan Hartono, tentu saja untuk bisa mendapatkan pujian
dari Pak Harto."

Anak Sutjipto kebingungan kepada siapa harus diserahkan surat asli
Supersemar, karena yang berebut dua tokoh. Kebetulan ia berteman
dengan anak Sugiono, Panglima Kostrad.

Kivlan mengungkapkan, "Ketika serah terima Panglima Divisi Kostrad,
Pak Sugiono menceritakan, surat asli Supersemar sudah dia serahkan
langsung kepada Pak Harto."

Kini pencarian selama 41 tahun mulai terungkap. Petunjuk pasti
keberadaan Supersemar mulai bisa dilacak. Langkah awal yang harus
dilakukan, menanyakan kepada Jenderal Besar (Purn) Soeharto sambil
membawa kesaksian Sugiono dan Kivlan Zein. Setelah itu, diberlakukan
UU Kearsipan. Permainan kini sudah telanjur dimulai. Terpulang kini,
siapa berani melanjutkan?


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke