* buku yang kupasannya di kutip mas con di bawah
     ini nampaknya cukup menarik. Tetapi nampaknya
     kupasan ringkas tersebut belum sepenuhnya
     berhasil menjelaskan alur pokok pikiran Foer,
     pengarangnya - sehingga ada bagian-bagian ynag
     berkesan "melompat-lompat" dari nada pesimis
     mengenai peranan sepakbola maupun globalisasi
     ke nada optimis.
   
   * jadi dengan kata lain, kalau boleh saya tafsirkan
     inti pesan tulisan yang dikutip di bawah ini

      => orang boleh "mencintai" bangsa-nya, etniknya,
         kelompok agamanya, partai nya dsb.

      => boleh melakukan kegiatan-2 untuk mempromosikan
         apa yang didukung tersebut

      => tapi tidak boleh terlibat dalam

          - hooliganism bangsa
          - hooliganism agama
          - hooliganism etnik
          - hooliganism partai

--- In "Ari Condrowahono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> teman teman, 
> 
> sepak bola ini bukan lah anti thesis terhadap 
> lenyapnya nasionalisme, namun justru fenomena 
> pelengkap, tribalisme kesukuan atau tribalisme 
> religion, justru sudah bergeser. lebih soft, 
> energi itu dibuat tidak lagi merusak, tidak lagi 
> merasa paling digjaya. sekarang adalah jamannya 
> tribalisme sepak bola. sentimen sentimen itu 
> diekspresikan dalam bentuk dukungan thd tim 
> sepak bola kesayangannya.
> 
> ===
> 
>
http://aresto.wordpress.com/2007/04/17/ketika-sepakbola-menjelaskan-dunia/
> 
> Ketika Sepakbola Menjelaskan Dunia
> 
> Buku sepakbola yang bukan tentang sepakbola. 
> Di dalamnya kita akan menjumpai deskripsi dari 
> hal-hal terintim dalam sepakbola: bangku stadion 
> Maracana, profil komandan hooligan Chelsea, ruang 
> ganti DC United, sampai obrolan di klub eksekutif 
> penggemar Inter beraliran kiri. 
>
> Tapi, kita tidak akan menemukan pembahasan tentang 
> permainan sepakbola itu sendiri. Buku ini juga tidak 
> ditulis oleh pelaku sepakbola, tapi justru oleh seorang 
> jurnalis politik Amerika yang melukiskan dirinya sebagai 
>
> " ..karena tidak akan pernah jago bermain bola, saya 
> bisa melakukan hal terbaik berikutnya: memahami sepakbola 
> sedalam-dalamnya laiknya seorang maniak". 
>
> Franklin Foer, editor majalah politik nomor wahid 
> New Republic, menggunakan olahraga yang dicintainya 
> untuk mengupas globalisasi, bidang yang dikuasainya. 
> 
> Sebagai penggemar bola, Foer paham betul akrabnya 
> sepakbola dengan globalisasi. Tak percaya? Lihat saja 
> Manchester United. Klub terpopuler ini dimiliki pemodal 
> Amerika, punya manajer bergelar Sir, dipenuhi pemain top 
> yang sangat kosmopolit, sampai digunakan namanya oleh 
> sebuah kafe di jalan Thamrin. Tak heran kalau Foer memutuskan 
> untuk mengambil cuti delapan bulan untuk mengunjungi lokus 
> sepakbola di penjuru dunia. Harapannya, ia ingin menunjukkan 
> bahwa globalisasi bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana,
> menontonnya "dimainkan" (atau "bermain"?) di ranah sepakbola. 
>
> Hasilnya, sebuah buku yang membawa kita melihat sisi-sisi 
> sepakbola yang bukan cuma statistik pertandingan atau model 
> hot pacar pemain anu seperti yang biasa kita baca di 
> lembar olahraga.
> 
> Oh ya, walaupun berusaha menjawab perdebatan mengenai 
> gagalnya janji kemakmuran globalisasi: mengapa negara 
> tetap miskin? apakah korporasi2 multinasional adalah 
> penjahat?, Foer tidak memakai pendekatan ekonomi dan 
> lebih memilih perspektif kultural. Dalam hal ini 
> kultur sepakbola yang dhidupkan oleh para pelakunya.
> 
> Ternyata yang ditemukan Foer tak sesederhana yang 
> dibayangkannya. Pernyataan bahwa globalisasi meruntuhkan 
> identitas negara bangsa justru menemukan antitesa 
> ketika Foer melihat fenomena suporter Red Star 
> Belgrade di Serbia. Klub-klub suporter yang militan 
> berhasil diorganisir dengan nasionalisme yang begitu 
> kental menjadi sumber rekrutmen paramiliter untuk 
> Perang Balkan. Dari klub suporter inilah paramiliter 
> Tigers yang keganasannya luar biasa dalam membunuhi 
> warga Muslim Bosnia berasal. Di bawah pimpinan gangster 
> legendaris Arkan, klub ini menjelma menjadi organisasi 
> bayangan yang tidak tersentuh selama Perang Balkan. 
> Bahkan, sampai saat inipun nama Arkan masih dianggap 
> dewa oleh orang-orang Serbia. 
>
> Lebih jauh Foer melihat bahwa ternyata budaya global 
> tidak menyapu bersih pranata lokal. Melihat fanatisme 
> bonek Rangers dan Celtics di Glasgow, Foer melihat 
> bagaimana orang justru kembali ke identitas lama 
> mereka yaitu agama dan menunjukkan ekspresi2 
> tribalisme yang primitif dan bisa dibilang ganas. 
>
> Jika sepakbola dilihat sebagai suatu perwujudan 
> praktis dari gagasan yang abstrak, Foer berani 
> menyatakan bahwa globalisasi gagal mengikis 
> kebencian-kebencian yang berasal dari identitas 
> kuno.
> 
> Di bagian kedua bukunya, Foer menelisik lebih jauh 
> ke masalah ekonomi. Untuk memperlihatkan dampak 
> derasnya arus migrasi dari negara ke dunia ketiga 
> ke Eropa, Foer dengan cerdas mengajak kita menengok 
> kehidupan seorang striker Nigeria di sebuah kota 
> kecil di Ukraina. Dengan penggalan cerita itu, kita 
> diajak menyelami banyak hal mulai dari motif migrasi, 
> kesulitan beradaptasi seorang imigran, sampai 
> kekhawatiran tenaga kerja lokal. Masalah selanjutnya 
> adalah globalisasi yang ternyata tidak berhasil 
> mengikis korupsi lokal yang telah berakar sebagaimana 
> yang terjadi di dunia sepakbola Brasil. Dana investor 
> asing yang mengalir masuk untuk sepakbola cuma dinikmati 
> segelintir orang, sehingga pada gilirannya investor 
> asing perlahan hengkang karena tidak tahan dengan 
> ekonomi biaya tinggi yang tidak kompatibel dengan 
> kapitalisme (jadi inget negara mana gitu.).
> 
> Pada penggal terakhir bukunya, Foer beralih menjadi 
> seorang optimis yang menawarkan prediksi cerah. Setelah 
> menikmati pengalaman menonton Barca di Nou Camp, Foer 
> mengatakan bahwa berbeda dengan gambaran suram yang 
> dia temui di Serbia dan Inggris daratan, Barca membuktikan 
> bahwa seseorang bisa mencintai sebuah klub atau negara 
> tanpa harus berubah menjadi begundal atau teroris. 
>
> Menjadi nasionalis tanpa terjerumus ke ranah perilaku 
> manusia yang kelam. Mencintai identitas Anda tanpa hasrat 
> untuk mendominasi kelompok-kelompok masyarakat lain atau 
> menutup diri dari pengaruh asing. 
>
> Kemudian, seperti tak bisa menghindar bahwa Islam 
> akan menjadi pemain penting di masa depan, Foer 
> mengangkat sebuah episode ketika ribuan perempuan 
> Iran yang dilarang menonton bola di stadion nekat 
> berdemo di depan stadion Azadi yang sedang merayakan 
> pesta penyambutan timnas Iran yang untuk pertama 
> kalinya lolos kualifikasi Piala Dunia. 
>
> Peristiwa yang disebut Foer "revolusi bola" ini 
> menurut Foer menjadi pertanda bangkitnya nasionalisme 
> baru di dunia Islam, nasionalisme yang cenderung sekuler 
> dan pada perkembangannya akan menentang negara. Sesuatu 
> yang dinilai "cukup" oleh Foer yang Barat. 
>  
> Salah satu buku terbagus yang pernah gue baca. Mungkin 
> karena Foer dengan jurnalisme sastrawinya yang kampiun 
> sukses berbagi kecintaannya pada sepakbola. Penggemar 
> bola atau pengamat sospol sama-sama dapat merasakan 
> gelora hasrat Foer pada olahraga ini, sambil belajar 
> mencoba sedikit lebih memahami dunia yang kompleks ini.
> 


Kirim email ke