Beda sekali ya jika dibandingkan saat Mas Marco memimpin buruh kereta api di
Jawa sekitar 70 tahun yang lalu. Serikat buruh sekarang lebih banyak yang
berafiliasi ke partai politik dan jadi kendaraan untuk ajang lobying dengan
penguasa. saat kebijakan pemerintah bertentangan dengan kepentingan buruh
mereka bersikap moderat karena patron mereka ada di eksekutif dan parlemen.
demo buruh hanya sebagai simbol kekuatan, yang akan digunakan untuk menawar,
bergain. bukan lagi jadi alat perjuangan kaum buruh menuntut
haknya.menyelenggarakan demo buruh ibarat jadi even organizer layaknya. bikin
panitia, tunjuk korlap, tetapkan tuntutan dan sasaran, siapkan slogan, pesan
kaos dan spanduk, urus konsumsi dan transportasi, udah gitu laksanakan. habis
demo, pimpinan mereka melakukan pertemuan lobby dengan penguasa dan pengusaha,
lalu cerita selesai sudah.
lebih menyedihkan lagi kaum blue collar dan kelas pekerja lainnya yang nasibnya
saat ini lebih terjepit oleh UU no 13, tidak pernah merasa sebagai buruh.
mereka diam saja saat ditawari kontrak KKWT. mereka rela menerima opsi itu
karena takut turun kelas jadi buruh. menurut mereka lebih baik KKWT tapi gaji 3
juta keatas, ketimbang jadi OB atau satpam. padahal, nun jauh di atas sana,
para eksekutif menikmati hidup minim keringat dengan gaji diatas 1 juta per
hari! dan para manager digaji berdasarkan jumlah buruh yang dia pimpin. 10.000
perak dikali 1000 buruh berarti 10 juta pula gajinya... saat mereka melihat
1000 buruh berdemo, mereka tidak takut lagi karena keamanan bisa dibeli. mereka
cuma bergumam, biarkan para buruh berdemo, it's just a may day, anyway...
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]