mudah2an gak cuma rasya yang jadi perhatian KPAI ....
_____
From:
Sent:
To:
Subject: Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
_____
Duuh.. Kasihan sekali ini anak dibawah umur kok dibiarkan ada dalam
penjara. Mungkin ada ahli hukum disini yang bisa menerangkan.
Kalau tidak salah sich anak ini harus dilindungi karena kasusnya
spesial. Kasihan.. salah penanganan menghancurkan masa depannya.
Mengingat inteligensianya juga tinggi jika diarahkan yang benar
kemungkinan besar dia bisa sangat berguna bagi nusa bangsa untuk hal
yang lebih positif dimasa datang
Prihatin
Ceritanya bikin terharu deh.... <http://www.postsmile.com/>
Ada pembunuh lari dari penjara menggunakan tape uli...
<http://rgardino.multiply.com/journal/item/28>
Posted by Reza <http://rgardino.multiply.com/> on Apr 23, '07
10:10 PM for everyone
Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian
Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya
ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan
berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang
mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka
keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala
sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang
sering saya temui di cerita TV.
Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap
cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar
seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang
dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan
gerak-gerik yang sopan.
Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu.
Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya,
juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu,
belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar
di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu.
Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang
begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok
harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman
tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh
ayahnya.
"siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di
tempat itu.
"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya
sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan
pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan
besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke
rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia
digelandang ke kantor polisi.
"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala
lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum.
Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali
melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong
ajaib.
Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan
siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah
satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari
penjara.
Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini
pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu
wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa
tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda
keras. Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali
dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena
jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya
setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah
liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar
penjara ke dua kalinya.
Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang
ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi.
Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam
kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih
tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang
kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah
satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia
menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka
pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya
tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu
masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari
rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk
ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia
menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian
kilometer dengan satu tujuan, pulang!
Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas
yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera
menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas
sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif.
Tulisnya singkat.
Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya
tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus
dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat
menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya
saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti
ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang
lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si
preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib
setempat. Itulah yang namanya keadilan!
_____
[Non-text portions of this message have been removed]