Salah satu dampak adalah  ekspor CPO dan mahalnya  minyak goreng di Indonesia.
  ---------------------------------------------------------------------------
   
  Media Indonesia (10/5/2007)
  Dampak “Biofuel”
  Dunia Hadapi Krisis Pangan dan Kelaparan
   
  Tingginya konsumsi biofuel di pasar dunia, berdampak buruk bagi negara-negara 
miskin. Krisis pangan, kelaparan, dan lingkungan, diprediksikan melanda 
negara-negara miskin, termasuk Indonesia.
   
  Pernyataan itu dikeluarkan PBB terkait dengan dilema yang dihadapi masyarakat 
dunia, dalam mengatasi krisis energi, kemarin.
   
  Energi alternatif yang bersumber dari tanaman pangan, seperti tebu dan kelapa 
sawit kini dinikmati negara-negara maju. Produk-produk pertanian itu sebagian 
besar berasal dari negara-negara miskin. Selain ramah lingkungan, harganya 
murah.
   
  Kongres Amerika Serikat telah memutuskan untuk menggunakan energi laternatif 
itu sampai 2020. Sementara itu, Eropa sepakat menggunakan etanol sampai 10% 
hingga 2020.
   
  Keputusan negara-negara maju itu memicu terjadinya permintaan pasar yang 
cukup tinggi terhadap biofuel.
   
  ”Kami khawatir apabila langkah ini terus dilakukan, yang terjadi di depan 
kita adalah kelaparan, krisis pangan, dan rusaknya lingkungan,” kata Kepala 
UN-Energy Mats Karlsson di New York, seusai bertemu dengan 20 kepala lembaga 
PBB lainnya, untuk membahas krisis energi dan pangan dunia.
   
  Karlsson membenarkan langkah pengurangan emisi karbon di udara, hanya dengan 
menggunakan energi yang ramah lingkungan.
   
  ”Namun, tingginya permintaan pasar Biofuel dunia menyebabkan negara-negara 
pengekspor biofuel harus terus menggerus lahan pertanain dan hutannya. Air pun 
makin berkurang,” ujarnya.
   
  Lebih menyedihkan lagi, jagung, gula pasir, dan minyak goreng semakin mahal 
harganya dan tidak bisa dijangkau masyarakat miskin.
  ”Masyarakat tidak punya akses yang lebih mudah lagi untuk mendapatkan makanan 
yang murah,” tambahnya.
   
  Di sisi lain, pakar biofuel Greenpace Jan Van Aken tidak yakin aksi yang 
ditempuh negara-negara manju menggunakan biofuel bisa mengatasi dampak 
perubahan iklim.
  t
  ”Bagaimana Anda bisa mengaysi dampak perubahan ilkim, bila deforestasi begitu 
cepat terjadi di Indonesia? Ini faktanya, demi mengisi permintaan pasar, 
Indonesia harus merelakan hutannya dibabat dan diganti dengan lahan sawit,” 
tegasnya.
   
  Menurut Gustavo Best, Wakil Kepala UN-Energi Sekaligus pakar biofeul di UN 
Food and Agriculture Organization (Badan Pertanian dan Pangan PBB/FAO), gejala 
krisis pangan telah terlihat dalam satu dekade ini. ”Semua tanaman pangan dalam 
skala besar telah digunakan untuk energi alternatif. Boleh saja menggunakan 
tanaman pangan sebagai pengganti bahan bakar, asa;akan jangan terlalu banyak 
dan terlalu capat,” imbaunya.
   
  Ia khawatir apabila jagung, kelapa sawit dan tebu dikonvesri menjadi energi 
alternatif, kelaparan, kemiskinan dan wabah penyakit semakin meningkat. Dunia 
juga menghadapi krisis air bersih, khususnya di negara-negara berkembang.
   
  ”Target tujuan pembangunan milenium tidak akan tercapai karena dunia 
mengahadapi krisis pangan yang cukup seirus. Kita perlu mengibarkan bendera 
merah untuk memperingatkan para pengambil keputusan, agar tidak boleh 
mengabaikan masalah krisis pangan ini,” ujar Best di Roma, kemarin. 
   
  Badan Pangan Dunia akan membuat rumusan penting terkait dengan kebijakan 
pangan dunia, untuk mencegah terjadinya kelaparan yang diakibatkan langkanya 
bahan pangan. (Ap/H-3)
   
   
   


Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa mengubah 
pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw, 1856-1950)
pustaka tani
 prohumasi
 nuraulia

       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke