*http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=132938*<http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=132938>
**
*Jepang Tawarkan Teknologi Hentikan Lumpur Sidoarjo*

*Penulis: Kristantyo W Broto*

*JAKARTA--MIOL*: Jepang menawarkan teknologi meredam semburan lumpur panas
di Sidoarjo, Jawa Timur.

Hal itu disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto seusai mendampingi
Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPLS) dan Executice Director
Engineering Management Department Katahira and Engineers International
Takashi Okumura bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor
Presiden, Jumat (11/5).

"Intinya, kita ingin agar lumpur yang disemburkan keluar juga bisa menjadi
counter windth, jadi sumur itu akan dipagari dengan double counter dam.
Sehingga lumpur yang masuk seimbang dengan lumpur yang keluar, jadi kalau
seimbang lumpur tidak akan masuk ke kali Porong, namun hanya airnya," kata
Menteri PU.

Pasalnya, kata dia, jika luapan lumpur itu dibiarkan masuk melalui
pembuangan akan jadi endapan, padahal kali Porong itu merupakan pengendali
banjir di daerah itu.

Hal ini merupakan bagian dari tugas BPLS untuk mencari teknologi yang tepat
untuk meredam semburan lumpur tersebut.

"Tadi sudah didiskusikan dari ahli-ahli teknik sipil dan ahli geologi, dan
sudah dipresentasikan, dan kita sudah punya cara, cara itu cukup bagus dan
sudah pernah pakai di tempat lain yaitu Filipina," katanya.

Menurut Djoko, saat teknologi asal Jepang ini dipaparkan, Presiden
memberikan apresiasi.

Setidaknya dibutuhkan waktu satu minggu untuk mensinergikan teknologi ini
dari teknik sipil dan pendapat dari ahli geologi nasional.

Okumura menjelaskan ini bukan teknologi baru dan sudah banyak diterapkan
tidak hanya dari Jepang, tapi beberapa negara termasuk Filipina.

Menurut dia, kedalaman damnya tergantung dari kondisi geologis, bisa 10
meter sampai 590 meter. Selama ini teknologi ini cukup efisien untuk
mengendalikan semburan lumpur.

Di Jepang sudah pernah dicoba dan sudah ada beberapa kontraktor yang
berpengalaman di sana. Cara ini cukup efisien dan beroperasi selama 24 jam.
Bahan bakunya dari baja. Estimasi biayanya sekitar Rp600 juta namun harus
didiskusikan lagi dengan para ahli geologi. (Wis/OL-06)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke