Hehe..heeeee.. FPL itu kan sekedar sisipan aja Pak.. tak usah dipikirkan..
Pak RMDH, saya pernah brol-ngobrol ama seorang teman, yg pernah dinas selama beberapa hari ke swiss, di sana teman ini bertemu orang Indonesia yg bekerja sebagai seorang sopir bus kota, kata teman ini, lama-lama, omongan nyampe ke masalah salary, wow.. luar biasa.. orang Indonesia yg sedang di swiss itu, menerima setiap bulannya, kurang lebih rp30jt.. banyak bener yak..?? Andai saja, saya belum tuwek.. [hihihiii.. dah merasa tuwek].. mau lah saya, merantau jauh-jauh ke swiss.. waksssssssss.. Mbak Fau, jangan marah yaaaaaaaaaaaa.. listy ikut2 komentar di milis.. tapi seratus persen setuju dengan pendapat mbak Fau, tak perlulah kita ngomong-ngomongin agama yg tidak kita pahami.. kesannya buang2 waktu dengan sia-sia saja.. :-) Wassalam, _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of RM Danardono HADINOTO Sent: Wednesday, May 16, 2007 11:35 AM To: [email protected] Subject: [ppiindia] Re: "Hindu versus Hindu Bali" Tapi argument mbak Fauzi excellent lho. Jangan pakai agama orang untuk memuliakan agama sendiri. Agama itu ikut ikut mulia kalau umatnya mulia, bukan tukang nggossip.. By the way ndaftarnya diomana jadi anggauta FPL(isty)? Kan lebih baik daripada Front Pemuja Inul? Salam Danardono [Non-text portions of this message have been removed]

