...................Ketika melontarkan tudingan al-Qur'an menyadur kitab
sebelumnya (baca:Bibel), lagi-lagi Guntur memamerkan kemiskinannya dalam hal
data. Sebagai seorang peneliti, seharusnya Guntur membktikan tuduhannya atas
berbagai pertanyaan berikut : Pertama, jika al-Qur'an adalah kitab suci yang
menyadur Bibel, maka ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur'an mana
yang dianggapnya menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini Guntur,
kapan Nabi Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika menyadurnya dalam
al-Qur'an? Ketiga, menurut al-Qur'an, Muhammad adalah nabi yang ummiy (buta
aksara). Tudingan bahwa beliau menyadur kitab-kitab sebelumnya, berarti
menuding bahwa beliau bisa membaca. Siapa nama guru Nabi Muhammad yang
mengajarkan baca-tulis?
KOMENTAR:
Penyusunan Al-Quran adalah hasil kerja dari sebuah tim, tidak dilakukan oleh
Muhammad seorang diri.
freezy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada
mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami menjadi
petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS:7:52)'
Al-Qur'an dituduh menyadur Bible
tanggal : 19/05/2007
al-islahonline.com : Kehebatan al-Qur'an yang penuh dengan mukjizat, disambut
dengan kedengkian oleh pihak Nasrani. Mereka berusaha menyerang otentisitas
al-Qur'an dengan berbagai metode. etelahgagal, mereka frustasi dan
terus-menerus melakukan kritikan untuk menanamkan keraguan terhadap umat Islam.
Salah satu kritikannya adalah menuding al-Quran sebagai kitab saduran.
Adalah Mohamad Guntur Romli, aktivis JIL yang getol menjajakan liberalisasi
agama berkedok Islam. Dalam artikelnya belum lama ini, Guntur mencak-mencak
menuding al-Qur'an sebagai kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan
dan kitab-kitab sebelumnya.
"Kisah Isa (Yesus) dalam al-Qur'an yang menegaskan, Isa hanyalah seorang Rasul,
bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah "saduran" dari
keyakinan sebuah sekte Kristen," tulisnya.
Guntur menegaskan pula, "Al-Qur'an tetap memiliki banyak sumber dan 'proses
kreatif' yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur'an adalah 'suntingan' dari
'kitab-kitab' sebelumnya, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya,"
(koran Tempo, 4 Mei 2007).
Tuduhan ini sebenarnya sudah basi, dan sama sekali tidak ada yang baru. Para
orientalis dan misionaris Kristen sudahterlalu sering melontarkan tuduhan ini.
Misalnya, FJL Menezes (1911) dalam karyanya The Life anda Religion of
Mohammad:The Prophet of Arabia menuduh : "Tidak ada suatu apapun dari al-Qur'an
itu, selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para sahabatnya."
Dalam jajaran pengritik al-Qur'an, tercatat nama-nama orientalis terkemuka,
antara lain : G. Sale dalam buku Preliminary Discourse (1899) yang menyebutkan
bahwa Muhammad adalah penulis asli al-Qur'an. Di belakang hari, kritikan serupa
dikemukakan oleh Sir William Muir dan Wollaston (1905), Lammens (1926),
Champion dan Short (1959), Glubb (1970), Robinson (1977), dan seterusnya.
Di Indonesia, tuduhan yang sama dilontarkan oleh evangelis Jansen Litik, Suradi
ben Abraham, Pendeta Muhamad Nurdin, dan lain-lain. Jauh sebelumnya, Louis
Hoyack dalam buku De Onbekende Koran menuduh al-Qur'an telah menjiplak Bibel :
"De Koran staat vol van verhalen, ontleend aan het Oude en Nieuwe Testament, en
ook aan andere bronnen, maar waar de profeet het noodig oordelde, een weinig
geretoucheed" (hlm.74). (Al-qur'an berisi dongengan-dongengan yang dicuplik
dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dari sumber-sumber lain, tetapi
di mana dianggap perlu oleh sang nabi maka diadakan penyuntingan disana-sini).
Bila ditelaah secara kritis, kritik Guntur terhadap al-Qur'an itu sungguh tidak
bermutu, karena tidak disertai data-data yang akurat dan faktual. Dalam
ulasannya mengenai proses turunnya al-Qur'an, Guntur menganalisa bahwa krtika
berbicara tentang pewahyuan al-Qur'an, Allah memakai dhamir nahnu (kata ganti
plural "kami"). Menurutnya, kata "awhayna(kami wahyukan) dipakai dalam
al-Qur'an lebih dari 30 kali, sedangkan kata "awhaytu" (aku wahyukan) hanya
dipakai 8 kali. Bertolak dari data "awhayna" ini, Guntur menyatakan, proses
turunnya al-Qur'an melibatkan kerja kolektif antara Tuhan dan manusia.
Dari penjelasan ini, terlihat jelas betapa Guntur adalah orang yang miskin
data. Menurut penelitian Tim FAKTA dengan fasilitas program al-Qur'an digital,
kata "awhaytu" dalam al-Qur'an hanya ada satu kata, yaitu dalam surah
al-maidah:111, Itu pun bukan tentang pewahyuan al-Qur'an, melainkan ilham
kepada para pengikut setia Nabi Isa (Hawariyun).
Selain itu, pemakaian kata ganti Nahnu (Kami) bukan berarti bilangan Allah itu
jamak (plural), dan tidak berarti bahwa proses turunnya al-Qur'an itu
melibatkan kerja sama antara Tuhan dan manusia. Dalam bahasa Arab, pemakaian
kata ganti jamak untuk kata orang pertama tunggal (mutakallim mufrad) berarti
penghormatan dan pengagungan (lit-ta'zhim).
Tidak benar tudingan Guntur bahwa pewahyuan al-Qur'an itu hasil kerja sama
antara Tuhan dan manusia dengan menyadur dan menyunting kitab-kitab sebelumnya.
Tudingan ini terbantah oleh ayat al-Qur'an serah al-Baqarah:41. Dalam ayat ini
Allah memakai kata ganti tunggal "anzaltu" (Aku turunkan) ketika berbicara
tentang turunnya al-Qur'an. Pada ayat tersebut Allah berfirman : "Dan
berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur'an)...".
Ketika melontarkan tudingan al-Qur'an menyadur kitab sebelumnya (baca:Bibel),
lagi-lagi Guntur memamerkan kemiskinannya dalam hal data. Sebagai seorang
peneliti, seharusnya Guntur membktikan tuduhannya atas berbagai pertanyaan
berikut : Pertama, jika al-Qur'an adalah kitab suci yang menyadur Bibel, maka
ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur'an mana yang dianggapnya
menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini Guntur, kapan Nabi
Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika menyadurnya dalam al-Qur'an? Ketiga,
menurut al-Qur'an, Muhammad adalah nabi yang ummiy (buta aksara). Tudingan
bahwa beliau menyadur kitab-kitab sebelumnya, berarti menuding bahwa beliau
bisa membaca. Siapa nama guru Nabi Muhammad yang mengajarkan baca-tulis?
Dalam artikelnyam Guntur hanya bisa menuding tanpa membuktikan fakta dan data
yang akurat. Karenanya, tudingan ini boleh disebut sebagai asbun.
Secara singkat, semua tuduhan itu kandas dengan sendirinya oleh firman Allah
dalam surah al-'Ankabut:48-49 yang menyatakan Muhammad adalah nabi yang ummiy.
Kenyataan bahwa al-Qur'an sepanjang sejarah dunia tidak pernah berubah
setitikpun, membuktikan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah (firman Allah) yang
redaksinya sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Sebab jika
al-Qur'an adalah hasil karya manusia, pastilah dikemudian hari akan mengalami
editing (perubahan), karena hasil karya manusia memiliki banyak keterbatasan.
Jelaslah bahwa al-Qur'an bukan kitab saduran. Lantas siap ayang sebenarnya
menyadur? Bisa jadi kelompok liberal yang menyadur fitnah-fitnah dari kaum
orientalis dan misionaris. (sabili/fakta)
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
blog: http://mediacare.blogspot.com
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
[Non-text portions of this message have been removed]