menguatnya nilai rupiah kita terhadap dollar disambut masyarakat dengan baik,
karena itu berarti barang-barang konsumsi yang diimpor menjadi lebih murah dan
terjangkau masyarakat, namun hal ini ditanggapi para pengusaha dengan
sebaliknya, lucunya mereka minta pemerintah/BI untuk turut campur meredam
penguatan nilai rupiah padahal sudah sejak lama nilai rupiah kita diambangkan
mengikuti harga pasar uang dunia, namun ketika dollar menguat para pengusaha
kita ini diam-diam saja meraup keuntungan semu karena perbedaan kurs bukan
karena nilai tambah (value added), dan yang mengherankan keluhan itu
dilontarkan oleh pengusaha yang sudah berskala nasional, bukan rahasia umum
kalo banyak pengusaha eksportir kita adalah hanya tukang jahit, artinya barang2
yang diekspor sebenarnya barang-barang tersebut adalah barang-barang milik
prinsipal di luar negeri, seluruh bahan baku milik prinsipal, bahkan label dan
model sudah disiapkan, jadi kita cuman merakit, menjahit, setelah itu diekspor.
kesimpulan dari wacana ini adalah bahwa pengusaha indonesia adalah pengusaha
cengeng yang dikit2 mengeluh minta bantuan pemerintah, bahkan ada yang jadi
konglomerat karena diberikan kemudahan-kemudahan oleh pemerintah, jadilah
mereka pengusaha besar karena fasilitas dan kemudahan namun cengeng dan gampang
mengeluh.
bukan mental pengusaha tangguh yang tahan banting disegala cuaca. biasanya kalo
pengusaha cengeng kayak begitu cuman mencari cantolan sama pemerintah yang
berkuasa, pemerintahan ganti, bisnisnya hancur...
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]