*http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0705/25/102642.htm*<http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0705/25/102642.htm> ** **
*Perang Bakteri dalam Pencernaan* Persis seperti situasi di Irak, pencernaan kita setiap saat juga selalu bergolak. Setiap hari terjadi perebutan kekuasaan antara bakteri menguntungkan dengan bakteri merugikan. Kita juga bisa ikut terlibat dalam perang itu dengan mengkonsumsi probiotik atau prebiotik, walau syarat-syaratnya tidak selalu mudah. Ekspresi wajah Riko tampak berubah ketika ia mengamati bungkus obat yang baru diterimanya dari petugas apotek. Di antara tiga jenis obat yang diresepkan, salah satunya bertuliskan perintah : habiskan! "Ini antibiotik ya , mbak?" tanya Riko yang dijawab dengan anggukan petugas apotik itu. Kontan saja Riko lemas. Jauh di dalam hatinya, Riko sebenarnya malas mengkonsumsi obat secara gegabah, apalagi antibiotik. Tapi kali itu ia merasa tak berdaya lantaran punya rencana pergi keluar kota esok harinya. Diare yang sudah dua hari dideritanya dikhawatirkan mengganggu perjalanan. Mendengar curhat temannya, Kunto membenarkan kekhawatiran Riko. Antibiotik memang sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan pada saat sedang menderita diare. "Obat diare itu rehidrasi, minum cairan pengganti yang hilang, kayak oralit," tutur pria yang suka mengikuti informasi ksehatan dari media massa itu. Kunto menambahkan, diare justru bisa diatasi dengan probiotik atau makanan penambah mikroflora usus. Sebab, penyakit rajin ke belakang itu terjadi karena ketidakseimbangan antara bakteri jahat dan bakteri baik di dalam usus. "Antibiotik malah akan membabat semua bakteri di dalam usus," jelasnya. Fiuuuh! Riko yang tidak faham istilah kesehatan cuma bisa bengong mendengarnya. Tubuh sudah lemas gara-gara diare, sekarang mesti pusing pula gara-gara antibiotik dan prebiotik. "Capek deh! katanya sambil mengusap dahi. Sekilo Bakteri Dr. Rina Agustina, peneliti di SEAMEO-tropmed, Pusat Kajian Gizi Regional Universitas Indonesia, membenarkan kata-kata Kunto, walau penjelasannya tidak sesederhana itu. "Pada diare, WHO memang menyarankan menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang dengan cara menambah masukan cairan terutama yang mengandung natrium dan kalium," jelasnya. Kalau soal probiotik, Rina melanjutkan, ada sejumlah penelitian yang menyatakan bahwa mengkonsumsi bakteri baik seperti Lactobacillus atau Bifidobacterium strain tertentu terbukti bisa menghambat ulah bakteri jahat penyebab diare. Juga dapat memperpendek durasi diare, dari 3,5 menjadi 2,5 hari pada anak yang dirawat atau diobati di rumah. Akan tetapi, tunggu! Jangan asal glek prebiotik begitu saja, tergantung juga apa penyebab diarenya. Prebiotik bisa dikonsumsi pada diare yang disebabkan rotavirus yang biasa terjadi pada anak-anak, atau diare yang disebabkan antibiotik. Pada kasus diare invasif seperti disentri dan kolera, antibiotik tetap digunakan. Berawal dari diare, biasanya orang akan langsung teringat masalah bakteri baik dan bakteri jahat. Tapi pernahkah terbayang seperti apa bentuk dan berapa jumlahnya? Mungkin agak mengerikan kalau dibicarakan bahwa di dalam tubuh kita terdapat ratusan jenis bakteri. Jumlahnya bisa mencapai seratus triliun per gram dengan berat total bisa mencapai 1kg pada pria dan 0,8kg pada wanita. Ingat, ini manusia normal, lho! Dari sekiloan bakteri itu, ada golongan bakteri baik atau menguntungkan seperti Lactobacillus, Bifidobacterium, atau Eubacterium. Ada juga jenis yang merugikan seperti rotavirus, Clostrodium difficile, atau Shigella. Namun, sebenarnya ada juga bakteri yang berada di wilayah abu-abu atau kita sebut saja sebagai bakteri oportunistik, seperti E-coli dan Streptococcus. Disebut bakteri menguntungkan karena keberadaannya banyak membantu kehidupan kita, terutama masalah pencernaan. Meski banyak manfaat spesifik lain seperti mengurangi kadar kolesterol pada makanan atau memperbaiki rasio LDL (kolesterol jahat) dan HDL (kolesterol baik) dalam tubuh, jenis bakteri baik yang memenuhi dinding usus juga akan membuat bakteri tidak menguntungkan penyebab penyakit (patogen) sulit berkembang biak. Di dalam usus, antara geng bakteri baik dan merugikan selalu hidup berdampingan, tetapi tidak secara damai. Diam-diam keduanya terus berkelahi untuk saling merebut daerah kekuasaan dalam sistem pencernaan. Perang itu terjadi setiap saat. Pertempuran antar bakteri erat kaitannya dengan kondisi kesehatan si empunya tubuh, artinya jika suatu saat kelompok yang merugikan kebetulan menang, akibatnya bakteri penyebab penyakit merajalela. Manajemen keseimbangan mikroflora usus sebenarnya bukan cuma untuk urusan kesehatan pencernaan. Dengan bakteri menguntungkan yang dominan, kita juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi insomnia, mengendalikan stres di kala sakit, termasuk juga mengurangi risiko kanker. Secara teoritis, kita dapat meningkatkan jumlah bakteri menguntungkan di dalam usus dengan cara mengonsumsi makanan probiotik. Contohnya seperti susu fermentasi, keju, mentega, atau susu formula yang difortifikasi (diperkaya) asam laktat. Kini juga banyak ditawarkan suplemen probiotik yang berbentuk kapsul. Masalahnya, belum banyak yang tahu bahwa mengonsumsi probiotik ternyata banyak syaratnya. Yang utama, bakteri menguntungkan itu harus sampai di usus dalam keadaaan hidup. Jika sudah mati atau bakterinya banyak berkurang, itu sama saja bohong. Menjamin bakteri masih hidup dalam waktu tertentu ternyata bukan perkara gampang. Terutama kalau berasal dair produk susu fermentasi. Sebab, bakteri mudah mati akibat suhu panas, susu harus selalu berada dalam lemari pendingin, mulai dari pabriknya sampai ke tangan konsumen. Alternatif lain untuk membantu pasukan bakteri menguntungkan adalah dengan cara mengonsumsi prebiotik. Pengertian gampangnya, prebiotik itu makanan bagi bakteri menguntungkan yang dapat membuat mereka berkembang biak. Anehnya, bakteri merugikan malahan tidak menyukainya. Prebiotik diketahui banyak terdapat pada akar tumbuhan Chichorium intybus yang mengandung 15-20% inulin dan 5-10% oligfruktosa. Dalam makanan yang biasa kita konsumsi sehari-hari, pasokan prebiotik bisa ditemukan pada berbagai biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. Misalnya gandum, bawang bombai, bawang putih, pisang, serta produk olahan kedelai seperti tempe, tahu, dan tauco. Dari sini tentu bisa disimpulkan, kalau makanan kita sehari-hari sudah kaya prebiotik, kemenangan sudah pasti ada di tangan kita. Sumber: Intisari [Non-text portions of this message have been removed]

