*Gen Pemicu Kegemukan*

Dewasa ini kelebihan berat badan hingga kasus kegemukan ekstrim yang disebut
obesitas, menjadi tema utama dalam politik kesehatan di negara-negara maju.

Di hari-hari belakangan ini, pemerintah Jerman gencar melansir motto "Fit
statt Fett" atau, sehat bukannya kelebihan lemak. Program ini dicanangkan
setelah dipublikasikannya hasil penelitian yang menyebutkan, Jerman
merupakan negara dengan kasus kegemukan warga tertinggi di Eropa. Tapi tema
kegemukan bukan hanya masalah Jerman, melainkan juga problem di
negara-negara makmur lainnya.

Orang-orang dengan kelebihan berat badan atau terlalu gemuk, seringkali
dituding sebagai malas berolahraga dan makan terlalu banyak. Sebagian
mungkin ada benarnya, namun belum lama ini para ilmuwan dari sekolah tinggi
kedokteran Exeter dan universitas Oxford di Inggris, menemukan penjelasan
lain menyangkut kasus kegemukan atau obesitas. Para peneliti menemukan
sebuah gen yang bertanggung jawab untuk kegemukan, yang disebut gen FTO.
Penelitian melibatkan 42 ilmuwan dan 42 ribu relawan di Inggris, Italia dan
Finlandia. Para peneliti menarik kesimpulan, mereka yang memiliki gen FTO,
memiliki risiko 70 persen lebih tinggi untuk kelebihan berat badan atau
gemuk, dibanding yang tidak memiliki gen tsb.

Ahli genetika yang terlibat dalam penelitian tsb, Dr.Tim Frayling
menjelaskan :

"Terlepas dari batasan body mass index, kisaran berat badan dan batasan
negara-negara di Eropa, gen ini mengatur seberapa gemuk kita nantinya."

Disebutkan, gen FTO terdiri dari dua varian. Orang-orang yang memiliki satu
copy gen dari masing-masing varian tsb, memiliki kemungkinan sekitar 30
persen untuk menjadi gemuk. Lebih gawat lagi, jika kita memiliki dua copy
dari gen obesitas dari varian yang sama, risiko untuk kelebihan berat badan
meningkat menjadi 70 persen. Temuan baru ini, seolah melemahkan berbagai
argumen, bahwa gaya hidup modern memainkan peranan utama dalam kasus
kegemukan.

Seorang ibu bernama Claire Memet, yang dipusingkan dengan masalah kelebihan
berat badan ini, menyatakan lega. Ia mengatakan : "Orang-orang menuduh kami
mengkonsumsi terlalu banyak makanan berlemak, dan kami tidak aktif berolah
raga. Tapi sekarang kami memiliki jawabannya. Ya, saya memang kelebihan
berat badan, tapi kamu pasti sudah tahu apa penyebab kegemukan ini."

Demikian juga penderita obesitas lainnya Lola Konstantopoulos sekarang
mengetahui, apa penyebab masalah kelebihan berat badannya, yakni penyakit
gula atau diabetes. Temuan terbaru memberikan penjelasan, mengapa kegiatan
fisiknya tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Konstantopoulos
mengungkapkan:

"Sekarang saya mengerti, mengapa jika saya berolahraga lima hari dalam
seminggu, diperlukan waktu sebulan agar berat badan saya turun setengah
kilogram. Bagi saya, untuk mempertahankan berat badan supaya jangan naik
saja, saya harus aktif berolahraga lima hari dalam seminggu."

Akan tetapi, para peneliti yang menulis laporan mengenai penemuan gen
kegemukan FTO, juga mengungkapkan fakta lainnya, bahwa gen kegemukan bukan
penentu segalanya. Gaya hidup ternyata tetap memainkan peranan besar dalam
kasus kegemukan. Hal itu dijelaskan oleh direktur medis dari Weight Concern,
Dr.Ian Cambell. Disebutkannya, mereka  mengetahui, bahwa gen tertentu
bertanggung jawab pada sebagian besar kasus kegemukan. Akan tetapi, kita
memiliki gen tsb sejak lebih dari seribu tahun. Jadi, apa yang mengubahnya
dalam 25 tahun terakhir, sehingga membuat kita semakin gemuk?  Apakah kita
terlalu banyak mengkonsumsi gula dan lemak? Apakah gaya makan yang
sebelumnya tidak kita kenal?  Dampaknya, yang memiliki gen tsb akan menjadi
tambun.

Apa yang diungkapkan Dr. Ian Cambell itu, sebetulnya harus ditafsirkan
sebagai peringatan oleh kelompok risiko kegemukan. Dalam arti, orang-orang
yang memiliki gen FTO tetap tidak boleh bermalas-malasan, atau melanjutkan
gaya makan yang sembarangan. Mereka harus tetap aktif berolah raga, untuk
mengimbangi dampak dari keberadaan gen kegemukan tsb. Pakar nutrisi Nicole
Berberian mengatakan, hasil penelitian terbaru itu, hendaknya justru
mendorong penderita obesitas untuk berusaha lebih keras, menjaga berat
badannya agar tidak terus bertambah.

Berberian menegaskan ; "Hasil penelitian bukan pembenaran untuk cuma duduk
dan tidak berbuat apa-apa. Yang dapat kita katakan, mungkin ada sejumlah
orang yang memiliki kerentanan. Tapi mereka ini harus termotivasi untuk
berusaha lebih banyak bukannya lebih sedikit."

Memang sejauh ini para peneliti belum mengetahui secara detil, bagaimana
mekanisme gen FTO tsb dalam menyebabkan kegemukan. Tapi sudah diketahui
adanya pengaruh timbal balik, antara kegemukan dan penyakit. Kegemukan
memicu terjadinya gangguan pada jantung atau diebetes tipe dua. Bahkan para
peneliti di Inggris memperingatkan, ancaman bahaya kegemukan dan penyakit
ikutannya, jauh lebih berbahaya dibanding dampak merokok atau minuman keras.
Jadi, masalah utamanya bukan kegemukan, tapi dampaknya terhadap kesehatan.
Bagi penderita masalah kegemukan, mungkin masalah psikologis dan penampilan
menjadi tema utama. Tapi bagi pemerintah, kualitas kesehatan warga dan
ongkos yang tinggi bagi sektor kesehatan, merupakan prioritas utama.

Kini para peneliti terus berusaha mengetahui fungsi gen kegemukan tsb.
Sasarannya, untuk mengembangkan obat-obatan yang berfungsi mencegah
aktivitas gen bersangkutan. Selain itu, juga untuk mengetahui lebih jauh,
mengapa pengaruh gen kegemukan itu juga berbeda-beda pada tiap individu.

Salah seorang anggota tim peneliti dari sekolah tinggi kedokteran di Exeter,
Prof. Andrew Hattersley menjelaskan; "Jika kita mulai mengenali
mekanismenya, terbuka kemungkinan pengembangan obatnya. Sejauh ini kita
nyaris tidak mengetahui fungsi gen tsb. Saat ini ibaratnya gen itu buku yang
masih kosong. Tapi saya yakin, sejumlah perusahaan akan melakukan ujicoba
dan pengembangan pengobatan baru."

Dan juga diyakini, gen FTO bukan satu-satunya gen yang memiliki pengaruh
pada kegemukan. Secara berhati-hati, para peneliti dari Inggris itu
mengatakan, ini adalah gen yang meningkatkan risiko untuk gemuk. Dengan
demikian, dapat dijelaskan mengapa terdapat orang-orang yang memiliki gaya
hidup sama, tapi berbeda kemungkinannya untuk menjadi gemuk.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke