Oleh Suka Hardjana
http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0705/ 27/naper/ 3557090.htm
============ ========

Bayangkan, bila dunia ini hanya dihuni para makhluk hidup yang tak
punya aturan. Atau, bila hidup ini tak ada aturannya sama sekali.
Sedangkan makhluk binatang yang dianggap liar dan buas pun punya
aturan hidup. Jelek-jelek, semut si binatang kecil, dan macan,
binatang yang dibilang buas pun, punya juga aturan hidup. Bahkan konon
bila mereka sedang berkelahi—saling terkam, saling bunuh—pun ada
aturan mainnya.

Silakan pikir-pikir sendiri bila adu jotoss di ring tinju atau rebutan
si bundar manis di lapangan tendang bola digelar tanpa aturan? Lhah,
perang antarsuku, antarbangsa dan negara pun ternyata ada juga aturan
mainnya.

Dalam soal aturan buatan makhluk hidup, baik binatang maupun manusia
sering sama-sama lucu dan aneh. Bedanya, binatang bikin aturan main
karena naluri. Manusia bikin aturan konon karena naluri dan rekayasa
akal budi. Akal sehat maupun akal bulus. Saya tak paham mana yang
lebih baik. Akal sehat atau akal bulus? Yang sering saya dengar dari
para cerdik pandai dan piawai hanyalah aturan itu penting dan perlu
untuk menciptakan ketertiban hidup demi peradaban manusia yang harus
terus dikembangkan. Waduh!

Persoalan yang sering bikin gaduh adalah siapa pencipta aturan? Siapa
pembuat dan penentu keputusan aturan? Untuk siapa dan dengan tujuan
apa aturan dibuat? Bagaimana cara mengatur dan melaksanakannya? Siapa
mengawasi (jalannya) aturan? Rumit dan panjang ceritanya.

Ada aturan-aturan yang terbilang undang-undang dalam bentuk hukum. Ada
aturan dalam khazanah adat. Ada aturan yang disebut tata tertib. Ada
aturan yang disepakati sebagai etika. Ada tapres, keppres, bahkan tap
thok yang dulu sering dibikin oleh MPR. Pendek kata, ada banyak sekali
aturan dibuat di muka bumi dengan keragaman yang tak terbilang dan
untuk tujuan-tujuan berbeda yang tak terbilang pula. Tertibkah
manusia? Tak!

Konon, Gusti Allah-lah pembuat aturan pertama dalam sejarah dan...
dilanggar! Agaknya semua orang sudah hafal hikayat Adam dan Eva.

Lantas, karena manusia terus saja bikin kisruh berkepanjangan di bumi
dan para malaikat pun kewalahan mengatur perilaku cucu-cucu Adam dan
Hawa, maka para nabi lantas dikirim dari langit untuk menertibkan bumi
dan seisinya, terutama kelakuan manusia. Lebih baik? Tidak juga.

Aturan-aturan dari langit—dalam riwayatnya—banyak yang bertabrakan
dengan aturan yang dibuat para penguasa bumi yang disebut raja,
kaisar, presiden, kepala pemerintahan, para pemimpin negara yang
terbilang sebagai eksekutor, para wakil rakyat di parlemen yang
disebut legislator, para pelaksana, pengawas dan penegak hukum yang
disebut "Yang Berwajib" dalam lembaga yudikatif.

Semua lingkaran komunitas sosial-politik manusia dari RT, lurah,
camat, bupati, wali kota, Wali Sanga, sampai gubernur, menteri,
presiden, dan para preman bikin aturan sendiri-sendiri demi ketertiban
yang semakin bikin tidak tertib. Mengapa?

Dalam riwayatnya doeloe, manusia memang sudah tidak tertib dan menjadi
pelanggar aturan secara asal-usul. Adam dan Hawa contoh utamanya.
Agaknya, aturan dan pelanggaran lantas jadi drama permainan hidup
turun-temurun yang tak terhindarkan, kecuali. Kecuali inilah yang
belum ada bukti jawabnya yang bisa dipahami dan disepakati bersama.
Seperti negeri seberang Amerika dan Timur Tengah, Indonesia pun
menjadi semacam "Taman Firdaus" di bumi, tempat uji coba aneka
permainan hidup "Aturan dan Pelanggaran" yang terus-menerus
dilaksanakan dan gagal mencapai manfaat.

Kata kunci persoalannya masih tetap klasik, yaitu siapa pencipta dan
pembuat aturan. Di banyak tempat masih terimbas pengaruh sejarah
perilaku para Firaun. Aturan publik yang dibikin untuk para umat
ditentukan oleh siapa punya kekuatan, kekuasaan, dan kewenangan (kata
kewenangan berasal dari bahasa Jawa wewenang, yang artinya "yang
dimenangkan" ).

Wewenang sangat sering menjadi alat manipulatif kekuasaan dan kekuatan
dalam menciptakan, memutuskan, mengatur, melaksanakan, dan mengawasi
aturan untuk kepentingan orang banyak yang terabaikan dan dianggap
tidak penting.

Prioritas sepihak yang subyektif (demi kepentingan nasional) dijadikan
dalih utama. Politik perang Bush-Blair dan para sekutunya menjadi
contoh paling aktual abad ke-21 dalam hal manipulasi aturan yang
ditunjang sistem kekuatan, kekuasaan, dan wewenang.

Israel menjadi duplikatornya dan para "penguasa" di Indonesia yang
merasa punya kekuatan, kekuasaan, dan kewenangan—dalam konteks
berbeda—menjadi penyontek kecil-kecilan manipulator aturan yang
menyengsarakan banyak orang.

Beda dosa di Taman Firdaus dan di Bumi adalah Adam dan Eva menjadi
pelanggar manusia pertama yang sendiri tak menciptakan aturan. Di
bumi, kita menjadi manusia turunan yang bikin aturan sendiri—dan
dilanggar sendiri. Dosanya lipat-dua-lipat, wis...! 

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke