SEKELUMIT PANDANGAN ATAS NOVEL "PUTRI" PUTU WIJAYA
Catatan: Ikranagara

Saya sekarang sedang melakukan telaah atas novel Putu Wijaya "Putri". 
Tulisan tentang novel Putu itu belum jadi, namun demikian saya sudah 
punya sekelumit pandangan tentang novel itu, yang akan saya masukkan 
ke dalam tulisan hasil telaah itu nanti, antara lain sebagaimana saya 
ungkapkan di bawah ini:

Novel Putu Wijaya "Putri" harus diakui sebagai novel yang hebat dan 
wajib dibaca bagi pencinta sastra kontemporer Indonsia, bukan khusus 
hanya oleh masyarakat Hindu-Bali, melainkan juga masyarakat Indonesia 
umumnya, sebab yang menjadi inti masalahnya adalah kondisi 
kemanusiaan itu sendiri dalam pergolakannya menghadapi berbagai 
tantangan hidupnya, maka kisahnya bisa dijabarkan ke manusia-manusia 
di daerah-daerah lainnya yang punya adat/tradisi yang bukan Hindu-
Bali. Ini sebuah novel yang mengungkapkan perbenturan nilai-nilai 
budaya dalam peradaban manusia di mana saja, bukan khas di Bali, yang 
mengalami future schock di dalam intern masyarakat budayanya sendiri  
maupun cultural shock dalam pergaulan dengan masyarakat budaya lain.

Singkatnya, novel ini mengungkapkan pergolakan yang menyangkut 
masalah adat/tradisi di kalangan masyarakat Hindu-Bali dalam konteks 
desa-kala-patra (tempat-waktu-kondisi) yang sudah berobah sejalan 
dengan perkembangan zaman. Masalahnya, apa yang ada di dalam Tradisi 
Lama yang usianya sudah ratusan tahun itu dalam realita sekarang 
sudah banyak yang tidak sejalan lagi dengan desa-kala-patra yang 
baru, karenanya harus ada tafsiran baru/rasional atau singkatnya 
harus ada Tradisi Baru.

Misalnya saja, posisi Puri di zaman feodal dahulu kala itu sebagai 
yang menyediakan biaya untuk segala macam uparacara yang mahal-mahal 
itu. Dulu, praktis tanah pertanian yang menjadi sumber kehidupan 
rakyat dalam masyarakat agraris memang berada di dalam genggaman 
tangan Puri, sehingga aset wilayahnya sebagian terbasar berada di 
kalangan ningrat di lingkungan wangsa Puri tersebut. Rakyat banyak 
hanya kecipratan sedikit saja dari hasil kiprah perekonomian di 
wilayahnya. Dengan adanya upacara, maka rakyat mendapat tambahan 
cipratan lagi, antara lain berupa makanan dan minuman gratis yang 
disediakan untuk menyiapkan dan menjalankan upacara itu. Makin sering 
dilakukan upacara maka makin banyak jumlah kecipratan yang diterima 
oleh rakyat. 

Struktur ekonomi feodal seperti itu memang sejalan dengan struktur 
dalam political economy kapitalisme yang sekedar percaya kepada 
adanya "trickle down effect" sebagai sarana pemerataan hasil 
pertumbuhan ekonominya tanpa harus dikontrol oleh kekuasaan 
pemerintah. Dan nyatanya, meskipun yang diteorikan itu terjadi, toh 
ketimpangan sosial ekonomi tidak bisa dihindari, karena memang 
political ekonomi kapitalisme ini tidak punya sarana untuk bisa 
memberikan pemerataan yang melekat dalam sistem dan praktiknya. 
Kata "justice" dalam wacananya hanyalah dalam kaitan dengan perbuatan 
kriminal (misalnya KKN), dan bukan dalam pengertian "socio-economic 
justice." Maka yang ada hanyalah berupa tambal sulam itu saja, lewat 
pajak misalnya, atau juga antara lain (dalam konteks di Bali itu) 
adalah berupa kewajiban Puri menyediakan dana untuk segala macam 
upacara tradisional yang dilaksanakan oleh seluruh anggota kerama 
banjar, sebagaimana diungkapkan di dalam novel Putu ini.

Tapi kemudian tanah-tanah yang menjadi sumber hidup bersama tidak 
lagi berada di tangan Puri, akibatnya sumber kekayaan Puri pun amat 
sangat berkurang, terlebih lagi setelah adanya land-reform. Kalau 
sudah tidak ada lagi tumpukan harta yang menggunung di Puri, lalu 
bagaimana mendanai upacara itu semua? Adat/tradisi yang dulunya 
sebagai pilar keseimbangan berobah menjadi goncangan gempa dan 
bencana.

Kalau saja sejak awal tokoh-tokoh certita Putu seperti Putri, Wikan, 
Mangku, Kepala Adat dan seluruh Kerama Banjar Desa Meliling memiliki  
kecerdasan sebagai hasil pendidikan tentang political economy seperti 
itu, maka masalahnya tentu akan tidak serumit yang terjadi di Bali 
sebagaimana yang diungkapkan di dalam novel Putu itu. Meskipun, drama 
akan tetap muncul, artinya benturan-benturan itu akan tetap saja ada, 
misalnya saja seperti yang terjadi di negeri kita di Zaman Perang 
Dingin itu: Kapitalisme yang punya sistem pertumbuhan ekonomi vs 
Komunisme yang punya sistem pemerataan. 

Sekarang sistem komunisme sudah tumbang karena gagal sebagai realita, 
maka yang sedang mengglobalisasi adalah political economy Kapitalisme 
Neo-liberal, dengan ujung tombaknya berupa Trisula WB-IMF-WTO. Maka 
tidak heranlah jika ketimpangan sosial ekonomi masih terus 
berkepanjangan di seantero permukaan bumi, bukan? Ya, bahkan di AS 
pun! Dan secara global yang namanya kemiskinan struktural itu makin 
bertambah jumlah dan kwalitasnya di zaman ekonomi global ini, antara 
lain yang mencolok adalah apa yang sekarang di kenal sebagai "African 
Tsunami" -- kemiskinan struktural di Afrika yang menelan korban jiwa 
dalam hitungan menit! 

Pernah negeri kita, di bawah Suharto sempat menikmati "booming" 
pertumbuhan ekonomi, sehingga digolongkan sebagai salah satu Asian 
Miracle, setelah di zaman Soekarno kita merasakan "sama rata sama 
rasa" tapi di dalam kemiskinan. Dalam hal ketimpangan sosial ekonomi, 
yakni berupa jurang menganga antara yang (diper)-kaya dan (yang di)-
miskin-(kan) begitu dalam dan lebar, yang terjadi sekarang ini pun 
terjadi pula di Zaman Soeharto. Karena, sistem ekonomi yang kita 
jalankan sekarang ini masih tetap sama dasarnya dengan yang dipakai 
oleh Soeharto, bahkan ekonom-ekonomnya pun jebolan dari kubu yang 
sama. 

Di zaman paska Soeharto ini, negeri kita setelah mengalami krisis 
moneter yang berlarut-larut menjadi krisis ekonomi yang 
berkepanjangan, tanpa adanya booming ekonomi lagi, sehingga bisa 
difahami jika jurang menganga itu makin lebar dan makin dalam saja di 
negeri kita. Nah, kondisi sekarang ini bisa diparalelkan dengan yang 
menimpa Puri dan Wikan, serta penduduk di desa Meliling, di dalam 
novel "Putri."

Di bagian awal buku kedua, Putri mengambil alih peranan Puri itu 
dengan pindah ke Tabanan, hanya saja lahannya bukanlah tanah 
pertanian, melainkan perusahaan pembuatan T-shirt Sukseme. 

Dengan pemahaman seperti itu, maka saya melihat adanya keparalelan 
antara yang dikerjakan oleh Putri dengan T-Shirt Sukseme itu dengan 
yang dikerjakan oleh Pak Palakarma (kebalikan dari Karma Pala?) 
dengan Mahakaryanya. Kedua-duanya sama-sama berada di panggung 
political economy Kapitalisme Neo-liberal. Perbedaannya adalah pada 
karakternya, bahwa seorang Putri adalah manusia yang jujur, sederhana 
dan baik hati, sedang Palakarma adalah menipulatif, megalomaniak dan 
rakus. Maka, kalau pun dalam praktiknya di dunia ekonomi ada 
perbedaan, tampaknya mirip dengan perbedaan antara kaum konservatif 
(Partai Republik, di AS) dan kaum liberal/humanis (Partai demokrat, 
di AS). 

Jadi, tampaknya dua tokoh inilah yang baru tampil setelah saya 
membaca buku pertama ditambah dengan sepertiga buku kedua. Kedua 
tokoh inilah sekarang yang bersaing di panggung main-stream di 
panggung globalisasi zaman kita ini.

Jadi tampaknya, Anda tidak bisa berharap bahwa akan muncul tokoh 
lain, yakini tokoh ketiga, yang sekarang sedang merajai panggung di 
Amerika Latin. Bukan Castro yang komunis dan kolega-koleganya itu, 
melainkan "Mr Lula" yang sekarang menjadi presiden di Brazil itu. Dia 
mempraktikkan sesuatu yang lain, di luar yang Kapitalisme Neo-liberal 
dan juga di luar yang Marxisme Komunis. Dia berangkat dari kondisi 
riil di lokal-lokal yang aneka rupa di negerinya. Bagi seorang "Mr 
Lula" tidak ada obat mujarab yang mampu menyembuhkan segala macam 
penyakit, sebagaimana yang diyakini oleh Kapitalisme Neo-liberal 
maupun Marxisme Komunis. Gerakan ini sebenarnya dimulai dari Peru 
oleh ekonom Hernando de Soto, yang kemudian sekarang ini dikembangkan 
oleh berbagai think tank antara lain kelompok "International Forum on 
Globalization" (ifg.org) itu.

Kirim email ke