*http://www.tniad.mil.id/news.php?id=886


"PASUKAN INDONESIA HADAPI ISRAEL"

(Adaisse, 28/5*) Peleton siaga Konga XXIII-A berhadap-hadapan dengan pasukan
Israel. Dengan kendaraaan tempur Hamvee 3 unit, 15 orang pasukan Israel
(Israel Defence Force) melakukan pelanggaran dengan melewati batas wilayah
Lebanon. Blue Line yang menjadi pemisah antara Israel dan Lebanon, pada hari
Senin tanggal 28 Mei 2007 diterobos Israel.

Dengan kekuatan 4 ranpur VAB APC dan 1 ranpur APC Ambulan, peleton siaga
(Quick Reaction Force) yang dimiliki *Indonesia* membayangi dan mencegah
kemungkinan insiden yang lebih berbahaya. Tindakan yang dilakukan pasukan
Indonesia sebagai penegah, karena pasukan LAF (Lebanon Armed Forced), yang
juga mengetahui pelanggaran yang dilakukan Israel berusaha menghadang dengan
senjata terbidik. Menghadapi hal ini IDF dengan senjata yang lebih modern di
kendaraan mereka, membidik juga kearah LAF, terjadi saling bidik antara dua
seteru tersebut.

Pasukan Indonesia yang dipimpin oleh Lettu Kamil, berusaha bernegosiasi
dengan Israel agar mundur kembali ke posnya. Saat terjadi negosiasi pasukan
Israel tidak mau mundur, karena LAF masih tetap mengarahkan senjatanya
kepada mereka. Dengan jarak 400 meter antara IDF dan LAF, pasukan Indonesia
berusaha menengahi.

*Dansatgas*, Kol Surawahadi yang memantau kondisi, melaporkan situasi ke
sektor, sesuai Role of Enggagement, dan segera menuju lokasi. Demikian juga
komando sektor mengirimkan pasukan pemukulnya (Mobile Reserve) ke tempat
kejadian setelah menerima laporan dari kontingen Indonesia. Tidak lama
berselang dengan koordinasi dan himbauan dari pasukan Indonesia, pasukan
Israel mau menarik diri dan kembali keposisi disatuannya. Setelah sebelumnya
tentara Lebanon diajak secara persuasif menghindari situasi yang lebih
berbahaya.

Skenario latihan diatas dipraktekkan oleh kontingen* Indonesia* sesuai STIR
(Standarised Tactical Incident Report) yang diberikan Sektor Timur. Latihan
yang juga ditinjau oleh staf operasi sektor Timur, Mayor Pujol dan Letkol
Ferero, untuk menyakinkan setiap kontingen memiliki standar yang sama dalam
menghadapi sebuah kejadian. Mekanisme yang diujikan secara simultan,
dilatihkan kepada seluruh kontingen yang ada. Sektor Timur dan sector Barat
dari pasukan UNIFIL, melaksanakan berbagai latihan sesuai STIR yang ada,
untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

Latihan yang dilakukan tersebut, sebetulnya sudah biasa dilakukan oleh
pasukan Indonesia, Geladi Lapang namanya. Sedangkan untuk menciptakan
latihan sesuai realisme geladi, maka personel yang memerankan sebagai
pasukan Israel dan tentara Lebanon menggunakan perlengkapan seperti layaknya
kedua pasukan tersebut. Hal ini yang menyebabkan staf operasi sektor Timur
mengangumi kreatifitas dan inovasi latihan kontingen Indonesia. "Saya telah
menyaksikan latihan STIR dari kontingen lain, namun baru hari ini saya lihat
mekanismenya menyerupai kejadian nyata", ujar Major Pujol.* (Satgas Konga
XXIII-A/Dispenad)

*


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke