BUAH RENUNGAN TAMBAHAN ATAS TINDAKAN HIMSA Catatan singkat Ikranagara
Pemimpin rumah tangga itu bertugas memberikan pendidikan moral dalam membudayakan peradaban yang mencintai sesama manusia. Ini yang kurang di dalam sistem pendidikan kita: Civic education itu. Bukan hanya di negeri kita, kalau sudah berkaitan dengan mereka yang berhak memegang senjata pembunuh sesama manusia. Terlebih lagi kalau pemimpin rumah tangga dan anaknya memang menekankan pendidikan menggunakan kekerasan yang sangar itu sebagai hal yang pokok, maka pendidikan budaya yang sejalan dengan nilai- nilai luhur peradaban manusia itu tentu saja menjadi tidak ada artinya; seandainya pun diajarkan, maka itu hanya merupakan hafalan yang tidak membekas sama sekali bagi doktrin kekerasan "hantam dulu urusan belakangan" atau istilah gagahnya "unilateral action" yang diajarkan di sana. Sebagai penganut Ahimsa, atau istilah gagahnya Non-violence, saya memang sependapat dengan mreka yang bercita-cita dan bermimpi agar suatu ketika senjata itu adalah barang haram, dan angkatan bersenjata dalam setting dan struktur apa saja tidak lagi diperlukan. Angkatan bersenjata itu lahir dari adanya senjata, dan senjata lahir dari adanya pilihan atas kekerasan dalam menyelesaikan suatu konflik. Yang salah bukan adanya konflik itu, karena di dalam hidup bersama konflik tidak akan terhindarkan, tetapi olah otak (fikiran dan emosi dan naluri) yang menjatuhkan PILIHAN kepada tindak kekerasan itulah yang jadi sumbernya. Padahal itu bukan satu-satunya pilihan. Lihat saja mereka yang sedang mengerahkan angkatan bersenjatanya masing-masing di medan perang di Timur Tengah, Asia dan Afrika, semuanya serba kewalahan sekarang menyaksikan korban nyawa bergelimbangan setiap hari, padahal kuncunya sederhana: letakkan senjata! Ya, gunakanlah cara-cara yang A-himsa (= Anti Kekerasan) antara lain perundingan damai, dll. Tentu saja perlu digelar penegakan hukum, dimulai dari pengusutan atas nama justice disusul denbgan pengadilan dst, sehingga yang bersalah bisa dikenai sanksi hukum, agar tidak lagi mengulangi kesalahannya itu lagi. Dan di dalam menghukum yang salah, itu juga haruslah menggunakan A-himsa pula. Tentu, apa yang saya usulkan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin saja itu cuma akan menjadi mimpi yang akan dijadikan ejek saja oleh mereka yang memuja warrior (pahlawan bersenjata), sebab memang jenis manusia seperti itulah yang sejak dahulu kala sampai hari ini yang dipuja dan dituliskan dengan tinta emas di lembaran buku sejarah setiap bangsa. Padahal itu bukan tinta emas, melainkan tinda darah korban terbantai oleh senjata. Tapi kritik orang ketika Gandhi menggunakan A-himsa dalam perjuangannya memerdekakan negerinya dari penjajahan Inggeris dulu juga diejek seperti itu. Karenanya tidak usah putus asa dan tidak usah juga kalap, apalagi kalau kemudian kita pun akhirnya menyerah dan memilih... kekerasan!

