bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-lLah
wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, 
amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH.

ada kiriman yang cukup buaguuus dech, mari kita reeeeenunkan bersama.

silah.

wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK. 
wassalamu 'alaikum

To: "mang elan"@[EMAIL PROTECTED]
From:    "suhana hana" <[EMAIL PROTECTED]>
View Contact Details 
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was sent by
yahoogroups.com. Learn more
Date:   Wed, 30 May 2007 22:40:04 -0700 (PDT)
Subject: DIMANAKAH POSISI KITA BERDIRI? PADA KEBENARAN ATAU KESALAHAN?


Assalamu&#8217;alaykum wr.wb.
 
Ini sharring aja..berawal ketertarikanku pada 4 jenis orang yg
dikelompokkan menurut salah satu ulama yaitu :

1. orang yg tahu kalau dirinya itu tahu (para ulama)
2. orang yg tidak tahu kalau dirinya itu tahu (orang cerdas yg jujur)
3. orang yg tahu kalau dirinya itu tidak tahu (orang awam yg ingin
belajar)
4. orang yg tidak tahu kalau dirinya itu tidak tahu (orang yg merasa
sudah tahu)
 
Kadang aku berfikir..mengapa orang2 yg mempunyai latar belakang
pendidikan agama islam yg baik, namun ternyata mereka tidak paham juga
akan maksud agama islam yg dipelajarinya selama ini dan keluar dari
konsep islam (ini pendapat pihak lain yg melihat dan menilai mereka itu
keluar dari konsep islam) sedangkan yg aku perhatikan.. rasanya
kelompok yg dianggap keluar dari konsep islam itupun, merasa khusyu dan
benar sekali dengan apa yg selama ini dipahaminya.
 
Aku jadi teringat tentang fitnah yg dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

1. fitnah syahwat
2. dan fitnah syubhat
 
fitnah syahwat dimana pelaku maksiat itu menyadari akan kesalahannya,
namun belum mampu mengendalikan hawa nafsunya, dan kemungkinan mereka
menyadari kesalahannya pada saat diingatkan dan kembali pada kebenaran,
kemungkinan besar akan terjadi. Namun fitnah syubhat, dimana pelaku
tidak menyadari akan kesalahannya dan menganggap benar perbuatanya, dan
resiko untuk kembali pada kebenaran pada saat diingatkan, kemungkinan
kecil akan terjadi, bahkan sering terjadi kesalahpahaman pada saat
pihak lain sedang mengingatkan akan kesalahan yg tidak disadarinya.
 
Hmm..menurutku kesalahannya itu adalah karena beberapa faktor yaitu :
faktor keluarga 

Faktor keluarga seperti yg kita ketahui, seorang anak yg dilahirkan ke
dunia, fitrahnya adalah muslim, sedangkan orang tuanyalah yg menjadikan
anak tsb yahudi, nasrani dan majusi. Karena dari kecil dididik oleh
orang tua yg mempunyai pemahaman yg salah tentang islam, maka kesalahan
itu otomatis diwariskan ke anaknya, hingga anakpun melihat bahwa
pemahaman warisan orang tuanyalah yg benar. Hingga seolah2 anak sudah
dipasangkan anti body untuk  menolak pemahaman dari luar lingkungan
keluarganya, karena melihat kebaikan dalam figur orang tua dan
keluarganya yg ternyata selama ini memahami islam, bukan berdasarkan
metode yg benar dan diajarkan dalam islam, namun hanya sebatas
pemahaman berdasarkan akal dan perasaan saja.
 
faktor lingkungan dimana orang itu bergaul

Faktor lingkungan yg  membentuk anak pada saat dimana anak tidak
menemukan figur yg baik dan benar pada orang tuanya dan dalam
keluarganya, maka anak keluar mencari figur yg akan dijadikannya
sebagai tempat untuk kembali dan mencari kebenaran, namun ternyata anak
hanya menemukan sosok figur yg baik sebatas fisik, pikiran dan perasaan
saja dan bukan figur yg benar dalam menyampaikan kebenaran dalam islam,
hingga anak kembali terjatuh pada kesalahan mencari sosok figur yg
benar di luar rumahnya.
 
faktor mengedepankan akal dan perasaan dalam memahami firman Allah

Faktor mengedepankan akal dan perasaan dalam memahami firman Allah,
menurutku terjadi pada saat seorang anak tidak menemukan figur yg baik
dan benar dalam keluarganya dan tidak pula menemukan dalam lingkungan
pergaulannya, ataupun karena anak mempunyai kecerdasan yg lebih
dibandingkan dengan anak lainnya, hingga merasa tidak perlu lagi
bertanya pada orang2 yg dianggapnya lebih rendah kecerdasannya
dibandingkan dirinya. Hingga mempercayakan sepenuhnya keputusan
kebenaran dan kebaikan berdasarkan hasil kerja akalnya dan perasaannya
sendiri.
 
Hmm..karena faktor2 itulah yg menurutku saat ini banyak terjadi
dilingkungan umat muslim, yaitu merasa khusyuk menjalankan dan memahami
kebenaran islam, namun ternyata apa yg selama ini dipahaminya adalah
sebuah kesalahan yg dilakukannya tanpa sadar.
 
Factor keluarga dan lingkungan, mungkin bisa dicegah dengan melakukan
pembentengan diri dari dalam keluarga sendiri. Yaitu orang tua harus
terus banyak belajar dan mencari kebenaran dan mau selalu melakukan
perbaikan2 atas pemahamannya yg selama ini hanya sebatas hasil warisan
dari pemahaman orang tuanya pula, yg ternyata salah. Dan orang tua mau
mendidik dirinya sendiri untuk selalu melakukan perbaikan2 dalam rangka
menuju kebaikan dan kebenaran, hingga menjadi satu figure yg selama ini
ingin dicontoh oleh anak2nya. Hingga anak tidak lagi mencari figure
diluar orang tuanya.
 
Apabila dari dalam keluarga sudah membentengi anak dengan kuat
berdasarkan pemahaman yg baik dan benar, hingga anak tidak lagi sibuk
mencari figure diluar keluarganya, maka otomatis faktor lingkungan
tidak banyak membawa pengaruh terhadap anak. Namun ada baiknya orang
tuapun memilihkan lingkungan bergaul yg baik bagi anak2nya untuk
mengembangkan sosialisasi anak. 
 
Hmmm..yg parah menurutku adalah, apabila anak sudah tidak lagi
menemukan figure yg baik dan benar dalam keluarga maupun lingkungan
bergaulnya, hingga anak tidak lagi mempercayai apapun kecuali dirinya
sendiri dalam memahami kebenaran, maka untuk jenis inilah yg sulit
diluruskan. Karena factor kecerdasan anak yg begitu tinggi, hingga
menganggap sepele atau ringan pihak lainnya, dan anak cenderung menutup
diri untuk bertanya dan mengadakan cek dan ricek bagi pemahamannya
sendiri kepada orang lain yg dianggapnya tidak lebih cerdas dari
dirinya. Dan memutuskan segala kebaikan dan kebenarannya hanya
berdasarkan hasil kerja akalnya dan perasaannya sendiri.
 
Kesalahan orang2 yg mengedepankan akal dan perasaannya dalam memahami
firman2 Allah yaitu, mereka memaksa teks al-qur&#8217;an agar sesuai
berdasarkan hasil kerja dan keputusan akal juga perasaannya saja. Yaitu
teks al-qur'an dipaksa untuk mengikuti jalan fikirannya karena mereka
menganggap, apa yg tertulis dalam teks al-qur'an tidak dapat dipahami
maksudnya secara benar, tanpa menghadirkan subjek yg menyeru dan
berkata2 tsb. Hingga keputusan kebenaran yg dipahami adalah tergantung
orang2 yg sedang membaca teks dan menafsirkannya berdasarkan hasil
kerja akalnya masing2 orang yg membaca teks al-qur&#8217;an tsb. 
 
Hingga dengan pemahaman spt inilah, maka kebenaran dalam teks al-qur'an
di relativekan atau menjadi relative, karena metode pemahamannya adalah
tidak sesuai dengan metode yg dianjurkan dalam islam. Namun hanya
sebatas kebenaran yg dipahami oleh hasil kerja masing2 akal manusia yg
sedang membaca dan memahami teks al-qur'an tsb.
 
Sedangkan layaknya seorang muslim dalam memahami kebenaran adalah
dengan cara memahami ayat dengan ayat, atau memahami ayat dengan
hadist, ataupun ayat dengan ijtihadnya para ulama yg konsekuen
mengikuti kebenaran Rasulullah dan sahabat. Yaitu dengan cara akal
harus mengikuti apa2 yg dituliskan dalam al-qur&#8217;an dan bukan
sebaliknya yaitu al-qur&#8217;an harus dipahami dan diikuti oleh akal
masing2 orang yg membacanya. 
 
Hmm..aku tertarik dengan ungkapan salah seorang ulama yaitu 
 
"kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengenali kebenaran"
 
yg jadi masalah lagi bagi muslim saat ini menurutku adalah, bagaimana
mungkin kita bias tahu akan kebenaran, karena memang ternyata kita sama
sekali tidak kenal akan kebenaran itu sendiri? Hmm..aku jadi teringat
komentar guruku 
 
"coba lihat..kasihan ya mereka..berusaha ingin baik dan benar, kemudian
mencari, tapi ternyata apa yg dicari dan sudah ditemukan itu ternyata
salah pula.." dan guruku juga sering berkomentar spt ini
"Jika ada seorang bicara tentang sesuatu, padahal orang itu tidak
mempunyai pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia adalah orang yg
dusta. dan bila ada orang yg mendengar si pendusta itu, maka merekalah
orang-orang yg dungu.  Sungguh kasihan..orang yg menerangkan sesuatu
dan yg diterangkan sesuatu, bila ternyata keduanya sama2 tidak
mempunyai ilmu pengetahuan tentang sesuatu yg diterangkan itu."  
Hehehehe.. aku jadi pingin ketawa2 sendiri.. ternyata lucu juga
ya..??bagaimana mungkin kita bisa menolak or memberikan argumen untuk
membenarkan sesuatu yg ternyata salah, bila kita sendiri tidak punya
kemampuan ataupun pengetahuan akan sesuatu yg sedang diterangkan itu?
Hhmm..aku semakin mengerti, kenapa selama ini guruku sering marah2 ke
aku, dan minta agar aku jangan terlalu banyak bicara, karena takut
kalau ternyata apa yg aku bicarakan adalah sebuah kesalahan dan aku
tanpa sadar sedang menyesatkan banyak orang. Dan aku semakin mengerti,
kenapa beliau hati2 sekali dalam berkata dan bersikap, sedangkan akupun
melihat banyak orang yg dengan Pdnya berkata dan bersikap, padahal
sebatas pengetahuanku selama ini, apa yg dikatakan dan disikapi oleh
orang itu adalah sebuah kesalahan.
Dan aku jadi semakin takut, dimanakan sebenarnya posisiku sebagai orang
yg dikategorikan menjadi 4 jenis tsb?? Jenis yg tahu kalau dirinya itu
tidak tahu kah.??, ataukah kelompok yg tidak tahu kalau dirinya itu
tidak tahu&#8230;??  Astagfirullah. .astagfirullah. .astagfirullah.
.aku semakin yakin akan hadist yg berbunyi 

"akan ditemukan satu zaman, dimana orang lebih senang menggembalakan
ternaknya ke atas bukit, hanya sekedar menyelamatkan agamanya dari
fitnah."

Atau kelompok yg diriwayatkan dalam hadist

"suatu saat akan bertemu zaman dimana anak2 muda yg meneriakan
kebenaran sebatas tenggorokannya, namun ternyata mereka lepas dari
islam seperti anak panah yg melesat dari busurnya"
dan hadist lain yg berbunyi 

"sesungguhnya umatku akan dirusak oleh 2 jenis kelompok manusia yaitu
orang awam yg bodoh dan orang alim yg jahat"
hmmm..aku jadi semakin takut, dimanakah posisi ku yg sebenarnya dan
kebanyakan umat muslim saat ini?? Dan aku jadi semakin yakin akan sabda
Rasulullah yg mengatakan 

"bahwa umatku akan terpecah menjadi 73 golongan yaitu 1 masuk syurga
dan 72 neraka"

bila Rasulullah sudah mengatakan perpercahan tersebut, mengapa kita
masih bersikap lugu dan seolah2 tidak tahu akan peringatan Rasulullah
tersebut?? Masihkah kita bermimpi dan berharap agar umat muslim tidak
berpecah?? Hmm..aku jadi teringat lagi akan nasehat Rasulullah yg
mengatakan 

"gigitlah erat sunnahku walau harus dengan gigi grahammu, dan
genggamlah erat sunnahku walau seperti engkau menggenggam bara api"
hmm..apapun yg diberitakan oleh Allah dan RasulNya, akan terjadi
walaupun jatuhnya selembar daun di atas bumi. Termasuk dimanakah posisi
kita selama ini?? Dan kenyataannya saat inipun adalah yg tahu ternyata
tidak juga berani untuk mengungkapkan kebenaran yg diketahuinya, dan yg
tidak tahu dengan Pdnya berbicara dan mengumumkan kebenaran yg
diyakininya.

beranikah kita mengkoreksi diri kita? atas apa yg sudah terjadi selama
ini? kekacauan ini,  siapakah penyebabanya? orang tua kita kah?
keluarga kita kah? lingkungan bergaul kita kah? atau diri kita sendiri
yg menimbulkan banyaknya kekacauan ini. dan maukah kita untuk selalu
mengkoreksi diri dan menerima kebenaran, andai kita tahu kalau ternyata
selama ini kita adalah salah? bahkan menimbulkan banyak kesalahan,
karena ketidak tahuan kita? 

Ini perenunganku aja..yg benar tentunya dari Allah yg salah sudah pasti
dari diriku yg selalu ingin mencari tahu kebenaran dan merapatkan diri
untuk selalu belajar pada kebenaran dari orang2 yg tahu akan kebenaran.
Allahu a&#8217;lam bisowab

Kamis, 31 Mei&#8217;07
by
hana


"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"

Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
http://sudjanamihardja.multiply.com
http://imanov.jeeran.com
phone: +49 241 1 89 93 69
mobile: +49 1 76 63 01 56 79


                
___________________________________________________________ 
Copy addresses and emails from any email account to Yahoo! Mail - quick, easy 
and free. http://uk.docs.yahoo.com/trueswitch2.html

Kirim email ke