A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ada 3 alternatif: stress, gila, atau sadis...:) Kalau marinir menembak ke atas atau ke bawah (ke kaki), tidak mungkin ada orang salah tembak.
YHG: Kalau ulasan kemarin seakan-akan dibuat oleh Jaksa rangkap Hakim, maka sekarang uraian dari Psychiater rangkap Dukun Ramal .... he he he .... -------------------- AN: Tapi memang tembakan itu diarahkan lurus ke badan orang. Jadi sejauh apa pun selama dalam jarak tembak tetap kena. YHG: Nah, kalau kesimpulan seperti ini biasanya diumumkan oleh Dokter Forensik ..... --------------------- AN: Ini memang sudah bertahap. Dari penggusuran kemudian berakhir ke penembakan. Kasus ini bukan cuma sekali terjadi. Tapi berkali2 baik di Sulsel, Pasuruan, dan juga di Ujung Kulon. YHG: Tidak ada penembakan dalam unjuk rasa ratusan warga dari sejumlah desa di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon Senin (4/6), yang pasti kemarin ini belum ada penembakan. Entah nantinya, kalau para spekulan tanah mengompori warga untuk menjadi beringas dan anarkhis, agar supaya jatuh korban, sebagai tumbalnya "Landreform". Kasus-kasus sengketa tanah semua polanya sama, siapa gerangan yang merancang blue print-nya??? ---------------------------- AN: Bahasa yang dipakai bukan bahasa kemanusiaan. Tapi bahasa peluru...:) YHG: Gerakan-gerakan revolusioner memang tidak boleh dibiarkan tumbuh, harus segera ditumpas. Mudah-mudahan masyarakat sadar bahwa mereka hanya dipakai sebagai bemper dan tumbal revolusi.

