*http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0706/09/125556.htm

**
Lukisan Affandi Pernah Diremehkan**

Laporan Wartawan Kompas Yurnaldi

JAKARTA, KOMPAS*- Di masa mudanya, karya-karya Affandi, pelukis humanis yang
sudah tidak asing lagi di Indonesia dan dikenal luas di dunia, ternyata
pernah diremehkan. Yang meremehkan KBRI di Paris, yang mengonggok lukisan
sang maestro itu di gudang. Padahal Paris, Perancis, terkenal sebagai
kota/negara dengan pusat kebudayaan dan keintelektualan dunia.

Kenyataan itu diungkapkan Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan
kebudayaan, pada diskusi pameran "Imagined Affandi", memperingati 100 tahun
Affandi, di Gedung Arsip Nasional, Sabtu (9/6).

"Ketika saya studi S3 di Sorbonne, Paris, ketika saya belajar di ruang bawah
tanah Kedutaan Besar yang difungsikan sebagai gudang, saya menemukan lukisan
cat minyak dan sketsa-sketsa dari Affandi, berupa gulungan kanvas dan
lipatan, teronggok begitu saja bagaikan sampah," kenangnya.

Menurut Daoed, lukisan itu tak sempat dibawa pulang Affandi karena bagasinya
di pesawat sudah overweight. Ia tidak punya uang untuk membayar denda
kelebihan barangnya dan lalu menyerahkannya kepada mahasiswa yang
mengantarnya ke bandara, dengan pesan supaya menyerahkan lukisan itu ke
kedutaan. Karena bukan inventaris KBRI, lukisan Affandi ditaruh di gudang.

"Temuan itu saya laporkan ke Bung Salim, pelukis Indonesia yang sudah
bermukim di Paris sejak muda dan kini menjadi staf lokal KBRI. Bung Salim
berjanji akan mengirim lukisan-lukisan itu ke Jakarta, dengan uang sakunya
sendiri, kalau birokrasi KBRI tidak menyanggupinya," ungkap Daoed.

Daoed Joesoef yang juga pelukis dan pernah melukis istri Affandi dua kali
dan kemudian dibuatkan masakan khusus berupa sup oleh istri Affandi, pernah
diajak Affandi menemui Presiden Soekarno di Istana Negara. Affandi ingin
menjual lukisannya kepada Presiden karena istrinya sakit berat dan perlu
uang untuk dokter dan beli obat.

Bung Karno merasa tidak mempunyai uang tunai yang cukup ketika itu, lalu
menawarkan kepada Affandi pulpennya, yang berukir nama Soekarno sebagai
pembayaran. Affandi menolak, karena ia butuh uang bukan pulpen. "Jawab
Affandi, ketika itu, ia tidak tahu dimana bisa menjualnya. Lagi pula
jangan-jangan dituduh mencuri," ujar Daoed. Mendengar jawaban itu, Soekarno
tertawa terbahak. Affandi juga tertawa terbahak kemudian.

Tapi akhirnya, Soekarno memilih sebuah lukisan yang ditawarkan dan
memberikan sebuah amplop kepada sang pelukis, yang katanya uang yang
dipinjam dulu dari Bu Fat, diambil dari uang belanja sehari-hari. Kekurangan
dijanjikan diangsur bulan depan. Soekarno juga perintahkan dokter
kepresidenan supaya memeriksa Bu Affandi di rumah.

Daoed mengaku kagum dengan Affandi, karena begitu mudahnya bertemu Presiden.
Padahal, orang lain sangat susah bisa bertemu presiden. "Saya pernah usulkan
agar Pemerintah mengirim Affandi berpameran di luar negeri, agar Indonesia
dikenal luas di kalangan internasional dan dengan demikian menguak habis
kebohongan Belanda yang selalu mengecilkan martabat bangsa kita," tambahnya.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke